Pantun digunakan masyarakat Melayu di sana dalam menyampaikan ekspresi dan emosi seseorang seperti untuk bersenda gurau, mengungkapkan cinta, acara adat, pernikahan, duka, dan masih banyak lagi.

Selain itu pantun digunakan masyarakat Bangka Belitung sebagai penghalus bahasa agar pesan yang ingin di sampaikan tidak terkesan kasar namun pesan yang ingin diungkapkan dapat disampaikan.

Namun sekarang penggunaan pantun dalam percakapan sehari-hari sangat jarang digunakan.

Selain zaman sudah maju, pantun dianggap agak ribet digunakan dalam kehidupan sehari-hari ditambah sekarang banyak dari orang-orang menggunakan istilah modern atau yang lebih kita kenal dengan bahasa Inggris yang menjadi bahasa nasional.

Di Lepar, pulau yang terletak di selat Gaspar ini yang mayoritas sukunya adalah Melayu tentu memiliki pantun khasnya.

Menurut Isnen Sahud selaku mantan Ketua Adat Desa Tanjung Labu, dahulu masyarakat desa Tanjung Labu sering melakukan perjalanan dari desa Tanjung Labu ke Hungai Pangku, yaitu daerah perkampungan lama untuk pergi ke kebun atau mencari ikan di pesisir pantai.

Di tengah perjalanan, ia mengatakan bahwa terdapat batu  besar yang berada dekat bibir pantai yang di beri nama batu Isa atau batu Ise.

Baca Juga  Santri Indonesia, Penuntun Peradaban Dunia

Di sinilah masyarakat Tanjung Labu sering berhenti sejenak untuk beristirahat. Dalam istirahatnya biasanya mereka akan makan dan minum dari bekal yang dibawa dari rumah juga berpantun untuk melepas penat serta sebagai hiburan.

Isnen Sahud atau kerap di sapa Buk Nen juga mengatakan bahwa ada satu pantun legendaris yang sering dilantunkan ketika singgah di batu Isa.

Namun Karena sudah lama Isnen juga lupa dengan bait pantun tersebut.

Dari sini kita menyimpulkan bahwa suku Melayu di mana pun pasti tidak lepas dengan yang namanya pantun.

Namun sekarang, masyarakat Lepar sudah jarang menggunakan pantun.

Banyak faktor yang menjadikan pantun sudah jarang digunakan. Melalui wawancara dengan Joana, salah satu warga desa Tanjung Labu.

Ia menyebutkan bahwa alasan dirinya tidak menggunakan pantun  sebagai pelengkap percakapan sehari-hari karena ia tidak tahu dan mengerti cara merangkai serta menuturkan pantun.

Tidak hanya Joana, dari hasil beberapa wawancara dengan masyarakat asli di sana, sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa mereka tidak terbiasa menggunakan pantun sebagai bahasa pelengkap.

Baca Juga  Menjelang Kemerdekaan

Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa alasan utama mengapa pantun sudah jarang digunakan karena tidak dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu jika dianalisa, ternyata terdapat beberapa alasan lain yang membuat pantun menjadi asing di masyarakat asli Melayu.

Seperti kurangnya literasi terkait pantun, SDM rendah, pemikiran masyarakat yang berubah, perkembangan zaman, dan masih banyak lagi.

Penulis selaku warga asli Melayu juga turut prihatin dengan fenomena akulturasi dan asimilasi yang terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Penulis memiliki harapan agar Pantun dapat dipadukan dalam kehidupan sehari-hari seperti kita berbicara kepada teman, orang lain, dan masyarakat luas.

Kita bisa menjaga budaya berpantun di Lepar atau bahkan se Bangka selatan agar tidak hilang ditelan peradaban seperti menggunakan pantun sebagai pelengkap acara tertentu, bercanda dengan teman menggunakan beberapa bait pantun, atau mungkin membuka presentasi di kelas menggunakan pantun.

Baca Juga  Bedok Panjang

Dari hal kecil ini, kita mempertahankan dan membiasakan diri berpantun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam era globalisasi ini, tentu penggunaan pantun agak dikesampingkan.

Namun kita sebagai bangsa Melayu tidak mungkin meninggalkan budaya yang sudah turun-temurun menjadikan bangsa kita, bangsa Melayu yang memiliki tutur kata yang sopan, budi yang baik, juga akhlak mulia.

Meskipun kita tidak menggunakan pantun sebagai alat komunikasi sehari-hari, tetapi kita bisa mengambil nilai-nilai yang dari esensi pantun.

Melalui pantun, kita bisa belajar tentang bertutur kata yang sopan, selalu menjaga perasaan orang lain, selalu bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dan selalu menimba ilmu agar menjadi pribadi yang baik.

Kita juga bisa menjadi penasihat antarsesama apabila ada kesalahan.

Sekali lagi penulis ingin agar dalam beberapa waktu ke depan, pantun sudah bisa berkolaborasi dengan kehidupan sehari-hari. Dari hal kecil ini kita bisa menjaga budaya asli sebagai identitas sebuah bangsa.

Mari kita lestarikan budaya bangsa agar tidak hilang di makan usia.

Varellio Tryan Febrieno, Siswa SMAN 1 Lepar, Bangka Selatan