Senja di Pagi Hari
Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya. Danendra terkejut dan segera menoleh kebelakang. Ternyata Bu Nia, Guru pembimbing olimpiade matematikanya.
Danendra segera menyalami tangan Bu Nia. Bu Nia tersenyum. Ia menepuk pundak Danendra seraya berkata,”Ibu bangga sama Kamu Nak. Selamat ya, Kamu mendapatkan juara satu olimpiade tingkat nasional, untuk yang kedua kalinya”
Danendra tersenyum. Ia melakukan bahasa isyarat, “Terima kasih banyak Bu, ini juga karena bimbingan dari Ibu”
“Kita ke kantor kepala sekolah ya, ambil piala dan bingkisannya,” ajak Bu Nia.
Danendra mengikuti Bu Nia menuju kantor kepala sekolah. Tanpa sadar, wajahnya berseri-seri. Senyuman manis tak luntur dari wajahnya yang tampan.
Danendra sudah merancang sebuah rencana. Selepas pulang sekolah, ia akan menuju kantor ayahnya.
Ingin memberitahukan hasil kerja kerasnya selama ini.
Danendra tidak sabar ingin cepat-cepat pulang.
*
Di sebuah gedung tinggi, Terdapat seorang lelaki berjas hitam sedang duduk di kursi kebanggaannya. Kedua matanya menyoroti tajam laptop di depannya.
Ting!
Ia segera mengalihkan perhatiannya. Terlihat nama sekretarisnya yang mengiriminya foto. Ternyata, Sekretarisnya mengirimkannya foto Rachel, Mantan istrinya yang berpakaian compang-camping sedang memungut sampah di tong sampah.
Segera Lukman menghubungi sekretariatnya dan menanyakan keberadaan Rachel. Dengan wajah terburu-buru, Ia segera keluar dari ruangan menuju tempat mantan istrinya.
Entahlah, apa penyebabnya ia ingin sekali menemui perempuan itu.
Ia sangat merindukan Rachel. Lukman masih sangat mencintai perempuan itu walaupun Rachel pernah mengkhianatinya.
Di suatu tempat, Danendra nampak bahagia menggowes sepedanya. Di tasnya ada piala olimpiade hasil kerja kerasnya.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Ia sedang menuju ke kantor ayahnya. Senja menemani perjalanannya kali ini.
Tanpa sengaja, Kedua matanya memandang seorang perempuan berpakaian compang-camping sedang memungut sampah. Ia berhenti, dan melihat lebih dekat.
Betapa terkejutnya ia, ternyata perempuan itu adalah Rachel Ibunya.
Dengan tubuh bergetar, Danendra menghampiri Rachel. Ia menepuk pundak Rachel. Saat Rachel menoleh, ia nampak terkejut.
“Untuk apa kamu menemui saya? Untuk menghina saya? Menyebut saya ibu yang tidak bertanggung jawab?!” tuduh Rachel sambil menampik tangan Danendra.
Danendra menggelengkan kepalanya, tanpa sadar pipinya basah karena air mata.
Ia berlutut sambil memeluk lutut ibunya. Ia tetap memeluk erat Rachel walaupun Rachel memberontak minta dilepaskan.
Dengan sekuat tenaga, Rachel mendorong tubuh Danendra hingga tersungkur.
Lalu ia menunjuk Danendra “Hidup saya telah hancur! Hancur karena kamu Danendra! Gara-gara saya melahirkan anak cacat seperti kamu, suami saya menjauhi saya, suami saya sibuk kerja. Bahkan keluarga saya membenci saya! Saya hampir gila karena kehadiran kamu Danendra!” teriak Rachel sambil menangis.
Rachel terduduk di tanah, ia menangis. “Hidup saya telah hancur Danendra,” lirihnya.
Danendra menggelengkan kepalanya. Ia melakukan bahasa isyarat seolah berkata “Maafkan Danendra Ibu. Maaf karena kehadiran Danendra membuat hidup ibu hancur,”
“Rachel!” teriak Lukman yang baru keluar dari mobil. Ia langsung menghampiri Rachel dan memeluknya.
“Jangan menangis. Maafkan aku yang tidak tau perasaan hatimu selama ini. Aku tau, kamu selama ini kesepian karena aku yang selalu sibuk kerja. Kamu tidak bermaksud mengkhianati aku. Pulanglah kerumah kita Rachel,” ujar Lukman dengan mata yang memerah.
Rachel menggelengkan kepalanya. Ia memberontak dan mendorong Lukman.
“Aku tidak pantas kembali denganmu Lukman. Tinggalkan aku!” lirih Rachel.
“Tidak Rachel. Tolong maafkan aku. Kembali lah, kita bangun rumah kita lagi,” mohon Lukman.
“Pergi Lukman! Aku membencimu!” teriak Rachel. Ia meninggalkan Lukman sambil berlari menuju jalanan untuk menyebrang. Namun Lukman mencegahnya. Ia tetap memaksa untuk mengajak Rachel kembali ke rumahnya. Tanpa mereka sadari, mobil truk melaju kencang ke arah mereka yang sedang berdebat di tengah jalan.
Danendra yang mengetahui, segera menghadang mobil truk agar tidak menabrak kedua orang tuanya. Ia memejamkan kedua matanya, ia sudah siap jika ia meninggal hari ini. Percuma hidup jika hanya menghancurkan hidup kedua orang tuanya.
Brak!
Rachel dan Lukman terkejut saat tubuh Danendra tertabrak mobil truk. Tubuhnya penuh darah, Kepalanya terbentur trotoar dan berdarah.
Rachel dan Lukman segera berlari dan
menghampiri Danendra. Lukman segera mengangkat kepala Danendra menuju pahanya. Danendra dengan wajah yang pucat menunjuk tasnya yang terlempar tak jauh. Terlihat piala yang pecah berkeping-keping di sana.
Danendra tersenyum seolah berkata bahwa piala itu miliknya.
Rachel menangis sambil mencium kening Danendra yang berlumur darah.
“Maafkan kami ya sayang. Bertahan ya, kita akan pulang kerumah kita bersama-sama, ” ujar Rachel menangis.
“Ayah bangga sama kamu Danendra. Tolong bertahanlah jagoan ayah,” lirih Lukman menangis.
Danendra menggelengkan kepalanya. Ia berusaha melakukan bahasa isyarat yang mengartikan “Ibu dan ayah harus bahagia tanpa Danendra. Danendra pamit pulang,”
Setelah itu, badan Danendra lemas. Kedua matanya tertutup rapat dengan bibir yang tersungging senyuman manis.
Danendra telah pergi selamanya dengan hati yang bahagia. Dia bahagia karena di detik-detik terakhir, Kedua orang tuanya mengkhawatirkannya.
Bukankah artinya mereka menyayanginya? Sesederhana itu kebahagiaan seorang Danendra. Tetapi mengapa baru ia dapatkan saat detik terakhir dalam hidupnya.
Selesai

Khoiriah Apriza, Siswi SMAN 1 Airgegas yang hobi membaca dan menulis ini telah melaunching karynya cerpen Ayah Aku Rindu serta menulis beberapa buku antologi.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.