Oleh: Windy Shelia Azhar

OPINI, Beranjaknya kita dari tambang ke era pasca tambang yang dieluh-eluhkan pemerintah dan para akademisi awalnya dipandang dalam selubung skeptis.

Jerat sektor tambang timah ini sungguh erat. Seseorang rela menaruh nyawa di antara tanah yang rawan ambles atau menggadai kebebasan mereka di muka pintu bui demi logam halus yang serupa ‘berlian berdarah’ ini.

Bagaimana tidak? Menambang timah selalu dipandang sebagai easy money oleh masyarakat Bangka Belitung selama berpuluh-puluh tahun.

Ambil segenggam tanah di halaman rumahmu, maka kau sudah bisa membeli beras sekarung! Bahkan dalam konteks kaum menengah ke atas yang memiliki akses ke pendidikan tinggi, tetap saja berkarier sebagai juru tulis dan juru hitung di perusahaan tambang timah adalah sebuah kemapanan.

Baca Juga  Dinilai Buat Kegaduhan, Pj Gubernur Suganda Batal Terima Penghargaan Pemimpin Tangguh

Ritme ini tanpa sadar melingkungi kehidupan masyarakat Bangka Belitung dalam rentang waktu tak sebentar.

Ketika ajakan move on dari tambang dan mulai menyusuri peluang di sektor lain, generasi tua langsung menghajarnya dengan serapah. Resistensi selalu datang sepaket dengan perubahan dan itu bersifat pasti.

Tidak mudah memang bagi generasi yang sudah berjibaku dengan hal yang sama seumur hidupnya untuk tiba-tiba diusir dari tempat penghidupannya.

Mata pencaharian adalah bagian dari budaya. Maka, mengajak orang-orang hijrah dari mata pencahariannya sama dengan ajakan untuk mengubah budaya yang telah mendarah dalam daging.

Mari beri atensi pada generasi yang lebih muda. Generasi yang sungguh dilematis. Mereka tumbuh besar dalam perputaran ekonomi keluarga berbasis tambang.

Namun, seketika sektor tambang timah yang sudah menjadi simulasi kehidupan dewasa mereka diberangus. Mereka limpung dengan sepinya lowongan kerja ketika usia produktif menyingsing.

Baca Juga  Kekuatan Endorsement Selebgram dalam Mempengaruhi Preferensi Merek Kosmetik Remaja Perempuan

Beban Indonesia Emas berada di pundak mereka tapi tak banyak pilihan yang bisa dipilih untuk mengejawantahkan cita-cita nasional tersebut.

Generasi dengan bara api muda ini hanya punya dua pilihan: minggat keluar kotak atau ekplorasi di dalam kotak.

Tampaknya minggat keluar kotak adalah pilihan bagi mereka yang demikian berani. Sebab, budaya merantau bagi masyarakat Bangka Belitung bukanlah suatu hal yang masif seperti yang kita temui dalam budaya saudara serumpun Sumatera kita, Padang dan Batak.

Mudahnya mendapat uang dari menambang tampaknya membelai kita dalam kenyamanan sehingga merintis usaha atau bersaing dengan pasar yang lebih luas di kota lain adalah suatu tantangan yang demikian berat.

Baca Juga  Banyak PR Belum Diselesaikan di Pangkalpinang, Molen Putuskan Asa Dua Periode

Seumur penulis merantau, bertemu orang Bangka Belitung di perantauan pulau Bali terhitung kurang dari jumlah jari tangan. Mungkin jumlah orang Bangka Belitung lebih banyak di kota seperti Palembang, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta dalam konteks pelajar.

Tetapi, keluar dari kotak untuk menghidupi diri di tanah orang lain sungguh menjadi hal yang belum awam.

Meski demikian, segelintir kelompok pemberani ini sekalinya merantau tidak main-main.

Sekalinya melampaui batas benar-benar mampu menghalau batas pandangan mata.

Termahsyurlah nama Ahok, yang sekalinya ke Jakarta menjadi gubernur, Andrea Hirata yang sekalinya menulis perjalanan hidup dan merantaunya mampu memutar setir pulau Belitung ke pariwisata, dan begitu banyak nama-nama muda yang saat ini begitu gigih merajut hal yang mereka ingin capai di luar kotak.