Tambang Timah Memang Bukan Identitas Kebanggaan Masyarakat Bangka
Oleh: Windy Shelia Azhar
Suatu pagi saya berkontemplasi akan kenangan masa kanak di Bangka hingga mengerucut ke sebuah pertanyaan menarik “mengapa tidak ada cerita rakyat atau lagu anak yang bertema tambang?” Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat melulu seputar keluarga yang bertani di ladang atau nelayan yang menerjang badai laut.
Si Kelingking adalah anak dari pasangan petani miskin yang sehari-hari mencari penghidupan di ladang kering kaki bukit.
Si Penyumpit adalah petani yang menjaga ladangnya dari serangan babi hutan.
Lebih variatifnya, Budi adalah seorang nelayan sederhana nan baik hati yang kebesaran hatinya termahsyur menjelma legenda Pulau Kapal yang dijunjung masyarakat Bangka.
Tak hanya cerita rakyat, begitupun lagu-lagu anak tradisional yang digaungkan dalam muatan lokal kedaerahan sejak sekolah dasar.
Jelas sekali Yo Miak! adalah lagu ajakan untuk pergi ke ladang atau yang disebut orang Bangka sebagai ume.
Lagu ini juga menarasikan kegiatan berladang ala masyarakat Bangka dari berangkat ke ladang hingga pulang pada petang. Mutik Sahang bahkan mendeskripsikan dengan jelas kegembiraan masyarakat Bangka saat panen lada.
Keseluruhan produk budaya yang menjadi warisan nenek moyang masyarakat Bangka ini dengan bangganya menyematkan masyarakat agrikultural sebagai identitas yang melekat di masyarakat.
Mengapa tak ada satupun identitas budaya yang mengaminkan penambang sebagai identitas kebanggaan orang Bangka?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis melakukan pencarian sederhana dan menemukan fakta bahwa keabsenan memori kolektif orang Bangka terhadap tambang timah cukup beralasan.
Jika menilik sejarahnya, titik mula ditemukannya fakta bahwa mineral bernilai prestisius yang terkandung di bumi Serumpun Sebalai bukan berasal dari masyarakat Bangka itu sendiri.
Berdasarkan paparan penelitian yang dilakukan oleh Swastiwi dkk (2017) setidaknya terdapat tiga versi cerita yang diyakini menjadi awal mula penemuan timah di Bangka dan ketiga-tiganya tidak mengindikasikan keterlibatan putra daerah sebagai aktor utamanya.
Cerita yang pertama menyebutkan bahwa penemuan mineral timah pada tahun 1707 dilakukan oleh pihak Belanda yang penasaran akan mineral yang meleleh saat penduduk membakar sampah daun di ladang.
Cerita kedua mendeskripsikan penemuan timah ini terjadi pada tahun 1709 yang dilakukan oleh pendatang Johor bergaris keturunan Cina yang sudah memiliki pengetahuan akan timah sebelumnya.
Serta, cerita ketiga menyebutkan bahwa penemuan timah dilakukan oleh seorang pendatang asal Cina bernama Boen Asiong yang pertama kali melakukan penambangan timah di Kampung Belo Mentok.
Sejak kepopuleran timah pada abad 17 tersebut, mata dunia tertuju pada Pulau Bangka sebagai sumber mineral timah baru yang menjanjikan.
Kesultanan Palembang yang saat itu memiliki kuasa atas Pulau Bangka melakukan eksplorasi penggalian tanah dan menjalin kerjasama dagang dengan pihak Belanda yang dahulu berupa kongsi dagang VOC.
Namun, lagi-lagi peran putra daerah Bangka minim sekalipun sebagai pekerja kasar tambang. Kesultanan Palembang justru mendatangkan pekerja Cina dan transmigrasinya berlangsung dalam gelombang cukup besar.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.