Air Mata di Ujung Malam Seribu Bulan
Wajahnya kadang berkerut sangat menerima laporan dari bawahannya.
“Kalau begitu, kita harus cepat melapor kepada Pak Camat sehingga ada langkah antisipasi dan aksi dari Pak Camat,” ujar Pak Lurah sambil mengajak para RT dan RW ke Kantor Kecamatan.
Mereka kaget saat tiba di Kantor Kecamatan. Tampak para Lurah beserta perangkatnya dari Kelurahan lainnya telah memenuhi aula Kantor Kecamatan.
Pak Camat tampak sangat cermat mendengar laporan yang datang bertubi-tubi dari para lurah beserta perangkatnya tentang tangisan massal yang dialami warganya.
“Saya sungguh sangat heran. Kok ada warga yang menangis secara massal pada malam yang sangat indah ini. Padahal besok adalah hari kemenangan akan tiba. Hari Idul Fitri. Hari lebaran,” cetusnya usai menerima laporan dari perangkatnya.
“Saya akan segera menghadap Pak Bupati malam ini. Saya akan laporkan kejadian luarbiasa malam ini,” kata Pak Camat di hadapan para perangkatnya.
Pak Camat kaget setengah mati saat tiba di Pendopo dinas rumah Bupati.
Sejumlah Camat telah memenuhi aula Pendopo rumah dinas Bupati. Para Camat melaporkan soal tangisan para warganya.
Pak Bupati tampak saksama mendengar laporan dari para Camatnya.
“Saya harus meneruskan laporan ini kepada Pak Gubernur dan minta arahan apa yang harus kita lakukan atas kejadian yang sangat luarbiasa ini. Saya yakin Pak Gubernur ada solusi dalam mengatasi kejadian tangisan massal di Kabupaten kita,” jelas pak Bupati di hadapan para Camat.
Pak Bupati tampak kaget saat tiba di rumah dinas Gubernur. Sejumlah Bupati melaporkan topik yang sama dengan yang hendak dilaporkannya.
Soal tangisan warga.
“Ini kejadian luar biasa. Dan harus segera diaksikan dengan tindakan luarbiasa pula. Dan saya malam ini akan segera melapor kepada Pak Menteri terkait tangisan massal ini. Jangan sampai Pak Menteri berasumsi, saya dan kita membiarkan aksi massal tangisan warga malam ini,” ungkap Pak Gubernur.
Pak Menteri tampak manggut-manggut mendengar laporan yang masuk dari para gubernur. Usai semua laporan masuk dari Gubernur, Pak Menteri langsung ngacir ke Istana.
Tujuannya cuma satu. Melaporkan kejadian luar biasa berupa tangisan massal yang menimpa para warga kepada Pak Presiden. Sejumlah catatan telah disiapkannya sebagai bahan pembicaraan.
“Lapor Pak Presiden. Alhamdulillah, saya sudah tahu sebab musababnya para warga menangis massal pada malam ini, pada malam takbir ini,” ungkap Pak Menteri dengan nada suara penuh kewibawaan.
“Oh, ya,”ujar Presiden.
“Penyebabnya?” tanya Presiden.
“Malam ini kan malam terakhir bulan Ramadan. Para warga sedih karena ditinggal bulan Ramadan,” jelas Pak Menteri.
” Ooh…,” jawab Pak Presiden.
“Saya pikir para warga mengangis massal malam ini karena saya mau mengakhiri jabatan saya sebagai Presiden,” lanjut Pak Presiden.
Pak Menteri cuma terdiam mendengar jawaban Pak Presiden.
Malam semakin menjauh. Suara takbir berkumandang dari masjid-masjid dari berbagai penjuru. Sangat religius. Penuh harmoni surgawi. Sakralkan alam raya.
Toboali, 29 Ramadan 1444 H/20 April 202
Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.