Meminta Keadilan Peperduur
Aku tahu. Hidup sebagai pribumi rendahan amat sangat menjijikkan.
Kerap kali kami harus menahan hausnya tenggorokan dan melilitnya perut yang kosong.
Tapi kali ini, aku akan bergerak. Aku tahu, jalan kali benar-benar akan sulit untuk ke esok harinya.
*
Memasuki bulan Rajab, hasil panen kami di tahun ini sedikit menurun dibandingkan sebelumnya, akibat musim yang tak menentu dan belum lagi serangan hama tikus semakin membuat kami terpontang-panting membayar upeti kepada petinggi.
Desa kami bisa saja menjadi cerita yang akan hilang ditelan waktu jika saja kami tidak membayar upeti setiap tahunnya, kami hanya menikmati sisa yang kami peroleh dari kerja keras kami sebagai petani lada.
Kami menderita di bawah kekuasaan kolonialisme yang kejam.
Hingga di suatu masa, aku menjadi buronan setelah melakukan perlawanan di dermaga Minto1 ketika kapal itu hendak meninggalkan daratan dengan muatan rempah-rempah dan bijih timah.
Aku membakarnya sampai habis tak tersisa.
“Kau harus bersembunyi Bang,” Mayang cemas ketika aku datang tanpa kabar sebelumnya.
“Aku merindukanmu Mayang,” aku tersenyum, akhirnya aku kembali bertemu dengannya.
“Di sini terlalu berbahaya untukmu, mereka selalu mencarimu dimana-dimana. Aku khawatir”.
“Istriku, tenanglah. Aku hanya ingin melepaskan rindu kepada keluargaku dan bergegas bersembunyi kembali…” jawabku, mencoba menenangkan dirinya.
“Aku bersama seorang pemimpin yang sama-sama berjuang melawan mereka. Dia sangat berwibawa, tegas dan menolak untuk tunduk kepada para petinggi. Kau tak perlu khawatir. Aku akan kembali saat Hari Rayo[4] tiba..”. Sebelum berpamitan, aku mengecup kening istriku; salam perpisahan untuk ke sekian kalinya.
Entah rasanya sepertinya ini adalah perpisahan yang terakhir.
Sebenarnya aku enggan membuat hidup sendiri di tengah masa melahirkan tinggal menghitung hari.
Tapi aku tahu, jalan yang sedang ku tapaki tak selama selalu berujung pada hari yang tenang.
Aku hanya berpesan, sebelum benar-benar berpamitan sekian kalinya. Jika masa di mana aku tidak pernah kembali. Beritakan pada Bapak, aku telah menjadi angin barat yang akan datang setiap masanya.
*
Telingaku samar-samar mendengar lantunan kumandang takbir di malam yang sunyi ini, remang-remang cahaya bulan itu menerangi bilik tahanan yang sedang meringkukku di dalam kegelapan.
Perjuanganku meminta keadilan seperti Peperduur[5] itu seakan berakhir pada akhir kematian yang selama ini menungguku.
Deru suara air membelah sungai ini mengantarkanku pada sebuah pulau yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan.
Aku merasa bersalah pada istriku, bersalah karena tidak menepati janjiku untuk pulang ketika Hari Rayo³ tiba. Aku tidak tahu.
Apakah setelah ini aku akan bisa bertemu lagi dengan nya. Ah, rasanya itu mustahil.
Kudengar, semua orang yang dikirimkan ke pulau itu tidak akan pernah kembali hidup-hidup. Bersama dengan temanku-Ajab, aku berserah diri untuk mati kapan pun.
*
Sudi Setiawan, adalah penulis kelahiran Bangka yang sedang mengenyam pendidikan S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Semangkuk Mi Ayam dan Kenangan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Gong di Bukit Nenek (2023)
Sampul cerita : ilustrasi Kapal Onrust
[1] Minto : Muntok-sekarang
[2]Kati : 1 Kati setara dengan 61/4 ons
[3]Singkek : orang-orang dari daratan China yang terikat kontrak kerja tambang dengan pemerintah Hindia Belanda.
[4] Hari Rayo : Hari besar dalam agama Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha.
[5] Peperduur : Berarti “Semahal Lada” yang pada masa itu memberikan kesejahteraan masyarakat Bangka pada masa kolonialisme. Istilah ini muncul karena lada atau sahang memberikan kemakmuran masyarakat dibandingkan timah.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.