TIMELINES.ID- Depersonalization disorder atau gangguan depersonalisasi adalah salah satu jenis gangguan disosiatif yang membuat seseorang merasa jiwanya seperti terpisah dan berada di luar tubuh.

Pengidap kondisi ini kerap merasa bahwa dirinya sedang mengamati tindakan, pikiran, dan perasaan dirinya sendiri dari kejauhan.

Sebetulnya, sebagian besar individu dapat mengalami kondisi ini yang hanya berlangsung dalam kurun waktu singkat. Namun, pada pengidap gangguan depersonalisasi, perasaan jiwa yang terpisah tersebut dapat terjadi secara berulang selama bertahun-tahun.

Penyebab Gangguan Depersonalisasi

Pada dasarnya, penyebab gangguan depersonalisasi masih belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini bisa dipicu oleh gangguan kesehatan mental lainnya (skizofrenia, demensia), faktor genetik, serta tekanan emosional dari lingkungan sekitar.

Baca Juga  3 Cara Hindari Kanker Paru-paru Akibat Polusi Udara

Selain itu, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan depersonalisasi adalah:

●Riwayat keluarga dengan gangguan depersonalisasi atau masalah kejiwaan lainnya.
●Memiliki kepribadian tertentu di mana dirinya cenderung menghindari dan menyangkal situasi sulit.
●Berjenis kelamin wanita. Wanita berisiko empat kali lebih besar mengalami gangguan depersonalisasi dibandingkan pria.
●Trauma masa lalu.
●Stres berat, misalnya akibat masalah dalam hubungan sosial, keadaan ekonomi, atau lingkungan pekerjaan.
●Gangguan cemas atau depresi berkepanjangan.
●Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat halusinogen.
●Penyalahgunaan NAPZA atau minuman beralkohol.

Gejala Gangguan Depersonalisasi

Adapun sejumlah gejala yang umum dialami oleh pengidap gangguan depersonalisasi adalah sebagai berikut:

●Perasaan bahwa jiwanya seperti terpisah atau berada di luar tubuh. Kondisi ini membuat seseorang merasa seolah-olah sedang berada dalam mimpi dan mengamati dirinya sendiri dari kejauhan.
●Terputus dari tubuh, pikiran, perasaan, dan lingkungan sekitar.
●Bertindak seperti robot, penderita cenderung tidak bisa mengendalikan ucapan maupun perilaku.
●Mati rasa, baik secara emosional maupun fisik.
●Panik, cemas, bahkan jatuh dalam depresi karena merasa tidak bisa mengendalikan diri sendiri.

Baca Juga  Pasca Hubungan Intim Jangan Langsung Tidur, Ini 6 Hal yang Wajib Kamu Lakukan

Komplikasi Gangguan Depersonalisasi

Apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, gangguan depersonalisasi berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti:

●Kesulitan untuk fokus dan mengingat sesuatu.
●Kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
●Masalah dalam hubungan keluarga dan sosial.
●Merasa sangat putus asa.

Diagnosis Gangguan Depersonalisasi

Gangguan depersonalisasi adalah kondisi yang dapat didiagnosis dengan melibatkan sejumlah metode pemeriksaan, seperti:

●Wawancara medis (anamnesis) yang dilakukan oleh seorang psikolog atau psikiater untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, serta kejadian traumatis yang pernah dialami oleh pasien.
●Pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi gejala gangguan depersonalisasi yang muncul secara fisik.
●Uji laboratorium, seperti tes darah dan tes urine untuk mengetahui apakah gangguan depersonalisasi dipicu oleh kondisi tertentu, seperti penyalahgunaan NAPZA atau konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
●Teknik pencitraan, seperti CT scan atau MRI otak untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan depersonalisasi disebabkan oleh gangguan pada struktur dan keseimbangan kimiawi otak.

Baca Juga  Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Sering Muntah, Bunda Wajib Baca yaah

Selain itu, dokter juga dapat melakukan observasi untuk mengetahui apakah kondisi dan perilaku pasien sesuai dengan kriteria gangguan depersonalisasi berdasarkan buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).