Di perjalanan tetiba telapak tangan terasa dingin. Apa karena cuaca sedang hujan? Atau karena rasa grogi mulai menjalar hingga ke telapak tangan.

“Ape kita balik ke Toboali bai, Ngga,” ujarku dengan logat Bangka.

“Ha ha ha, jangan ketua. Ketua kan sudah biasa jadi pembicara di acara seperti ini. Cuma beda panggungnya aja Ketua, ini panggung dosen dan mahasiswa. Hari ini ketua jadi dosen dadakan,” jawab Angga sambil tertawa.

Di perjalanan sekitar pukul 11.00 WIB, dapat kabar dari Dr Altin, acara yang semestinya di ruang terbuka tepatnya di Lapangan Basket Fakultas Ekonomi UBB jadi dipindah ke Gedung Timah.

Hujan deras penyebabnya. Ya, memang di perjalanan dari Toboali menuju Pangkalpinang hujan terus mengguyur.

Tiba di Gedung Fakultas Ekonomi UBB persis pukul 13.30 WIB.

Baca Juga  UBB Bangun Masjid Al Madaniah

Panitia dan mahasiswa sedang mempersiapkan ruang acara karena memang lokasinya dipindahkan.

Saya masih sempat diajak ngopi ke ruang Doktor Altin. Ternyata dosen ini perokok. Terlihat ada asbak rokok di mejanya.

“Nah enak nih, bisa merokok dulu,” kataku sambil bergumam dalam hati, lumayan sekadar untuk menghilangkan rasa grogi.

Baru beberapa seruput kopi, rokok pun belum habis sebatang, kami dipanggil salah satu dosen, M Hijran.

Dosen ini juga sering menulis di timelines.id. “Disuruh masuk Pak, acaranya sudah mau mulai,” ujarnya.

Saya masuk ruangan bersama Dr Altin. Di sini sudah ada puluhan mahasiswa serta para dosen.

Dokter Altin mengenalkan saya dengan Dekan Fakultas Ekonomi, Dr Devi Valeriani.

Saya memaksa untuk tetap PD aja. Beberapa kali nama saya dipanggil MC, kosong tanpa gelar.

Saya sebelumnya sudah bilang ke Dr Altin. Gelar saja AMd gak usah ditulis di flyer, biar kosong aja.

Baca Juga  Sastra Siber: Membuka Pintu Baru Menuju Dunia Kreativitas Digital

Acara ini ternyata batal dibuka Rektor UBB Profesor Ibrahim.

Wakil Rektor, Dr Dwi Haryadi penggantinya.

Sebelum menjadi Doktor, dulunya Dr Dwi ini pernah beberapa kali ini berkomentar di status FB ku.

Kami berteman di FB. Sudah lama, wajarlah, pasti Dr Dwi ini lupa.

Acara dimulai. MC yang seorang dosen bergelar S2 ini mulai memanggil satu persatu nama di dalam flyer.

Empat di antaranya bertitel doktor, hanya saya saja yang dipanggil nama tok saja.

Meski minder tak bergelar apapun, tetapi saya PD saja menyampaikan tentang pengalaman gerakan literasi PWI Basel.

Begitu juga tentang artikel-artikel opini yang masuk ke timelines.id.

Saya menyampaikan beberapa artikel mahasiswa terpaksa saya tolak.

Baca Juga  Implementasi Nilai-nilai Sosial bagi Peserta Didik Melalui Unsur Pendidikan di Sekolah

Karena dari 700 kata yang ditulis, tak satupun saya temukan kesalahan baik huruf kapital, EYD, serta kata baku.

Saya bisa memastikan artikel ini adalah copi paste.

Saya katakan, karya seorang doktor pun masih ada salahnya seperti huruf kapital dan kata baku, apalagi mahasiswa.

“Banggalah dengan tulisan kita. Sejelek-jeleknya tulisan ini, tetap tulisan kita, dari pada copi paste,” ujarku memotivasi.

Acara itu berlangsung lancar, dua narasumber lainnya adalah Dr Darus Altin dan Dr Echo Perdana Kusuma.

Ini memang pengalaman pertama saya di panggung akademisi UBB. Masuk ke kampus UBB ini pun baru kali pertama.

Banyak pelajaran yang saya petik hari itu.

Salah satunya adalah pengalaman di lapangan akan membuat kita tetap percaya diri meski berada di lingkungan akademisi yang dikelilingi para doktor, salam literasi.