Mereka pun langsung pergi, tanpa membantu si Caca.

“Dasar manusia gak punya hati, lihat aja nanti akan ku balas perbuatan mereka dengan kesuksesan ku,” ujar Caca sambil meletakkan sapu lidi ke sepedanya.

Caca pun lanjut berjualan sapu lidi.

Beberapa jam kemudian, Sapu lidi yang Caca jual banyak pembelinya. Akhirnya sapu lidi itu terjual habis dan laris manis. Caca pun balik ke rumahnya, untuk istirahat.

” Assalamualaikum ibu, Caca udah pulang nihh. Dan sapu lidinya terjual habis bu,” teriakan Caca dari depan rumah dengan penuh kegirangan.

“Waalaikumussalam Ca, alhamdulillah kalo habis,” sahut ibunya.

Mereka sama-sama tersenyum.

Tak lama kemudian, ada sekumpulan tetangga yang julid dan resek lewat depan rumah mereka.

“Gitu aja seneng, jual sapu lidi aja kalian bangganya minta ampun, ” ujar si tetangga dengan wajah yang judes.

“Apa-apan kamu tante, jangan seenaknya ya berbicara kepada kami. Biarpun kami penjual sapu lidi setidaknya kami tidak pernah mengemis minta bantuan kepada tante,” jawab Caca kesal dengan wajah yang emosi.

” Udah-udah Ca, biarin aja, ” kata ibu Caca.

“Sombong banget kamu ya, gak sopan berbicara begitu kepada orang tua, ” sahut si tetangga bibirnya yang miring.

Baca Juga  Puasa Puisi

“Gak sopan kata tante? Kalo tante bisa menghargai saya, saya juga bisa menghargai tante. Kalau berurusan dengan ibu saya, saya gak tinggal diam begitu aja ya tante. Ngerti kamu tante? ” kesal Caca.

Si tetangga pun pergi dengan jalannya yang sedikit angkuh. Caca rasanya ingin mencabik-cabik mulutnya si tetangga itu.

“Udah Ca, ayo masuk ke rumah kita makan dulu,” ujar ibu Caca.

“Iya bu, Caca kesal dengan semua orang Bu. Kenapa kita sering dihina, ini kan pekerjaan yang halal. Aku benci mereka Bu, Caca benci. Nanti tunggu aja pembalasan dari Caca untuk orang yang sering hina kita,” ujar Caca wajah yang emosi berat.

“Gak boleh gitu Ca, walaupun orang jahat ke kita. Tapi kita tetap harus baik ke orang dan jangan jadi seorang pendendam ya Ca,” nasihat ibu Caca sambil mengusap kepala Caca.

“Iya Bu, Caca gak dendam kok. Hinaan mereka akan Caca balas dengan kesuksesan Caca nanti menjadi seorang dokter, ” ujar Caca sambil tersenyum.

Baca Juga  Magnolia

“Iya Ca kamu buktikan dengan kesuksesan kamu nanti, semangat ya anak ibu mengejar cita-cita nya. Jangan pernah menyerah apapun masalah nya, ” ujar ibu Caca.

Mereka saling berpelukan satu sama lain.

“Iya bu, hidup yang lebih lama ya. Aku ingin suatu saat ibu melihat kesuksesan aku nanti. Dan kita tidak akan di rendahkan oleh orang lain lagi, ” ujar Caca sambil memeluk ibunya.

Ibu Caca mengusap kepala Caca dengan penuh kesayangan.

Percayalah seseorang akan bangkit ketika ia diremehkan, dihinakan, dan diinjak-injak kan. Dan mereka akan sulit untuk ditumbangkan.

Caca dan ibunya terus berusaha, bekerja keras, dan sabar menghadapi segala cobaan.

5 Tahun kemudian….

Caca si anak penjual sapu lidi akhirnya mendapatkan gelar dokter di depan namanya. Ia menjadi orang yang sukses. Selama ia kuliah, dia mendapatkan full beasiswa.

Tangisan, kekecewaan, kegagalan, hinaan sudah Caca lalui. Caca tidak akan direndahkan lagi oleh orang yang tidak tau cara menghargai.

“Bu akhirnya berkat doa, usaha dan sabar ibu. Caca bisa sampai ke titik ini, Caca bersyukur punya ibu yang sesabar sekali seperti ibu,” ujar Caca nangis bahagia.

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta (Bagian 5)

“Iya Ca, kamu udah tercapai apa yang kamu inginkan. Tetapi ingat satu hal, kamu jangan lupa untuk bersedekah. Biar rezeki kamu mengalir terus,” ujar ibu Caca tersenyum.

“Iya bu, sekarang ibu gak perlu jual sapu lidi lagi ya. Ibu istirahat saja di rumah, sudah cukup ibu menghidupi ku selama ini. Jadi, giliran Caca membahagiakan ibu. Apapun yang ibu ingin, bilang sama Caca. Caca akan beliin semua apa yang ibu mau,” ujar Caca sambil memeluk ibunya.

Mereka saling berpelukan, menangis terharu bahagia.

Omongan seseorang memang melukai hati kita, dan dengan adanya hinaan. Kita dapat memotivasikan diri kita tersebut, bahwa kita dapat membayar mulut orang-orang yang merendahkan kita.

Terutama jika ada orang yang menghina ibu kita. Balas semua omongan yang telah menyakiti hati ibu kita. Dengan kesuksesan bukan dengan seorang pendendam.

Hinaan mereka adalah semangat untuk meraih kesuksesan.

Ada sebagai anak ingin sukses tapi bukan untuk mengejar uang ataupun jabatan. Tetapi untuk menebus hinaan yang tidak bisa dibayar dengan uang.

Navis Sabilillah, Siswi SMAN 3 Toboali