Memori Sang Pejuang
Dia adalah salah satu petugas yang paling dihormati dan dihargai jasa-jasanya berkat banyaknya misi penyelamatan yang pernah ia lakukan.
Bung Petra mengambil tugas yang paling berbahaya hingga mengancam nyawanya, tapi dia selalu berhasil mengeluarkan korban-korban yang terjebak dalam bara api dengan selamat. Untuk itulah masyarakat menjulukinya Sang Pejuang.
Hingga pada suatu hari, Bung Petra mendapat tugas menyelamatkan korban kebakaran besar yang masih terjebak di dalam sebuah rumah besar.
Rekan-rekannya melaporkan ada sebanyak 3 orang yang masih terjebak, seorang Ibu dan kedua anaknya, masing-masing laki-laki dan perempuan. Bersama dua rekan lainnya, Bung Petra melakukan misi penyelamatan.
Beberapa menit kemudian, sang Ibu dan anak laki-lakinya ditemukan dan berhasil dibawa keluar dari rumah untuk ditangani. Hanya saja, hampir satu jam berlalu, anak perempuannya belum ditemukan.
Hanya tersisa Bung Petra di dalam rumah itu, semakin diselimuti sesak dan panas api, masih berjuang mencari dan menyelamatkan anak itu.
Sampai tiba-tiba dia mendengar sesuatu dari dalam lemari yang sudah hampir hancur dilahap api. Dia membongkarnya paksa dengan putus asa, tidak peduli itu mungkin akan melukainya.
Akhirnya, dia menemukan anak itu, meringkuk ketakutan dan sangat dekat dengan kematian. Bung Petra menggendongnya dan berlari menjauh dari api yang semakin berkobar.
Sambil menahan sesak dan panas yang semakin menjadi-jadi, Bung Petra sekilas mendengar anak itu bergumam, “Panas….”
Bung Petra membalas dengan mengatakan bahwa dia berjanji akan membawanya keluar dengan selamat. Sampai tibalah mereka di pintu keluar, dengan satu tarikan napas dan perlindungan Tuhan, dia menembus api dan keluar dari rumah itu.
Orang-orang akan mengingat rumah itu sebagai sarang api. Semua orang bernapas lega setelah melihat Bung Petra keluar dari sana.
Bung Petra masih dapat tersenyum lega sebelum dia melihat anak perempuan dalam dekapannya. Gadis kecil itu memejamkan matanya, terbujur kaku dan kulitnya hangus menghitam akibat tak mampu lagi menahan suhu panas di dalam.
Dengan panik, Bung Petra mencari-cari jejak kehidupan pada gadis kecil itu, hanya untuk tidak merasakan apa-apa.
Kakinya terasa lemas dan tangannya gemetar bak disambar geledek. Nyawanya serasa ditarik keluar dari tubunya. Hati dan jiwanya baru saja hancur. Dia bisa mendengar samar-samar teriakan pilu dari Ibu anak itu.
Dengan putus asa, dia menatap mayat anak itu di tangannya. Tangisnya tak terbendung, perasaan bersalah menyelimutinya dan dia tahu itu tidak akan pernah hilang. Hanya saja, jika dia bisa lebih cepat, mungkin anak itu bisa selamat. Untuk pertama kalinya, Bung Petra gagal.
*****
Kembali lagi di masa sekarang, tanpa sadar, Bung Petra menangis karena teringat kembali kejadian nahas saat itu. Dia terdiam di sana dengan wajah pucat tanpa bisa bereaksi apapun. Dia bahkan tidak sadar dengan asap yang telah mengepul memenuhi dapur.
Akan terjadi hal buruk jika saja Merry tidak datang tepat waktu. Dengan polosnya, Merry mematikan kompor yang masih menyala. Merry dan Bung Petra pun saling pandang dalam keheningan setelahnya.
Merry kebingungan kenapa kakeknya menangis jadi dia bertanya padanya, “Kakek kenapa?”
Bung Petra tidak menjawab melainkan ia langsung memeluk Merry dengan sangat erat. Entah bagaimana, Merry memiliki wajah yang sama dengan anak yang mati di dekapannya kala itu.
Dia bersumpah dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi, tapi sepertinya dia baru saja kembali lalai dengan membiarkan kompornya menyala ketika percikan api sudah terlihat. Dia kembali merasa tidak berguna seperti saat itu.
“Kakek, tidak apa-apa?” Merry hanya bisa bertanya kebingungan.
Seandainya dia tahu isi kepala Bung Petra saat itu, kenangan buruk yang akan terus membekas, tidak peduli seberapa keras kau menyingkirkanya.
Bung Petra semakin mengeratkan pelukannya. Tidak ingin melepaskannya untuk sekarang. Tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.