Cerita Beribu Luka
Karya: Nurul Janah Gustina
Hari ini rasanya berat sekali, untukku yang pergi ke sekolah guna mempersiapkan kegiatan OSIS dalam keadaan berpuasa.
Lebih lagi harus pulang pergi menggunakan sepeda melewati tanjakan saat terik matahari.
Masih beruntung aku pulang ketika matahari sudah tak tepat di atas kepala, jika tidak, aku sendiri khawatir tak akan kuat.
Sampai di asrama dan memarkir sepeda, dalam keadaan berkeringat dan berjalan perlahan aku menuju gedung asrama.
Dalam pikiranku sudah terbayang akan mandi dan istirahat. Serta kasur empuk dan kipas angin asrama.
Namun, di tengah perjalanan ku menuju kamar, terdengar suara dari speaker asrama. Suara yang sukses menunda kegiatan mandiku sore itu.
“To all student, please come to our GSG right now. Kepada seluruh siswa, segera berkumpul di GSG (Gedung Serba Guna) sekarang juga.”
Ya Tuhan. Panggilan apa lagi ini? Kenapa harus ketika aku baru pulang seperi ini? Betapa kebetulannya.
Dengan tatapan hampa, aku menuju gedung aula. Kemudian berbaris dan duduk sesuai kelas.
Jadi penasaran akan apa yang akan disampaikan, pengumuman, atau koreksi tingkah laku lagi? Demi apapun, aku benar-benar lelah sekarang ini.
Tak lama kemudian, pengawas yang ditunggu telah hadir. Berbicara beberapa kata pembuka.
Oh, sungguh lama sekali. Tak bisakah langsung ke intinya saja? Hal-hal yang dibicarakan masih belum sampai ke inti. Sudah setengah jam yang di depan berbicara. Dan aku menunggu dengan setengah sadar.
“Dengarkan semua, kakak ada berita bagus untuk kalian.” Kata kakak pengawas. Ruangan yang semula samar-samar terdengar suara siswa kini telah sunyi sepenuhnya.
“Pulang ya, kak?” celetuk salah seorang siswa. Kakak pengawas mengangguk sambil tersenyum.
“Benar sekali, tahun ini syukurlah kalian bisa pulang dan merayakan lebaran bersama keluarga masing-masing. Termasuk yang berasalan dari kepulauan Riau dan Pulau Belitung.”
Sore itu, aula asrama penuh dengan seruan kebahagiaan para siswa. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena informasi yang baru saja disampaikan oleh pengawas asrama. Yakni berita kepulangan mereka tahun ini. Kami pulang.
Air mataku menetes. Lengkap sudah kelelahanku hari ini. Kenapa? Kenapa harus pulang? Aku cukup, tidak, sangat bahagia jika saja lebaran ini tak pulang. Bila perlu selama 3 tahun ini tak usah pulang saja.
Tak apa bila aku tak bertemu keluarga. Apalagi, pulang ke rumah. Mungkin saat ini hanya aku seorang yang yang meneteskan air mata kesedihan. Di kala semua orang berseru bahagia, aku berseru tertahan. Selesai sudah.
Sore hari itu, seperti tendangan penalti sebelum akhirnya aku runtuh lelah.
Tatapan heran dari siswa lain tak kuhiraukan. Aku jauh lebih pendiam dari biasanya. Teman sekamarku, Risa dan Eris dengan semangat membereskan baju. Aku hanya tersenyum getir melihatnya.
Eris pernah berkata ia lebih suka tinggal di asrama dibanding pulang, namun jelas. Situasinya sama sekali tak buruk bagi dia.
Hanya aku, yang pada akhirnya kembali dengan terpaksa ke rumahku sendiri.
“Sina, kau belum beres baju?” tanya Eris bingung.
Aku menggeleng. Keberangkatan kami masih 3 hari lagi, dan lemari mereka sudah hampir kosong. Sementara aku masih sempat-sempatnya menjemur baju. Tak ada yang berubah dari rutinitasku biasanya.
“Kau santai sekali, tak niat pulang heh?” katanya menilai reaksiku. Aku hanya tersenyum kecil, “Biasalah. Kau tahu sendiri rumah kita bagaimana,” ucapku, situasi rumah kami kurang lebih sama. Namun kurasa kondisi Eris jelas lebih baik di rumah. Setidaknya, Eris masih memiliki 2 sahabat yang bisa menemaninya saat kesepian. Sedangkan aku? Hanya aku Dan Tuhan yang tahu segala keluhanku di rumah itu.
“Mereka bilang akan sepakat untuk buka bersama di kotamu. Aku dan Kesya sudah sepakat untuk ikut, kau ikut tidak?” tanyanya.
“Belum tahu Ris. Jika bisa aku akan ikut,” kataku. Aku bingung. 2 kali sehari kami selalu makan bersama, jangankan buka bersama, sahurpun bahkan bersama dalam 1 ruangan. Apalagi yang harus di-buka bersama-kan?
“Biasanya tak akan jadi, sih,” lanjutku
“Kan, belum tentu Sin,” kata Eris. Aku hanya mengedikkan bahu. Dia nyengir lebar.
Aku menghembuskan nafas lelah. Dari semua kemungkinan pulang atau tidaknya. Setidaknya 90% kemungkinan kami tak pulang. Mengapa 10% itu tetap terjadi?
Hari kepulangan. Dengan tak bersemangat aku menuju aula pada setengah enam pagi dengan tas jinjing di tangan. Beberapa saat setelah penggilan mengerikan itu terdengar.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.