Setelah Abok Pate meninggal dunia, kegiatan Taber Kampung dipimpin oleh Abok Pengurus.

Beliau adalah anak murid dari Abok Pate. Kegiatan Taber Kampung tetap dilaksanakan. Air yang digunakan untuk menaber dicampur dengan tanah kubur yang diambil dari kubur Abok Pate.

Kegiatan Taber Kampung dilakukan saat memasuki bulan suci Romadhon.

Kegiatan ini bertujuan supaya kampung menjadi adem dan warga yang mendiami pondok menjadi tenang menjalankan ibadah puasa.

Taber Kampung juga bisa dilaksanakan diluar jadwal yang telah ditentukan misalnya penduduk di suatu kawasan terkena suatu penyakit yang korbannya banyak orang.

Atau bisa juga untuk mengusir kesialan supaya kawasan tersebut menjadi tentram.

Pasca Perang Bangka II tahun 1848-1851 dengan tertangkapnya Depati Amir dan Hamzah sebagai pemimpin perang melawan tentara Belanda, keduanya pun diasingkan ke Kupang Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga  Jokowi Ingatkan Golkar Agar Cermat Memilih Capres dan Cawapres 2024

Penduduk yang tersebar di beberapa kawasan dipaksa oleh Belanda untuk membuat pemukiman baru di jalan-jalan raya yang dibuat oleh Belanda.

Rumah-rumah membentuk pola memanjang pada sisi kiri dan kanan jalan raya.

Atas kesepakatan warga, kampung tersebut diberi nama Namang, Pemberian kata “Namang” karena di kawasan kampung tersebut banyak tumbuh kayu namang.

Tradisi Taber Kampung masih tetap dilaksanakan di kampung Namang walaupun Abok Pengurus telah meninggal dunia.

Kegiatan tetap dipimpin oleh tokoh agama. Setiap sudut rumah yang ditaber dengan air yang dicampur dengan tanah kubur Abok Pate, para penduduk lainnya di belakang sang tokoh agama sambil bersholawat dan melantunkan barzanji.

Setelah itu baru kegiatan nganggung.  Menurut Mang Azwar, tradisi Taber Kampung terakhir kali dilaksnakan pada tahun 1980. Kegiatan itu terhenti karena ada anggapan bahwa kegiatan Taber Kampung keluar dari ketentuan agama dan berbau syirik.

Baca Juga  Diasingkan untuk Menjadi yang Terbaik

Meilanto, Penulis warga Desa Jelutung Kecamatan Namang