Hal ini tentunya harus dikusut lebih lanjut demi tumbuh dan berkembangnya budaya-budaya, adat istiadat dan tradisi masyarakat khususnya Bangka Selatan.

Ketika ditinjau secara empiris, bahwa melihat situasi dan kondisi masyarakat saat ini, dapat ditarik point faktor yang melatarbelakangi mulai pudarnya budaya masyarakat ialah Faktor Ekonomi.

Tradisi hikok helawang di Bangka Selatan yang saat ini dirasa mulai pudar di beberapa desa dalam perayaan besarnya ialah disebabkan oleh faktor ekonomi masyarakat daerah setempat.

Tentu saja hal ini menjadi problem yang harus mendapat solusi sehingga masyarakat dapat mengembangkan kembali budaya dalam perayaan tradisi hikok helawang di Bangka Selatan tersebut.

Ketika melihat kondisi perekonomian masyarakat saat ini, bahwasannya memang kondisi perekonomian masyarakatlah yang menjadi faktor utama yang menjadi hambatan masyarakat dalaam melaksanakan perayaan tradisi hikok helawang di daerahnya.

Dalam tradisi hikok helawang bahwa perekonomian masyarakat saat ini menjadi faktor penentu kemampuan masyarakat untuk melaksanakan tradisi tersebut seperti ditahun sebelumnya.

Sebab kondisi masyarakat saat ini, yakni dominan masyarakat tanpa terkecuali Bangka Selatan yang juga mulai sulit memenuhi kebutuhan ekonominya.

Sebab hal tersebut juga dipicu dengan harga bahan pokok dan lainnya yang dibutuhkan masyarakat mulai meningkat dan tidak stabil lagi dengan pendapatan masyarakat terkhususnya Bangka Selatan.

Hal ini tentunya menjadi tanggungjawab bersama untuk mengatasi situasi dan kondisi saat ini.

Sebab perekonomian masyarakat juga akan menjadi pengaruh terhadap kelestarian budaya kita hikok helawang di Bangka Selatan.

Baca Juga  Pertamina Komit Salur BBM Subsidi Tepat Sasaran

Dalam hal ini keterlibatan pemerintah juga merupakan suatu efektivitas yang juga dapat membantu sekaligus mendorong untuk tetap terjaga dan telestarikannya budaya ataupun tradisi kita yakni Hikok Helawang.

Sebab pelaksanaan tradisi hikok helawang yang dulunya semua desaa melaksanakannya dengan perayaan di desa dan mengundang para tamu menghadiri acara terebut di rumahnya, namun saat ini hanya dilakukan di beberapa daerah yang merasa mampu saja untuk mengundang tamu ke acara tersebut karena adanya faktor ekonomi yang kurang mendukung.

Dengan adanya berbagai problematika terutama faktor perekonomian masyarakat yang menjadi penunjanag perubahan pelaksanaan tradisi hikok helawang maka harus menjadi tanggung jawab kita semua juga selaku masyarakat Bangka Belitung untuk saling mendukung kemajuan ekonomi masyarakat di Bangka Belitung.

Selain itu tindakan pemerintah baik itu Pemerintahan Bangka Selatan dan sekaligus Pemerintahan Bangka Belitung juga harus mendukung penuh masyarakat dalam upaya menjaga budaya, adat dan tradisi yang ada di Bangka Belitung.

Pentingnya kebudayaan ialah sebagai ciri khas daerah kita yang harus selalu kita jaga yang salah satunya tradisi unik yang harus kita jaga di Bangka Selatan ialah Tradisi Hikok Helawang.

Sebab budaya-budaya maupun adat yang selalu dilestarikan akan menjadi sebuah sejarah yang akan dilanjutkan oleh generasi-generasi muda terkhususnya di Bangka Selatan dalam rangka menjaga kelestarian tradisi daerahnya.

Sehingga berlandaskan pada Semboyan Bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tungga Ika yang artiannya ialah “Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu juga” bahwa kita yang merupakan daerah daripada wilayah Bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman agama, adat istiadat, budaya, suku, tradisi dan sebagainya sebagai bentuk bahwa keberagaman di Bangsa Indonesia adalah bentuk kesatuan Negara Republik Indonesia.

Baca Juga  Membangun Kesejahteraan Rakyat di Tengah Ancaman Banjir Bandang dan Rusaknya Tata Kelola SDM

Jadi, telah menjadi kewajiban bagi semua masyarakat Indonesia untuk senantiasa menjaga dan melestarikan budaya, adat istiadat, bahkan bahasa daerah sebagai wujud rasa cinta terhadap daerah kita wilayah republik Indonesia.

Sama halnya ketika kita tetap bersama-sama mengupayakan untuk selalu melestarikan budaya atau tradisi kita di Bangka Selatan yaitu hikok helawang sebagai ciri khas adat istiadat Bangka Selatan.

Selain itu bahwa tradisi hikok helawang yang akan tetap kita lestarikan akan menjadi sejarah sekaligus budaya yang akan tumbuh dan berkembang serta menjadi popularitas daerah Bangka Selatan.

Seorang pencinta suatu kebudayaan yang bernama Wendell Pierce pernah berkata “Peran budaya adalah bentuk yang melaluinya kita sebagai masyarakat yang merefleksikannya siapa kita, dimana kita berada, dimana kita berharap.”

Pepatah yang diucapkan oleh seorang budayan tersebut adalah sebagai bentuk motivasi bagi setiap daerah untuk melestarikan budaya, adat istiadat, tradisi bahkan bahasa daerah sebagai wujud rasa cinta terhadap daerah kita dan Bangsa Indonesia.

Sebab wujud rasa cinta terhadap suatu budaya ataupun tradisi tidak hanya selalu dengan membanggakannya melainkan melestarikannya dengan baik.

Pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi hikok helawang di Bangka Selatan tersebut adalah untuk menjaga eksistensi sejarah tradisi hikok helawang serta supaya tradisi tersebut dapat dilestarikan secara turun temurun oleh generasi muda saat ini maupun gemerasi yang akan datang kelak.

Baca Juga  Disnaker Bangka Belitung Terima 9 Aduan Terkait THR Idul Fitri 2023, Berikut Perusahaan Yang Dilaporkan?

Agar para generasi muda nanti tidak lupa dan akan tetap melestarikan tradisi hikok helawang di Bangka Selatan. Karena dalam sebuah semboyan yang pernah diucapkan oleh seorang proklamator kita presiden pertama republik Indonesia Bapak Ir. Soekarno dalam pidato terakhirnya pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 ialah “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah)”.

Maka daripada itu untuk selalu menjaga, melestarikan dan mencintai budaya di Bangka Selatan ialah dengan selalu memperingati budaya tersebut.

Sebuah kata yang menggugah semangat melestarikan budaya khususnya di Bangka Selatan dan tradisi hikok helawang sebagai ciri khasnya ialah “Bendera Merah Putih, Burung Garuda, dan Bahasa Indonesia menjadi ciri khas negara kita Tanah Air Indonesia. Sedangkan Tradisi Hikok Helawang menjadi ciri khas daerah kabupaten Bangka Selatan kita.”

Referensi:

1. Munir Salim.(2016).ADAT SEBAGAI BUDAYA KEARIFAN LOKAL UNTUK MEMPERKUAT EKSISTENSI ADAT KE DEPAN. Vol.5, No.2 Desember 2016. Hlm: 3-9

2. (2018). TERLANGKAP UUD 1945 DAN AMANDEMEN. Laksana.Yogyakarta. Hlm: 22-23

3. Agus Dono Karmadi.(2007)BUDAYA LOKAL SEBAGAI WARISAN BUDAYA DAN UPAYA PELESTARIANNYA.Direktorat Jenderal Kebudayaan: BPNB Di Yogyakarta, 2007. Hlm: 1-5

Penulis adalah Mahasiswa Hukum Universitas Bangka Belitung asal Bangka Selatan