CERPEN, Sedetik yang lalu, sehelai daun yang telah menguning jatuh akibat hembusan angin. Angin berhembus kencang, namun terasa lembut seolah sedang menyapa orang-orang yang kini sedang menikmatinya di ruang terbuka.

Bung Petra, seorang pria tua yang kini duduk memandangi daun-daun yang berjatuhan dari pohonnya sembari menikmati angin sore yang sejuk. Seolah sedang menemani jiwa tuanya yang hampir tergores oleh waktu.

Beberapa orang lewat menunduk kepala mereka sembari menyapa Bung Petra dengan hormat, bahkan masih ada yang menyebutkan sang pejuang meskipun itu sudah bertahun-tahun lamanya.

Bung Petra hanya bisa tersenyum kecut

Sekumpulan anak-anak, termasuk cucunya, Merry, sedang bermain di depan rumahnya dengan riang gembira. Bermain tanpa peduli dengan masalah di sekitarnya ataupun realitas dunia yang semakin memperihatinkan.

Baca Juga  Palestina

Bung Petra tersenyum hangat pada Merry setiap kali Merry melambaikan tangan kepadanya. Semua hanya hari normal bagi Bung Petra.

Bung Petra mengawasi cucunya bermain di sore hari dan menikmati hidupnya dengan duduk di depan teras rumahnya sembari mengamati hal-hal yang berjalan di sekitarnya.

Sampai tiba-tiba Merry berlari ke arah Bung Petra untuk memeluk kedua kaki Bung Petra dengan kedua tangan kecilnya.

Dia tiba-tiba merengek layaknya anak usia lima tahun pada umumnya, namun tidak biasanya Merry merengek di tengah-tengah bermain.

“Kakek, Mama Papa kapan pulang? Aku lapar.”

Bung Petra mengangkat satu alisnya, lalu menangkupkan wajah Merry dengan kedua tangannya, “Tidak biasanya kau merengek, Merry. Harusnya langsung katakan saja pada kakek, ya? Tunggu kakek buatkan telur dadar untukmu. Mama Papamu sepertinya pulang agak malam.”

Baca Juga  Lahirkan Banyak Karya Puisi, Ini Profil Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

“Baiklah….”

Bung Petra sedikit tersenyum, “Bermainlah dulu, aku akan kembali ke sini jika sudah selesai.”

Merry mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya. Senyumnya yang menggemaskan dengan gigi-gigi kecilnya yang tertampak.

Dia kembali berlari untuk bermain bersama teman-temannya dengan rambut hitam pendeknya bergoyang setiap kali dia melompat kecil. Sungguh menggemaskan pikir Bung Petra kala itu.

Dia memasuki dapurnya, menyiapkan teflon dan memanaskan minyak di atasnya seperti biasa. Lalu mempersiapkan telur sembari menunggu minyaknya panas.

Dia tidak memiliki kemampuan memasak yang baik, namun dia bisa memasak masakan yang mudah dimasak untuk cucu perempuannya.

Setelah minyak memanas, dia menuangkan telur yang sudah dikocok di atas teflon. Setelah itu Bung Petra memutuskan mengamati telur itu hingga matang.

Baca Juga  Mengejar Bayang

Namun, belum juga telur tersebut matang, tiba-tiba dia melihat sebuah percikan api yang sangat kecil muncul menembus teflon.

Tak lama bau hangus langsung tercium oleh Bung Petra. Bukannya langsung sigap mematikan kompor, Bung Petra yang melihat hal itu justru menjadi linglung dan ketakutan.

Sepertinya kejadian ini tidak asing baginya. Tepatnya 40 tahun yang lalu, sebuah kejadian hampir sam pernah ia alami.

Kejadian yang coba ia kubur dalam-dalam dengan melanjutkan hidupnya layaknya orang-orang normal, kini perlahan merangkak ke dalam pikir Bung Petra kembali. Meninggalkan perasaan Bung Petra kembali hancur.

*****

40 tahun yang lalu, Bung Petra adalah seorang petugas pemadan kebakaran yang bertugas di ibukota.