Yang Muda yang Berjaya
Tampaknya nilai gengsi orang Bangka Belitung dalam berlaga ada baiknya membawa dampak baik menjadi motivasi yang mencambuk bara semangat di dada untuk terus berkecamuk.
Pilihan kedua untuk tinggal dalam kotak tak selalu buruk. Eksplorasi kotak saat ini menjadi suatu napas kebangkitan bagi generasi muda di Bangka Belitung.
Pada masa tahun 2000an, Bangka Belitung sama sekali tidak memenuhi kriteria pariwisata karena tidak memiliki what to do, what to see, what to buy.
Orang datang ke pulau ini hanya untuk berurusan dengan segala urusan tentang timah. Cafe, mal, atau tempat hiburan hanya segelintir itupun tidak seramai di kota besar.
Selepas pukul sembilan, segalanya sepi dan kota mati. Demikian suram sehingga sering diremehkan sebagai tempat jin buang anak.
Lagi-lagi, mungkin nilai gengsi orang Bangka Belitung membawa dampak baik. Generasi muda yang acapkali didera kecenderungan fear of missing out (FOMO), saat ini mencoba menghadirkan apapun yang ada di kota besar ke tempat mereka.
Sejak diberikannya izin bisnis waralaba skala besar oleh pemerintah daerah yang juga berusia lebih muda daripada biasanya, kota-kota mendadak hidup.
Tiba-tiba coffeeshop dan restaurant yang berdekorasi ciamik kekinian bertebaran di seantero kota. Konser-konser musik diadakan tanpa mengandalkan kemurahan hati perusahaan rokok yang menjalankan strategi marketing mereka setiap beberapa tahun sekali atau menunggu pemerintah menghabiskan dana akhir tahun. UMKM tumbuh subur hingga melahirkan beberapa festival kuliner yang meriah.
Bagai akar bawang yang rhizoma, semangat usaha itu tumbuh ke mana-mana hingga ke lini yang sifatnya tersier.
Beberapa film diproduksi atas nama anak muda Bangka Belitung dengan production house yang berdiri di kaki sendiri.
Meski masih tersengal dan produksinya belum matang, tapi usaha ini patut diacungi jempol sebagai bakal kebangkitan industri hiburan di Bangka Belitung.
Kita bisa melihat bagaimana setiap hari di sudut universitas atau taman-taman anak muda bersemangat mengeksekusi ide-ide mereka dengan diadakannya lapak baca, sekolah model, diskusi akar rumput, gig skena, atau membuka bisnis kecil baru.
Ini adalah bentuk eksplorasi kotak demi membuat zona nyaman menjadi lebih nyaman lagi.
Yang muda yang berjaya. Itulah mungkin frasa yang tepat menggambarkan geliat pergerakan anak muda Bangka Belitung dalam mengembangkan sektor sosial ekonomi.
Kejayaan yang ditawar timah sudah lama harus ditinggalkan di album masa lampau. Era pasca tambang adalah era masa kini.
Potensi kita tidak terbatas pada menghitung laba rugi ekspor bulan ini atau menyaring logam legam dari pasir kuarsa. Potensi kita bisa menjadi spektrum warna-warni yang begitu beragam di langit tak berbatas.
Biografi Penulis

Windy Shelia Azhar merupakan penulis lepas di berbagai medium. Ia menulis cerpen, puisi, essai, dan opini berkutat pada isu feminisme, lingkungan, kebahasaan, dan sosial. Pernah kuliah di jurusan Sastra Inggris dan saat ini menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi. Berdarah asli melayu Bangka dan bermukim di Bali sebagai asisten lab fotografi. Jenguk tulisannya di medium.com/@windyazhar

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.