Oleh: Karto, S,Pd., M.M

OPINI, TIMELINES.ID — “Ayah, kenapa Bendera Merah Putih ini harus berkibar di depan rumah kita?”

Mendengar pertanyaan itu, kata pertama yang terucap dari seorang ayah setiap tahunnya selalu sama, ‘ini Agustus, anakku!’.

Berceritalah ia hingga ke akar-akarnya tentang sebuah sejarah, sebuah kegembiraan besar bangsa ini yang disyukuri jutaan umat manusia dari berbagai suku, ras, agama menjadi satu di kala itu.

Cerita tentang sebuah perjuangan dalam menyelesaikan peluang, peluang untuk hidup dengan mandiri, hidup untuk bekerja bagi bangsanya sendiri, perjuangan Bangsa Indonesia untuk hidup merdeka.

Sekarang anak yang bertanya itu telah menjadi seorang ayah dari seorang anak berusia empat tahun yang mungkin belum bisa menanyakan dan mencerna jika diceritakan apa yang diceritakan ayahnya tentang peristiwa tersebut.

Baca Juga  Pantai Tanpa Ruang, Warga Tanpa Arah: Rebo dalam Dilema

Pagi ini, sembari menatap sang merah putih yang telah dipasang dan berkibar diterpa angin pagi ditiang rumah sederhananya, timbul suatu ketakutan dalam hati, kecemasan tentang seorang anak yang sekarang telah menjadi ayah, seorang anak yang dahulunya selalu menemani ayahnya mencari kayu untuk tiang bendera dan menemani memasangkan bendera di depan rumah.

Angin pagi ini seolah berbisik menakut-nakuti, akankah anakmu nanti akan bertanya kembali padamu, kenapa Bendera Merah Putih ini harus dikibarkan di depan rumah kita, ayah? Ataukah ia malah tidak ingin tau sama sekali tentang apa yang dilakukan ayahnya terhadap kain berwarna merah putih yang sangat dihormati ayahnya itu.

Rentang waktu 78 tahun sudah Bangsa ini merengkuh kemerdekaannya semakin membuat gusar batin ini.

Baca Juga  Polarisasi Literasi

Semakin tiada para pejuang yang tersisa, kalaupun ada pasti semakin menua usia mereka dan dengan ingatan yang tak tajam lagi untuk mengingat setiap lekuk perjuangan yang mereka lakukan demi meraih Indonesia seperti sekarang ini.

Banyak pula diantara anak cucunya sekarang ini yang bahkan enggan untuk sekadar memperingati perjuangan-perjuangannya dikarenakan ketidakpuasan atas kepemimpinan sesama bangsa sendiri dan bukan lagi dipimpin bangsa lain.

Hari peringatan ini sering dibenturkan dengan narasi-narasi berupa fakta maupun masih sekadar isu seperti, benarkah kita sudah merdeka, minyak goreng saja langka? Di mana letak merdekanya jika beras saja impor? Apanya yang merdeka, kerja di negeri sendiri saja susah? dan banyak lagi narasi lainnya bermunculan baik sebagai statement langsung ataupun sekadar status di media sosialnya masing-masing.

Baca Juga  Delik Aduan Penghinaan Presiden dalam KUHP Nasional Berseberangan dengan Perlindungan Martabat Negara dan Ancaman Kebebasan Berekspresi

Menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak ambil bagian pada acara peringatan ini dan menularkan kepada generasi-generasi sekarang ini.

Bung Karno memang telah mengingatkan bahwa perjuangan kita sekarang ini akan lebih berat karena melawan bangsanya sendiri dan memang sudah mulai terjadi dengan adanya permasalahan-permasalahan seperti di atas. Kalaupun narasi-narasi yang dibangun itu sebuah fakta, namun ini merupakan perjuangan kita sebagai generasi penerus, perjuangan kita untuk tetap merdeka dalam segala hal, tanpa harus membenturkan dan menganggap bahwa perjuangan para pejuang terdahulu dalam memerdekakan kita di hari ini merupakan perjuangan yang belum usai sehingga tidak harus diperingati.