Ibu dan Sapu Lidi
Karya: Navis Sabilillah
Dunia memang belum tentu indah, tapi dunia sudah pasti indah jika ada ibu di dalamnya. Ibu adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah takut kehilangan nyawanya demi melihat anaknya hidup di dunia. Ibu segalanya dan tetap segalanya.
Aku memang tidak pernah merayakan hari ibu. Menurutku, setiap hari adalah hari ibu. Walaupun ibu sering marah-marah denganku, tetapi dia tetap ibuku.
Caca adalah anak dari ibu seorang penjual sapu lidi.
Ayahnya telah meninggal dunia sejak Caca kecil.
Ia tinggal berdua dengan ibunya. Ibu pantang menyerah untuk menghidupi anak perempuan satu-satunya.
Caca duduk Sekolah Menengah Atas (SMA). Dia adalah siswa berprestasi di sekolah nya. Dan dia pun mendapatkan beasiswa selama ia sekolah.
Caca tidak pernah malu, walaupun ibunya seorang penjual sapu lidi. Menurut Caca, untuk apa malu yang penting pekerjaannya halal.
Caca sering di-bully oleh teman-temannya. Caca dan ibunya juga sering dihina oleh tetangganya. Tetapi, mereka tidak peduli apa yang mereka katakan.
Siang itu, ibu Caca minta tolong kepada Caca untuk membantunya membuat sapu lidi untuk dijual keliling.
“Caca, kamu lagi ada kerjaan gak? kalo gak ibu boleh minta tolong gak Ca, ” teriakan ibu Caca sambil mengambil pelepah sawit.
“Iyaa bu, tunggu sebentar Caca lagi beresin kamar, ” teriakan Caca dari kamarnya.
Caca pun ke depan rumah untuk membantu ibunya.
“Bu, tadi ibu mau minta tolong apa biar Caca bantuin, ” ujar Caca sambil melihat Ibu nya yang sedang mengupas pelepah sawit.
“Ini tolong bantu ibu kupaskan pelepah sawit untuk dijual besok, ” kata ibu Caca.
“Iya bu Caca bantuin. Hmm, besok kan libur bu jadi bolehkan aku jualan sapu lidi juga bantuin ibu, ” ujar Caca yang sedang mengupas pelepah sawit.
“Boleh Ca, emangnya kamu gak malu ke teman-teman kamu Ca?” tanya ibu Caca.
“Untuk apa harus malu Bu, ini kan pekerjaan yang halal, ” kata Caca sambil senyum melihat ke arah ibunya.
Tidak lama kemudian, mereka pun selesai membuat sapu lidi.
Keesokan harinya…
“Bu sapu lidinya kujualkan 10 dulu ya, nanti kalau udah habis Caca balik lagi ke rumah, ” sebut Caca sambil mengambil sapu lidi.
“Iya Ca, terserah kamu aja mana mudahnya,” ujar ibu Caca sambil senyum melihat Caca.
Caca pun meletakkan sapu lidi di belakang sepeda nya dan diikat supaya tidak jatuh.
” Aku berangkat dulu ya bu, do’ain Caca biar sapu lidinya cepat habis, ” ujar Caca tersenyum giginya kelihatan.
“Iya ca pasti, kamu hati-hati ya. Kalau ada teman atau tetangga yang hina kamu. Jangan dipedulikan hal itu ya. Anggap saja mereka angin lalu,” nasihat ibu Caca tersenyum menyemangati anaknya.
Mereka sama-sama tersenyum, dan Caca pun berangkat lahan-perlahan Caca mengayuh sepedanya dan sambil berteriak, “Sapuuu lidii…”
Di perjalanan Caca bertemu dengan teman sekolah nya yang sering mem-bully di sekolah ia bernama Sella, Ratna, dan Bella.
Caca pun dihadang mereka. Ia mengerem mendadak, lalu terjatuh.
“Aduhh,” ujar Caca sambil mengusap lututnya.
“Yaa jatuh dehh, sakit gak Ca,” ujar sella.
“Makanya jalan tu pakai mata,” kata Bella.
“Iya tuh si anak sapu lidi kesian dehh, punya ibu kok jualan sapu lidi, ” ujar Ratna.
Mereka bertiga terus mengejek sambil tertawa melihat Caca yang lagi kesakitan.
“Apa-apan kamu bertiga, lihat jatuh kan jadinya. Heii Ratna kamu boleh hina aku, kamu boleh benci aku tapi ingat satu hal kamu jangan pernah menghina ibuku,” ujar Caca dengan suaranya yang lantang menandakan ia emosi.
Anak mana yang rela melihat ibunya dihina dan diremehkan oleh orang-orang yang tidak bisa dijaga perkataannya.
Hanya mereka sedang memiliki segalanya.
“Marah ya, jangan sok deh jadi orang, ” ujar Bella sambil menginjakkan sapu lidi yang jatuh dan tertawa bersama dua temannya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.