Sebagian besar tulisan Amir diterbitkan dalam Poedjangga Baroe, meskipun beberapa karya sebelumnya diterbitkan dalam Timboel dan Pandji Poestaka. Tidak ada karya kreatif-nya yang bertanggal, dan tidak ada konsensus mengenai kapan setiap individual puisi ditulis.

Meskipun demikian, terdapat konsensus umum bahwa karya-karya yang termasuk dalam Nyanyi Sunyi ditulis setelah karya yang termasuk dalam Buah Rindu, meskipun Buah rindu diterbitkan terakhir. Johns menulis bahwa puisi dalam koleksi tersebut muncul seperti diatur dalam urutan kronologis, ia menunjuk ke berbagai tingkat kematangan yang ditunjukkan Amir kala tulisannya berkembang.

Jassin menulis bahwa Amir mempertahankan identitas Melayu di seluruh karya-karyanya, meskipun menghadiri sekolah yang dikelola oleh orang Eropa. Berbeda dengan karya-karya rekan sezamannya, Alisjahbana atau Sanusi Pane, puisi-puisi Amir tidak memasukkan simbol-simbol modernitas Eropa seperti listrik, kereta api, telepon, dan mesin, yang memungkinkan “Alam dunia Melaju masih utuh…” dalam puisinya.

Baca Juga  Gigil Rindu

Pada akhirnya, ketika membaca puisi Amir, “Membatja sadjaknja diruang fantasi kita tidak terbajang lukisan seorang jang berpantalon, berdjas dan berdasi, melainkan seorang muda jang berpakaian setjara Melaju.” (“dalam imajinasi kita tidak melihat seorang pria bercelana, jaket, dan dasi, namun pemuda dalam pakaian tradisional Melayu”.

Mihardja mencatat bahwa Amir menulis karya-karyanya pada saat teman-teman sekelas mereka, dan banyak penyair lain, “… mentjurahkan isi hati dan buah pikiran” (“mencurahkan hati atau pikiran mereka”) dalam bahasa Belanda, atau jika “… melepaskan dirinja dari belenggu Bahasa Belanda” (“mampu membebaskan diri dari belenggu Bahasa Belanda”), dalam bahasa lokal Nusantara.

Karya Amir sering berurusan dengan cinta (baik erotis dan ideal), dengan pengaruh agama ditunjukkan dalam banyak puisinya. Mistisisme adalah penting dalam banyak karyanya, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam. Pada setidaknya satu cerita pendek, ia mengkritik pandangan tradisional bangsawan dan “merongrong representasi tradisional karakter wanita”.(***)

Baca Juga  Karya Sastranya Banyak Diterjemahkan Ke Bahasa Asing, Ini Profil Sastrawan Terkenal W.S. Rendra