Mendadak Jadi “Dosen” di UBB: Aah, Rasanya Tak Percaya
Mendadak Jadi “Dosen” di UBB: Aah, Rasanya Tak Percaya
BANGKA, TIMELINES.ID — Bagaimana rasanya dikelilingi para dosen yang rerata bergelar doktor?
Bagaimana rasanya berbicara di hadapan para dosen dan mahasiswa S1 sedang kamu hanya tamatan D3?
Minder sudah pasti, malu? Aahh, benar-benar tak terbayang.
Sepekan lalu saya dihubungi Dr Darus Altin, seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung.
Ia memang rutin menulis artikel opini di timelines.id.
Di sambungan telepon ia mengajak saya untuk menjadi salah satu narasumber di acara Gerakan Intelektual FE Menulis (Gifelis) di UBB.

Saya terkejut. Apakah benar ajakan pak doktor ini.
Ia menjelaskan temanya “Membacalah untuk Mengenal Dunia, Menulislah untuk Dikenal Dunia”, sekadar memberi motivasi kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi UBB.
Saya belum mengiyakan. Alasannya karena pekan depan saya diundang liputan di Jakarta.
Saya katakan nanti saya kabari jika memang tak jadi berangkat.
Undangan ke Jakarta itu memang sebenarnya saya pastikan tak bisa berangkat karena saat ini pekerjaan saya cukup padat.

Beberapa hari kemudian saya kembali ditelpon Dr Altin. Ia ingin memastikan saya bisa atau tidak menjadi salah satu narasumber di acara itu.
Meski agak ragu, akhirnya saya jawab bisa.
Dr Altin mengatakan pembicaraan nanti yang ringan-ringan saja, bentuk motivasi menulis kepada para mahasiswa.
Ia pun meminta saya mengirimkan foto untuk dibuatkan flyer untuk acara itu.
Perasaan masih tak menentu, apakah saya bisa menjadi narasumber di panggung perguruan tinggi?
Ahh sudah lah, mau bisa apa gak, nanti dulu urusannya, yang penting maju dulu.
Kamis siang akhirnya saya kirim foto ke Dr Altin. Foto itu menandakan bahwa saya siap hadir di acara itu.
Hanya sekitar dua jam, saya kembali dikirim flyer kegiatan oleh Dr Altin.
Di situ saya terkejut. Lima orang di foto flyer semuanya bergelar doktor bahkan seorang profesor.
Nah, saya hanya seorang D3, S1 juga gak tamat.
Perasaan minder makin jadi. Acara tinggal tiga hari lagi.
Mau dibatalkan nanti dibilang apa.
Bismillah sajalah. Toh yang disampaikan juga materi tentang baca tulis seperti yang rutin PWI Basel laksanakan baik di Kelas Literasi maupun di PWI Basel Goes to School.
Hanya bedanya, ini panggungnya mahasiswa dan para dosen, itu saja.
Dua hari sebelum acara, saya paksakan untuk membuka-buka materi kegiatan literasi.
Biar jangan stuck saat menyampaikan materi.
Senin (19/6/2023) pukul 09.00 WIB kami bersiap menuju UBB. Tak sempat ngopi pagi itu.
Kopi Warkop Cukin Toboali, kami bungkus. Ya, saya berangkat berdua bersama Angga, wartawan Warta Bangka.
Dia yang nyetir. Jadi saya masih bisa buka-buka materi di perjalanan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.