Merdeka Belajar, Semangat Baru Wujudkan Pembelajaran Berdiferensiasi
Seperti yang diketahui bersama mengenai salah satu tantangan guru yaitu peserta didik adalah fokus utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Mengenali peserta didik lebih dalam akan sangat membantu para guru dalam membuat strategi pembelajaran menjadi lebih relevan dan sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Langkah yang paling mendasar untuk mengenali peserta didik dapat dilakukan secara tertulis maupun lisan, misalnya dengan melakukan asesmen diagnostik yaitu asesmen yang dilakukan secara spesifik agar dapat mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, dan kelemahan peserta didik sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kompetensi, kondisi, serta kebutuhan peserta didik.
Diperlukan semangat usaha dan kemauan yang besar pada diri seorang pendidik agar dapat melakukan perubahan perbaikan dalam pendidikan.
Guru yang baik adalah guru yang mengajar dengan tulus serta dapat memotivasi peserta didik agar mempunyai kemauan untuk belajar dan mengembangkan diri.
Sejatinya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang akan diingat oleh peserta didik sepanjang hayat. Keberhasilan pengimplementasian Kurikulum Merdeka dipengaruhi oleh kesiapan dan kompetensi guru.
Upaya yang dapat dilakukan guru dalam mewujudkan Merdeka Belajar terhadap peserta didik yaitu dengan mewujudkan pembelajaran yang bermakna dalam kehidupannya.
Contoh penerapan Kurikulum Merdeka yang sudah dilakukan di sekolah yaitu dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi. Adapun yang dapat dilakukan guru di kelas yaitu: 1) melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik.
Cara itu bisa dilakukan dengan wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dan lain-lain. 2) merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar peserta didik). 3) mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.
Dari ketiga cara tersebut, pemetaan kebutuhan belajar merupakan kunci pokok seorang guru untuk dapat menentukan langkah selanjutnya.
Jika hasil pemetaan tersebut tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang dibuat dan dilakukan akan menjadi kurang tepat.
Adapun dalam pemetaan kebutuhan belajar peserta didik juga diperlukan data yang akurat, baik itu dari peserta didik itu sendiri, orang tua/wali, maupun lingkungannya.
Manfaatnya yaitu dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang merata bagi semua peserta didik.
Wiwid Satri, S. Pd, Guru SD Negeri 4 Tukak Sadai

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.