Oleh: Agustian Deny Ardiansyah, SPd

OPINI, TIMELINES.ID — Bumi merupakan bagian dari galaksi bima sakti yang terbentuk sekitar 4, 54 milyar tahun yang lalu melaui akresi nebula matahari yang diawali oleh ledakan titik tunggal yang disebut dengan Big Bang.

Ledakan tersebut membentuk sistem tata surya yang terdiri dari satu bintang yang disebut Matahari dan delapan planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Sartunus, Uranus, dan Neptunus.

Bumi merupakan satu dari delapan planet yang memiliki rancangan planet paling sempurna di antara planet lainya.

Bumi menempati uratan ke tiga di mana letak tersebut memberikan arti tidak terlalu jauh dari matahari dan tidak terlalu dekat dengan matahari.

Bumi juga memiliki daya gravitasi yang tidak terlalu besar atau terlalu lemah sehingga dapat mengikat gas-gas yang berada di atmosfer dan memungkinkan munculnya kehidupan tingkat tinggi.

Ilmuan berpendapat, Bumi mengalami beberapa fase sebelum terbentuk pada kondisi sekarang.

Bumi merupakan rangkaian keseimbangan yang terbentuk secara berkesinabungan atara semua elemen yang terbentuk ketika fase awal pembentukannya, yaitu tanah, air, dan udara.

Elemen tersebut saling mengikat hingga membentuk siklus global yang secara terus menerus membentuk kondisi lingkungan Bumi.

Bumi pada fase awal hanya berupa jajaran gunung berapi aktif sehingga tidak nampak kehidupan berarti.

Gunung berapi merupakan bagian alam yang berfungsi menghamburkan berbagai bebatuan yang muncul dari kedalaman, retak, hancur atau menyebar.

Menjadi butir-butiran kecil dan menjadi bagian dari proses pelapukan untuk membentuk komposisi dasar tanah di bumi.

Baca Juga  Hari Buku, Apa Kabar Minat Baca Kita?

Gunung berapi pada fase awal juga menghasilkan asap yang membentuk atmosfer Bumi.

Atmosfer yang pekat, tebal, dan penuh dengan uap air serta karbondioksida.

Uap air mengembun dan terjatuh menjadi hujan besar, dengan jarak yang tepat dengan matahari tidak terlalu jauh tidak terlalu dekat, bumi memiliki keseimbangan sempurna untuk menyimpan air dalam bentuk cair.

Lingkaran air bumi adalah proses pembauran terus-menerus yang disebut dengan siklus hidrologi, yaitu air jatuh, air menguap, awan, hujan, mata air, sungai, laut, samudra, gletser.

Siklus hidrologi tersebut tidak pernah hancur sehingga selalu ada jumlah air yang sama di bumi.

Hal tersebut memberi arti, semua spesies di Bumi telah meminum air yang sama selama fase pembentukan Bumi hingga sekarang.

Air merupakan komponen dasar alam yang dapat menabrak batasan-batasan serta dapat mengeluarkan kandungan mineral dari batuan Bumi.

Mineral tersebut kemudian terbawa oleh aliran air dan terkosentrasi di laut sehingga membuat air laut menjadi asin.

Lalu, bagaimana kehidupan menjadi ada? bila tidak ada oksigen? Kehidupan primitif sudah muncul sejak bumi masih panas yang disebut dengan Archeobakteria dan Cynobakteria.

Mereka memiliki kemampuan mengubah cahaya matahari dan menangkapnya menjadi tenaga.

Mereka merupakan nenek moyang yang penting untuk semua spesies tumbuhan dan menjadi bagian peting dalam mengubah takdir bumi.

Tumbuhan hidup dari tenaga matahari yang membuatnya bisa memecahkan molekul air dan mengambil oksigennya untuk mengisi udara.

Lalu, bagaimana karbondioksida yang meracuni Atmosfer?

Baca Juga  Laut Babel Milik Siapa?

Karbondioksida dikurung oleh debu-debu Bumi, di mana diserap oleh mikro organisme yang menumbuhkan cangkang dengan menyerap karbon atmosfer yang sekarang larut di dalam air laut.

Karbondioksida juga terkurung dalam tumbuhan, di mana tersimpan secara rapi selagi tidak terbakar.

Berkat peran mereka, karbondioksida di Atmosfer menghilang sehingga memunculkan kehidupan lain di bumi.

Mesin dari kehidupan ini adalah sambungan yang semuanya terhubung dan tak ada yang sendirian, air dan udara tak terpisahkan tapi bergabung dalam kehidupan kita di Bumi untuk berbagi segalanya.

Algea yang mewarnai laut dan tumbuhan yang terhampar di seluruh daratan menghasilkan oksigen yang ditangkap oleh paru-paru kita dan mahluk hidup lainya di Bumi.

Bumi menghitung waktu dalam milyaran tahun untuk menumbuhkan pepohonan yang menghasilkan kayu serta dedaunan, di mana ketika hancur berubah menjadi campuran air dan mineral tanah.

Tanah penuh dengan kegiatan mikro organisme yang menghasilkan humus serta zat kehidupan, sehingga membuat lapisan tanah menjadi subur dan menghasilkan kehidupan baru di permukaannya.

Apa yang kita ketahui tentang kehidupan di Bumi? berapa spesies yang kita ketahui? apa yang kita tahu tentang ikatan yang menghubungkan setiap mahluk hidup di Bumi?

Bumi adalah keajaiban kehidupan yang tetap menjadi misteri.

Pertanyaan dan pernyataan tersebut memberi arti, kehidupan Bumi bergantung pada keseimbangan di mana setiap mahluk memiliki perannya sendiri dan muncul karena keberadaan mahluk hidup lain.

Oleh karena itu, kita sebagai mahluk berakal harus selalu hidup selaras dan seimbang dengan alam.

Baca Juga  Tanggung Jawab Kurator terhadap Kerugian Kreditur dalam Proses Kepailitan

Allah SWT berfirman, demi langit yang mengandung hujan dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan (QS Ath Thaariq:11-12).

Ayat tersebut menegaskan bahwa langit merupakan tempat hujan terjadi, namun proses yang mengawali terjadinya hujan tidak begitu saja.

Tetapi melalui proses yang panjang dari penguapan air laut, awan, yang kemudian menjadi hujan.

Hujan yang terjadi kemudian memberi kehidupan bagi Bumi dengan munculnya berbagai tanaman.

Surat Ath Thaariq ayat 11-12 memberi makna, kehidupan di bumi tidak dapat dilakukan begitu saja, tetapi membutuhkan harmonisasi elemen lain untuk terjadi kehidupan.

Hal tersebut juga menegaskan, bahwa Bumi membutuhkan keseimbangan untuk dapat terus bertahan.

Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (QS Al Baqarah:29) dan ditegaskan Allah SWT dalam firmanya yang berbunyi dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan (QS Al Syuuara:183).

Kedua surat di atas memberi magna, manusia sebagai mahluk berakal yang diciptakan oleh Allah SWT diperbolehkan memanfaatkan segala yang ada di Bumi dengan tidak berlebih-lebihan agar tidak membuat kerusakan di Bumi.

Namun, ketika manusia baru menempati Bumi sekitar 200.000 tahun, manusia telah berhasil mengganggu keseimbangan yang menjadi inti kehidupan.

Hal tersebut bersesuaian dengan firman Allah SWT yang berbunyi, telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.

Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (QS AR Ruum:41).