Pesan Laut dari Batara
Obrolan ini ditemani secangkir teh hangat menguap, aku duduk berdua bersamanya-hanya terpisah dengan sekat meja kecil, “… tak pantas diriku menaruh hati kepadamu, Fatmah”.
Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa ia adalah seorang putri saudagar kaya raya dari Campa dan memiliki darah bangsawan, aku semakin mengurungkan niat hatiku.
“Tidak masalah bagiku, terlepas dari kaum rendahan sekalipun. Sekali lagi, tidak masalah bagiku, Batara …”. Fatmah menatapku. “… Aku hanya jatuh cinta, itu saja. Apakah itu kurang?” matanya memerah dan wajahnya lesu, dibanding dirinya, aku sungguh tak siap untuk segalanya, diriku terlalu hina menyukai dirinya.
Perbedaan mencolok ini membuatku makin bimbang. Aku tak bisa melihatmu menjadi omongan buruk di negeri sendiri karena jatuh cinta kepada seorang pedagang rempah sepertiku.
Perasaanmu sangat besar Fatmah, aku tahu itu.
“Aku bahkan sudah mengetahui kabar burung, pernikahan yang akan terjadi dua pihak keluarga yang berbeda keyakinan, bahwa raja dari Wilwatikta[4] yang akan menikahi seorang putri bangsawan dari Campa…,” sahutnya lagi, terus meyakinkanku, sedang aku terlalu takut dengan kekhawatiran yang memenuhi isi ruang dadaku.
“Bukan mereka dari kasta yang sama? Maksudku seorang penguasa Bhumi Jawa yang mempersunting seorang putri bangsawan dari Campa yang sangat dihormati…,” aku sungguh merasa hina ketika kaum rendahan dari kasta Waisya memiliki keinginan memiliki istri dari kasta yang lebih tinggi dariku. Seharusnya aku memperistri kasta Waisya saja.
“Di kepercayaan kami, semua manusia setara. Tiada status sosial dan strata yang berbeda. Kita sama-sama manusia, hanya saja yang membedakan dari mana kita dilahirkan….”.
” Aku ragu Fatmah,…”
Semenjak perdebatan itu, Fatmah kembali berlayar ke negerinya, dengan sejuta rasa cinta yang diletakkan di hatiku tanpa keraguan.
Berharap aku akan menjemputnya, meminta izin kepada orang tua dan memperistrinya.
Aku bisa merasakan ketulusan hatinya, begitu hangat dan menyelaras dalam diriku.
Hubungan kami semakin berat, ketika utusan dari Campa mengetahui bahwa kami memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih.
Fatmah dipaksa pulang oleh utusan orang tuanya secara sepihak, memutuskan kisah asmara dengan diriku-perpisahan yang hanya bisa kuterima dengan perasaan pahit.
Aku dilanda kerinduan teramat dalam berbulan-bulan, di lapak jualanku atau di rumahku sendiri.
Di sela-sela pekerjaanku sebagai penjual rempah-rempah di pinggiran pasar, aku selalu mengirimkan surat setiap angin musim berganti, kutitipkan kepada sahabatku yang gemar berlayar ke negeri Campa dan daratan Yunnan.
Surat yang kutulis itu tentang keresahan hati dan rinduku yang semakin menjadi kepadanya.
Tetapi selama itulah, suratku tak kunjung terbalaskan olehnya, membuatku semakin tersiksa oleh namanya rindu.
*
“Kau sudah siap?” tanya Ulaan, temanku-pedagang ke negeri seberang. Dengan tatapan yang ragu dan khawatir, Ulaan tahu bahwa sebenarnya aku adalah tipikal mabuk laut, apalagi perjalanan kali ini akan memakan waktu cukup lama.
“Aku sudah merindukannya, jadi alasan apalagi yang cukup membuatku tidak melakukan perjalanan ini?” kataku sedikit sombong untuk menutupi rasa ketakutanku dengan hati berdebar ketika berdiri di kapal pinisi yang terombang-ambing ombak.
“Kau harus menahan mual di perut sampai kau bertemu dengannya, Batara…,” memantapkan pikiranku sebelum kapal layar ini perlahan meninggalkan pelabuhan Kalapa.
Di tengah lautan yang membiru, tak satu pun daratan terlihat di ujung sejauh mataku memandang. Hanya kumpulan air mengitari kapal ini terasa kecil di tengah samudra luas.
Ketika malam, langit dihiasi dengan bintang-bintang yang indah, bulan menjadi lebih terang di tengah lautan jika dibanding ketika di daratan, sungguh pemandangan malam yang enggan untuk dilewatkan.
Tetapi ketika hari berganti menjadi siang, suasana akan berubah seperti kiamat yang akan segera datang, ombak yang membabi-buta membentur kapal ini sepanjang melintasinya tanpa ampun, membuat isi perut makin ingin keluar.
Wajahku pucat pasi, mataku menggelap tak bisa tidur, keringat terus jatuh dari pelipis, aku hanya membawa segenap rindu yang sudah memenuhi ruang hati bersama tekadku.
“… seperti kita akan melewati badai, Batara”.
“Apakah itu harus?” aku yang polos menanyakan hal buruk itu seperti tanpa beban.
Ulaan terlihat cemas, bergegas bertanya kepada pengemudi kapal yang mencoba bertahan dari amukan yang segera datang. Hanya satu yang kutangkap, wajah kecemasan dari semua awak kapal.
*
Aku ketakutan. Untuk pertama kali dalam hidupku aku ketakutan seperti ini.
Semua hal yang kupikirkan adalah kematian didepan mataku. Aku terus berusaha memegang tali di tiang layar, memeluk erat agar tak terlempar ke laut, perutku sudah penuh muntahan yang siap meluncur dari tenggorokan.
Sialnya, kapal tetap tidak seimbang dan terus terombang-ambing diterjang ombak dan angin yang kuat seakan menunggu ajal yang akan menjemput.
Aku memejamkan kedua mataku, kembali memutar semua kenangan manis bersama dan menggenggamnya erat-erat dalam angan.
Memutar kembali masa-masa indah bersamanya, mengelus rambutnya pelan-pelan, menatapi wajahnya yang mungil itu bahagia.
Dan pertemuan sembunyi-sembunyi kami berdua di lorong sempit itu yang mendebarkan. Baru pertama kali dalam hidupku, aku jatuh cinta.
“Aku merindukanmu…,” bibirku kaku mengucapkan kata-kata itu ketika badai di tengah lautan sedari tadi mengguncang kanan-kiri kapal tanpa ampun.
Setengah perjalanan menuju negeri Campa harus kandas di tengah lautan ini. Sebuah rindu tak tersampaikan kubisikkan melalui pesan ke laut kepadanya, Fatmah.
Bahwa aku tak bisa memenuhi janjiku, meminangmu dirumah orang tuamu. Sepertinya Sang Hyang Widhi tidak merestui kita berdua, Fatmah.
**
Sudi Setiawan, adalah penulis kelahiran Bangka yang sedang mengenyam pendidikan S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Semangkuk Mi Ayam dan Kenangan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023).
[1] Kalapa, Dermaga kecil di Utara pulau Jawa yang sekarang dikenal Jakarta Utara
[2] Grisma, Musim Panas atau Kemarau
[3] Warsa, musim hujan
[4] Wilwatikta, nama lain dari kerajaan Majapahit

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.