Hingga Pulau Bangka berada di tangan imperialis Belanda, pengerukan sumber daya non terbaharui ini tetap berada di kuli etnis Cina dengan Belanda yang meraup gulden-gulden hasil penjualan timah yang mencapai prestasi sebagai pemasok timah terbesar Asia.

Fakta sejarah ini demikian ironis jika kita memandang tambang timah dari sudut pandang penduduk setempat. Eksplorasi timah yang terkubur nun di bawah tanah sama dengan penghancuran lahan ladang penduduk agrikultural secara besar-besaran.

Benar adanya jika tambang timah selalu menjadi sumber segala hal bernilai negatif bagi masyarakat asli Bangka. Hingga detik ini, jika berbicara perkara tambang timah, hal yang tercitra di pucuk pikir adalah persoalan ekologis seperti eksploitasi, kerusakan lingkungan, perubahan lansekap tanah menjelma lubang kolong memalukan, hingga masalah kesenjangan sosial seperti putus sekolah dan tambang ilegal yang berakhir di bui.

Baca Juga  Peringati HPN 2023, Mulkan: Wartawan Sajikan Berita Akurat dan Berimbang

Meski seantero dunia menyebut timah sebagai ikonik paling termahsyur dari pulau kecil nun di area perairan Sumatera tersebut, masyarakat Bangka sendiri tak pernah bangga atas pencapaian tersebut.

Bahkan hingga pasca kemerdekaan, timah dialihkuasakan ke korporasi seperti PT Timah dan Koba Tin. Kala masyarakat melakukan pertambangan rakyat, Undang-Undang seolah memopor genjatan hukuman yang mendeklarasikan bahwa ini hal yang keji.

Bahkan ketika sempat direstui melalui terbitnya Surat Keputusan Bupati Bangka No.540.K/271/Tamben/2001 tentang Pemberian Usaha Pertambangan untuk Pengolahan dan Penjualan (ekspor), permasalahan tambang timah ini semakin menjadi simalakama bagi masyarakat sebagai suatu hal yang menyejahterakan sekaligus menghancurkan.

Di era pasca tambang dewasa ini, agaknya bukan hal mustahil bagi masyarakat untuk move on dari sektor tambang karena memang masyarakat Bangka tak pernah benar-benar mencintai dan berbangga diri akan sektor ini.

Baca Juga  September 2023, Inflasi Tahunan Babel Tertinggi se-Indonesia, Ini Langkah Pj Gubernur

Mengingat hubungan panas masyarakat Bangka dengan timah lebih terlihat semacam ketergantungan sebab kadung tersistem oleh pihak yang lebih berkuasa.

Pemberdayaan diri ini seiring sejalan dengan penguatan bahwa masyarakat Bangka mampu untuk kembali ke identitas aslinya sebagai masyarakat agrikultural yang memberdayakan hasil lada, karet, dan sawit. Atau bahkan melebarkan peluang berbasis ekonomi kreatif dan modern yang bersesuaian dengan perkembangan zaman.

Referensi:

Swastiwi, A., Nugraha, S., Purnomo, H. (2017). Lintas Sejarah Perdagangan Timah. Tanjungpinang: CV Genta Advertising.

Biografi Penulis

Windy Shelia Azhar

Windy Shelia Azhar adalah penulis lepas kelahiran Pangkalpinang yang saat ini berdomisili di Bali.

Ia pernah menempuh pendidikan ilmu sastra dan saat ini mengambil studi di bidang ilmu komunikasi.

Baca Juga  Secangkir Kopi di Warung Kopi

Kecintaannya pada dunia sastra diwujudkan dengan menjadi Duta Bahasa Kep. Bangka Belitung 2017 serta penulis terpilih Bangka Belitung dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2018.

Karya tulisnya berbentuk essai, cerpen, dan puisi telah diterbitkan ke berbagai media lokal dan nasional. Ia juga meriah predikat Top 10 Feminism Genre melalui kumpulan cerpen digitalnya berjudul VIXI.

Kunjungi tulisannya di medium.com/@windyazhar atau membangun koneksi dengannya melalui instagram.com/sisigelaprembulan.