Oleh: Meilanto

1. Makan dengan posisi kayu terjuntai, apabila ke sungai maka diincar buaya.

Dulu, masyarakat Bangka masih tinggal di rumah panggung. Tinggi rumah sekitar 1-1,5 meter dari tanah. Perilaku makan dengan kaki terjuntai ditinjau dari etika tidak baik. Kawanan kera menjadi santapan empuk buaya.

Kera-kera yang sering dekat sungai sering menjadi santapannya. Kera-kera bergelantungan di pohon dan dahan kayu. Begitu juga manusia dengan kaki terjuntai. Kaki yang terjuntai akan dianggap buaya seperti kera.

2. Tiduk dekat tiang.

Dari segi etika, tidur dekat tiang kurang bagus. Banyak orang mempercayai bahwa tiang adalah tempat para jin dan sejenisnya untuk berdiam diri. Jika tidur dekat tiang maka dipercayai akan diganggu oleh jin.

Baca Juga  Ketika Banjir Tak Lagi Sekadar Air: Pangkalpinang dan Perang Sunyi antara Manusia dan Alam

3. Makan dak usah nyekop

Makan secara langsung dari panci dari tinjauan etika tidak sopan. Karena panci bukan untuk makan secara langsung.

Tetapi panci digunakan untuk memasak. Orang-orang tua mempercayai kalau makan secara langsung dari panci maka orang tersebut sulit menerima pelajaran atau ilmu.

Pantangan ini sebagai bentuk larangan dari orang tua bahwasanya makan langsung dari panci tidak sopan.

4. Ngambil sambal langsung makan dari lesung batu.

Ditinjau dari segi etika, perilaku ini tidak sopan atau kurang baik. Sebaiknya sambal dari lesung batu dipindahkan ke wadah lain terlebih dahulu. Jika Jika pantangan ini dilanggar, maka muncul kepercayaan akan membuat seseorang lambat menerima ilmu atau nasihat.

Baca Juga  Pj Gub Ancam Pecat Jika Terbukti Ada Tekanan, Yudiansyah: Saya Tidak Ada Intervensi Siapapun

5. Urang bunting dilarang nutup lubang.

Lubang yang dimaksud adalah lubang keluar masuk binatang atau saluran air. Perempuan yang menutupi lubang dipercayai akan sulit untuk melahirkan.