Cerita Beribu Luka
Kulihat teman 1 busku sudah berkumpul. Mendiskusikan urutan rumah dari rute yang telah ditentukan. Setelahnya, aku berangkat. Menertawakan diriku sendiri di dalam hati yang bersiap akan teriris lagi.
Kebetulan hari ini hari Minggu. Untungnya aku dijemput Bunda di depan gang. Karena bus karyawan itu tak bisa masuk ke gang sempit rumahku. Senyum palsu telah tertera di wajahku. Bersiap menghadapi drama rumah tangga beberapa menit ke depan.
“Bunda pusing sekali dengan kelakuan ayahmu itu. Dia tak mau bekerja, tetapi bersikeras uangnya ada pada Bunda. Bunda sudah tak tahan. Ingin Bunda melawan tapi sudah banyak kasus para suami membunuh istrinya.”
“Bun, kalau bunda tidak mau. Bunda bisa melaporkannya pada pihak berwajib Bun,” kataku lelah, setengah kesal dengan perilaku ayah. Dulu, ayah tak pernah seperti ini.
Entah kenapa perilakunya belakangan ini semakin tidak bertanggungjawab. Hidup segan, mati tak mau. Ia protes jika makanan tak enak. Sementara ia juga tak memberi nafkah untuk sekadar membeli beras. Gelar ayahku pahlawanku hanya tinggal kenangan di masa lalu bagiku.
“Bunda berharap bisa diselesaikan dengan cara damai. Bunda sudah tua. Jika saja bukan karena kamu, Bunda tak akan bertahan sampai sekarang. Kamu, satu satunya harapan Bunda kedepannya,” ujar bunda, aku hanya bisa meng iyakan jika sudah begitu ucapan Bunda. Kakakku sudah tidak ada harapan, kata Bunda. Memang, tak selamanya anak pertama bisa diandalkan.
Sudah dimulai. Bila mendengarnya, pastilah kesal dan kasihan. Namun perlakuan Bunda berikut-berikutnya, membuatku lebih tertekan sampai ingin pergi selamanya dari dunia ini.
“Besok, sehabis sahur jangan tidur. Bantu Bunda di dapur,” titah Bunda, lagi dan lagi. Aku mengiyakan.
Esoknya, yang aku benci dari diriku. Aku lupa. Aku tertidur setelah subuh. Namun bangun tak lama setelah itu. Bunda, tentu saja menggerutu dan marah. Aku langsung membantu semua apa yang kubisa.
Hingga matahari naik, kami baru selesai berurusan dengan dapur. Aku terlentang kelelahan di ruang tengah. Mencari kenyamanan dinginnya lantai. Baru saja membuka handphone, telah terdengar nyinyiran Bunda.
“Bangun siang, entah sholat entah tidak. Kerjaan hanya main hp, tidur, lalu main hp lagi. Bukannya dia pulang ke rumah ingin membantu orang tuanya,” ujar Bunda menyindirku yang baru saja selesai membantu Bunda di dapur hingga siang hari.
Tak berarti semua bantuan ku di dapur. Memang seperi itulah Bundaku, mungkin Bunda kalian juga. Tidakkah Bunda tahu, kata-katanya itu menyakitkan hati? Tidakkah Bunda tahu anaknya ini bingung bagaimana cara menghargai dan mengapresiasi orang lain karena tak pernah di apresiasi?
“Cepat lap jendela dan pel lantai. Rumah sudah seperti tidak dihuni bertahun-tahun. Lihat anak tetangga yang lelaki itu. Kemarin dia sudah mengelap jendela. Kenapa pula aku punya anak sepertimu yang hanya bisa tergolek di lantai dan memainkan handphone. Tak ada niatan membantu orangtua,” sambung Bunda, aku hanya terdiam.
Novel yang kubaca di handphone tak terbaca lagi, hanya sebagai pajangan untuk menutupi tetesan air mataku. Andai Bunda tahu, jika bisa memilih, aku lebih memilih tinggal di asrama dibandingkan pulang ke rumah. Aku, tidak ingin pulang.
Setelah Zuhur, dengan segera aku mengambil lap dan segayung air untuk membersihkan jendela dan pintu yang debunya tak pernah dibersihkan semenjak aku berangkat ke asrama.
Air mata kadang tetap menetes meski kutahan. Kata-kata Bunda kembali terngiang-ngiang, terus berulang. Bertumpah tindih dengan cacian dan makiannya yang telah lalu.
Setelahnya, aku beristirahat. Cukup menguras tenaga. Mungkin karena aku berpuasa. Aku kembali berbaring di ruang tengah.
Berniat ingin mengenyahkan rasa haus dan kering di tenggorokan dengan sejuknya lantai semen rumah. Azan asar telah berkumandang sejak tadi. Aku kembali memegang handphone ku. Memeriksa apakah ada notifikasi dari temanku yang kutanyakan tentang tugas.
Beberapa saat setelahnya, Bunda yang tengah merajut kembali berucap,”Kau belum mandi seharian ini? Alangkah joroknya, kau ini gadis! Memang ya anak asrama itu pemalas!”
Bun, si pemalas inilah yang membantu Bunda sedari pagi hingga belum sempat mandi. Tidakkah Bunda pernah pikirkan perasaan anak Bunda ini. Sekali lagi.
Jika aku bisa memilih aku tidak akan menyusahkan Bunda lagi. Selamanya. Jika bunuh diri tidak dosa, sudah lama aku pulang mandiri ke hadapan Tuhan. Dalam hati, aku berdoa agar kepulangan kembali ke asrama dipercepat.
Tak tahan aku tinggal di rumah ini. Kondisi pikiranku baru saja akan menjadi normal setelah di asrama. Bergaul dengan anak-anak normal yang tak terlukai. Hidup tanpa beban dan trauma.
Aku tahu Bunda tak bermaksud memarahiku. Bunda hanya melampiaskan emosinya padaku. Tapi tetap saja, aku masih punya hati. Jangan anggap aku ini tak berperasaan, Bunda.
Tak bisa pula membenci, tak bisa pula membalas, hanya bisa ditusuk-tusuk dengan sukarela.
Tuhan, apakah aku telah durhaka?
Tuhan, kadang aku tak tahan. Tapi beginilah kehidupan.
Untuk kalian yang terluka. Tetap bertahan, jika tak ada yang mengapresiasi, kau lah yang mengapresiasi dirimu sendiri, tidak dihargai? Hargai dirimu sendiri, bangga pada diri sendiri.
Jangan berharap pada orang lain. Atau untuk orang tua yang membaca, jangan lupa bertahan dan apresiasi orang sekitar.
Broken home tak selalu menyedihkan, kadang ada kenangan manis di antara ribuan luka.
Kadang, aku merasa tak berguna. Memang, rumput tetangga lebih hijau, semut seberang pulau lebih terlihat dari gajah di depan mata.
Kuharap, waktu-waktu selanjutnya kami tak dipulangkan.
Nurul Janah Gustina, Siswa SMAN 1 Pemali, Kabupaten Bangka

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.