Kereta Ramadhan
Karya Rori Windrasari Syafitri

Keretanya hampir berangkat
Ujar malam kepada senja
Aku, tertunduk diam, nyaris menangis
Apa aku terlambat lagi? pikirku

Keretanya hampir berangkat, lekaslah
Suara malam terdengar lagi
Kuraih buku catatan harianku
Coretan bulan lalu, tertulis di sana
“ESOK RAMADHAN”

Kereta itu, mungkin benar aku melewatkannya lagi
Yaa, mungkin benar
Sebab sepertinya, hawa nafsu masih tersisa tepat di hatiku

Dengkiku
Malasku
Dustaku
Hasratku
Tamak dan serakahku
Kesombonganku

Ya, aku sudah membakarnya dengan api yang menyala-nyala
Namun mungkin, api itu padam saat mereka baru terbakar setengahnya
Tuuuuutt, Kereta mulai menyala, pertanda ia akan segera pergi
Mungkin esok, atau lusa?
Kuraih pena, lalu kutulis catatanku hari ini

Baca Juga  Sympnoni