Membukukan Toboali dalam Panggung Hari Buku Sedunia
Oleh: Rusmin Sopian
OPINI, tanggal 23 April oleh Unesco dijadikan sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day).
Dan setiap tahun, momentum besar ini, selalu dirayakan para penggiat dan komunitas buku di seluruh dunia.
Tak terkecuali di Indonesia, momentum World Book Day dijadikan momentum untuk mempromosikan budaya membaca, penerbitan dan hak cipta.
Hari buku sedunia adalah momen yang tepat untuk merayakan pentingnya membaca, menumbuhkan minat baca anak-anak, dan mempromosikan cinta sastra serta integrasi seumur hidup ke dalam dunia kerja.
Melalui membaca dan merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, kita dapat membuka diri untuk orang lain terlepas dari jarak.
Kita dapat melakukan perjalanan berkat imajinasi.
Di Indonesia, peringatan baru Hari Buku dimulai tahun 2006 yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca.
Peringatan ini dibuat dengan harapan dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.
Berdasarkan data Unesco dari 1.000 penduduk Indonesia yang minat membaca hanya satu orang atau perbandingannya 1000:1. Kemudian dari sisi jumlah buku, 1 buku dibaca 15 ribu orang padahal yang seharusnya menurut Unesco, 1 buku hanya dibaca untuk 2 orang.
Selain itu, tingkat akses masyarakat Indonesia terhadap buku juga masih sangat kecil, yakni berkisar 41 persen. Rata-rata hanya 2 persen dari masyarakat Indonesia yang datang ke perpustakaan.
Sebagai penulis kampung, penulis merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan World Book Day yang diselenggarakan Komunitas Rumah Dunia di Serang Banten. Setidaknya tahun 2017 dan 2018, saya berkesempatan mengikuti kegiatan akbar literasi itu di komunitas yang dipimpin oleh sastrawan Nasional Gola Gong yang kini diamanahi jabatan sebagai Duta Baca Indonesia menggantikan Najwa Shihab.
Penulis selalu mengenang kegiatan World Book Day sebagai kegiatan literasi yang paling istimewa dalam hidup dan kehidupan literasi.
Setidaknya saya bisa bertemu dengan para penulis top markotop dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki karya buku yang istimewa.
Dalam setiap event World Book Day, setidaknya penulis bisa mengenalkan kota penulis, Toboali kepada kawan-kawan penulis buku yang berasal dari seantero nusantara dan para pesohor yang datang sebagai pembicara.
Setidaknya penulis tidak hanya menuliskan frasa mengenalkan Toboali lewat time line di media sosial. Ada aksi ril kata kawan-kawan. Bukan sekadar bernarasi di media sosial.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.