Kereta Ramadhan
Hatiku
Tanganku
Mataku
Pikiranku
Wajahku
Telingaku
Kaki, kulit, lidah
Mereka sudah kuajak berpuasa, SEPARUHNYA.
Aku, berhasil menaklukkan diri dan hawa nafsuku, SETENGAHNYA.
Aku, mencari TUHAN.
Sementara sujudku masih kurang khusyuk pada-NYA.
Tahun depan, akankah kau datang lagi padaku?
Kereta itu segera berangkat.
Ujar malam untuk yang ketiga kalinya.
Kututup buku harianku.
Kerinduan yang kubisikkan dalam do’aku setiap malam pada-NYA.
Hitungan Tarawih, Tahajjud, dan Tadarus, yang tidak tercatat disana.
Aku berharap, Malaikat akan mencatatkannya untukku.
Kereta itu akan segera berangkat.
Kereta Ramadhan.
Rori Windrasari Safitri, ASN Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan yang aktif menulis puisi.
Halaman
1 2

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.