Talent Week ini merupakan suatu program yang secara umum membentuk kelas baru sesuai bakat yang murid senangi dan ingin kembangkan dari kelas tujuh hingga kelas sembilan bersatu dalam kelas yang beranggotakan 15 hingga 20 murid untuk setiap kelas talent yang disediakan sekolah.

Tidak ada anak yang tidak memiliki kelas, semuanya harus memiliki kelas bakat, jika masih bingung akan bakatnya maka mereka akan dimasukkan kedalam kelas bakat-bakat universal seperti keagamaan.

Pelaksanaannya satu minggu, bisa setiap satu semester atau bahkan setiap bulan di alokasikan satu minggu untuk pembinaan, pelatihan, diakhir minggu murid ‘dibimbing’ untuk menghasilkan karya dari pembinaan bakat mereka selama satu minggu tersebut.

Meskipun tidaklah sempurna, namun setiap anak akan senantiasa berkarya dari bakat-bakat yang terus mereka asah pada talent week ini bersama guru-guru mereka.

Dari hasil pembahasan bersama dan survey bersama murid, ada sepuluh kelas bakat yang akan dibuka di sekolah yaitu keagamaan, olahraga, menulis, public speaking, ilmu komputer, tari atau senam kreasi, fotografi, agroteknologi, menyanyi, dan paskibraka sekolah.

Baca Juga  Hendra Amoer Resmi Jabat Kepala BNNK Bangka Selatan

Kemudian satu atau dua orang guru yang mempunyai basic dalam suatu bakat akan menjadi pembina dalam kelas bakat tersebut.

Setiap semester, dalam kegiatan talent week ini, tidak menutup kemungkinan akan ada kelas yang diganti atau dihapuskan tergantung dari kebutuhan murid yang ingin mengembangkan bakat apa dan tergantung sarana dan prasarana sekolah untuk menunjang kegiatan ini.

Setiap anak akan diwawancarai atau diberikan angket dengan google form untuk memilih kelas bakat yang diminati dengan menyediakan pilihan kedua sebagai antisipasi kelas bakat utama yang mereka pilih telah tercapai kuota.

Selain dibimbing dan dilatih, murid juga mempunyai tagihan karya. Lalu apa saja tagihan karya dalam setiap kelas?

Tagihan karya juga dituntut fleksibel tergantung kemampuan murid, dikelas keagamaan seperti hapalan ayat-ayat pendek, ceramah agama, adzan, dan doa.

Di kelas olahraga seperti, tim futsal, tim volley, ataupun permainan lain sebagai kerangka dasar mengikuti ajang-ajang lain diluar sana.

Baca Juga  Ngulon Menulis

Di kelas menulis, tagihannya tentu berupa karya-karya literasi seperti menulis opini, puisi, cerpen, pantun, novel, poster dan lain sebagainya.

Di kelas public speaking bakat dan karya yang diharapkan berani tampil berbicara di depan orang banyak, seperti pidato, menjadi MC, stand up comedy, pidato bahasa inggris dan lain sebagainya juga sebagai aset jika sewaktu-waktu sekolah mengadakan seminar-seminar tertentu maka murid dikelas ini menjadi prioritas sebagai MC.

Di kelas ilmu komputer karya berupa presentasi di canva, mengetik, membuat konten dan lain sebagainya. dikelas tari atau senam kreasi karya berupa tari kreasi, senam, tari tradisional dan lain sebagainya.

Di kelas fotografi atau videografi tagihan karya berupa film pendek, foto objek, pas foto. Di kelas paskibraka tagihan berupa pasukan khusus petugas upacara dalam kegiatan tertentu dan baris-berbaris.

Di kelas agroteknologi tagihan berupa tanam-menanam dengan metode hydroponic dan lain-lain. Dan terakhir dikelas menyanyi tagihan berupa video cover lagu, memainkan alat musik, ataupun menciptakan lagu sendiri.

Baca Juga  Semarak Pawai di Toboali, Berkah bagi Pelaku UMKM

Talent Week merupakan wahana baru yang seru di sekolah kami SMP Negeri 8 Toboali untuk menggapai cita-cita kurikulum Merdeka.

Dengan optimisme bersama, kami yakin program ini akan benar-benar menjadi program yang memerdekakan murid dengan mempelajari, mengasah, dan mengembangkan bakat yang mereka kenali sendiri.

Ketika mereka sudah menemukan itu, maka mereka akan senantiasa berkarya sesuai bakatnya masing-masing, berprestasi dengan bakatnya masing-masing bahkan nantinya diharapkan bekerja dan berpenghasilan dari bakatnya-bakatnya, passion-nya masing-masing.

Kami yakin, suatu saat sekolah ini akan mempunyai murid-murid yang ‘gila’ berkarya. Jika ditarik lagi ke belakang, bagaimana mulianya gagasan Ki Hajar Dewantara terkait pembelajaran yang menghamba pada murid, maka program inilah wujud persembahan kita sebagai guru kepada tuan-tuan kita yaitu murid-murid kita ini yang butuh wahana pengembangan bakatnya masing-masing.

Karto, S.Pd., M.M., Pengajar di SMPN 8 Toboali, Bangka Selatan