Talent Week, Wahana Seru Wujudkan Merdeka Belajar
Oleh: Karto, S.Pd., M.M.
OPINI, Sedang hangat diperbincangkan di sekolah-sekolah, kalangan orang tua, bahkan murid terkait penerapan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu kurikulum merdeka.
Dari nama saja sudah menimbulkan kerut kening, berkumpulnya pertanyaan di kepala, se-merdeka apa kurikulum ini bagi murid?
Merdeka yang bagaimana yang dimaksudkan dalam memberikan pembelajaran?
Saya yakin, bagi guru maupun orang tua murid sudah sangat sering membaca dan mempelajari bahkan ikut seminar-seminar tentang implementasi kurikulum ini, sedikit banyak gambaran mengenai kurikulum ini sudah ada di kepala bahwa muara dari kurikulum ini adalah terwujudnya murid sesuai Profil Pelajar Pancasila yang merupakan Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.
Dalam mewujudkan tujuan ini, sekolah juga ‘merdeka’ untuk menentukan kegiatan yang di akomodir dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, serta kreatif.
Gagasan-gagasan Ki Hajar Dewantara tetap menjadi landasan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan mulia ini. Belakangan ini, salah satu gagasan mulia Ki Hajar Dewantara yang kembali hangat dibahas yaitu pembelajaran yang Berhamba pada anak.
Jika ini jadi bahan refleksi bagi saya pribadi sebagai guru, maka saya akan menanyakan kepada diri sendiri, seberapa besar kontribusi saya sendiri sebagai guru dalam menghadirkan program-program yang mampu melayani murid selaku ‘tuan’ dalam konsep berhamba pada anak tadi?
Dari pengalaman sebagai murid maupun sebagai guru sekarang, saya sering berangan-angan dan sering pula menyampaikan ini di forum-forum tertentu tentang murid masa depan yang saya impikan yaitu berbakat, berkarya, berprestasi, dan berakhlak mulia.
Kenapa ini menjadi impian pribadi bagi saya? Dengan ini harapannya adalah kita sebagai guru dapat mengakomodir seluruh bakat murid bukan hanya satu atau dua orang saja, memoles bakat-bakat ini hingga dapat menghasilkan karyanya sendiri, lewat karya-karyanya ini mereka diharapkan dapat berprestasi bukan hanya mengandalkan sensasi tanpa karya, lalu kenapa harus berakhlak mulia, karena ini merupakan koridor agar ilmu-ilmu yang berhasil dikembangkan murid dapat bermanfaat bagi orang banyak serta tidak digunakan keluar jalur untuk hal-hal negatif.
Faktanya, memang bermunculan bakat-bakat murid pada ajang seperti FL2SN, O2SN, OSN dan lain sebagainya.
Bahkan sekolah-sekolah tertentu mempunyai segudang prestasi dalam ajang unjuk bakat baik tingkat kabupaten, provinsi maupun Nasional ini.
Namun satu dua murid seperti ini merupakan hasil seleksi disekolahnya masing-masing untuk dikembangkan, dilatih, atau bahkan yang sudah jadi karena kegiatan-kegiatan pelatihannya di luar sekolah dan sekolah tinggal mempersiapkannya untuk mencapai target juara bagi sekolah.
Lalu mereka-mereka yang gagal seleksi sekolah bagaimana? Apakah mereka disebut tidak berbakat? Murid lainnya pula, yang minim ajang-ajang menunjukkan bakat, apakah mereka tidak berhak untuk terus mengasah bakatnya disekolah, dan saya sering bertanya-tanya mungkin saja kita sebagai guru telah mematikan bakat mereka?
Atau pula, bagaimana anak-anak yang belum menyadari pasti bakat dan kecerdasannya dibidang apa? bagaimana kita membantu mereka untuk menemukan dan mengembangkannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini selalu muncul di kepala ini sebagai guru. Pertanyaan-pertanyaan yang banyak ini telah membawa saya pribadi berfikir bahwa harus ada salah satu program sekolah yang mampu mengakomodir bakat-bakat murid ini.
Hingga mereka menyadari bahwa inilah bakat yang harus mereka kembangkan. Membantu murid menemukannya dan bukan hanya untuk kepentingan mengikuti ajang-ajang tertentu saja.
Apalagi untuk kami sekolah di pedesaan yang kadang-kadang anak masih malu untuk menunjukkan apa yang dia bisa.

Terbitlah suatu inisiatif program di sekolah kami tentang mewadahi dan memfasilitasi bakat murid yang kami beri tajuk “Talent Week”. Apa itu Talent Week? mari kita masuk ke kelasnya!

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.