Kisah Inspiratif Profesor Eries, Guru Besar Kedua di Universitas Bangka Belitung
Meski setiap doa yang dilantunkan selalu ia katakan Aamiin.
Beberapa buku telah ia tulis dari hasil penelitian yang dilakukan bersama teman teman dosen dan mahasiswa, terutama dalam bidang pemuliaan tanaman.
Eries juga merakit varietas tanaman padi lokal Bangka menjadi varietas unggul melalui Iradiasi sinar gamma yaitu PBM UBB1.
“Semua karya saya tulis agar orang lain bisa mengambil manfaatnya. Beberapa buku yang saya tulis seperti Plasma Nutfah Potensial di Bangka Belitung, Teknologi Budidaya Tanaman di Lahan Pasca Tambang Timah, Strategi Pemuliaan Tanaman, Penerapan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) di Lahan Bekas Tambang Timah dan Lahan Cetak Sawah Baru, dan lainnya,” imbuh Eries.
Salah seorang pembimbing disertasinya dari Universitas Brawijaya, selalu memotivasi untuk mengajukan profesor.
“Setiap kali kami bertemu ataupun berkomunikasi via chat, beliau selalu mendoakan agar saya segera profesor. Ia selalu menyemangati saya menulis, dan jangan takut atau tidak percaya diri dalam melakukan publikasi. Namun, entah mengapa saya tetap tidak pernah membaca apapun ketentuan, ataupun aturan untuk menjadi profesor. Yang saya lakukan hanya terus meneliti, mendokumentasikan penelitian dan melakukan publikasi,” kata Eries.
Kesadaran baru muncul pada dirinya ketika UBB melahirkan profesor yang pertama yaitu Prof Ibrahim.
Eries mulai berfikir, kenapa ia tidak mau melakukan hal yang sama. Akhirnya, pada pertemuan yang diadakan oleh rektor dalam tajuk Inisiasi Lektor Kepala dan Guru Besar di UBB, ia baru tersadar betapa pentingnya keberadaan guru besar bagi UBB.
“Maka saya segera mengumpulkan publikasi-publikasi yang saya dokumentasi untuk bisa diajukan ke guru besar. Saya juga meminta bantuan kepada profesor saya yang ada di Universitas Brawijaya agar membimbing saya dalam publikasi,” ujarnya.
“Alhamdulillah Alloh memberikan segala kemudahannya dan saya selalu percaya firman Alloh dalam Al-Qur’an “Alloh tidak akan merubah nasib (seseorang) suatu kaum apabila ia tidak ingin atau mau merubah nasibnya sendiri” (QS. Ar-Radu’: 11),” kata Eries.
Menurutnya, ayat inilah yang juga sering ia sampaikan kepada mahasiswa untuk memotivasi mereka lebih giat belajar. Agar mereka tidak menjadi generasi yang lemah dan patah semangat. Mengharap nilai baik dari dosen tanpa mau berjuang.
Maka saya sendiripun terus berjuang untuk memenuhi persyaratan untuk menjadi profesor.
Berbagai ujian muncul ketika dirinya berusaha mencapai gelar professor.
Bahkan ujian demi ujian datang untuk menguji kesabaran, sampai akhirnya saya menyerah dan memasrahkan semuanya kepada Alloh SWT.
Namun yang luar biasa UBB terus membimbing semua dosen dosennya untuk mencapai jabatan fungsional tertinggi. Dan saat gelar Profesor Eries diterbitkan di 1 November 2023, dirinya semakin yakin pada firman Alloh dalam Al Qur’an: “Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al-Insyirah: 5-6).
“Semoga dengan semua ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, berbagi ilmu pengetahuan dengan siapapun dan bisa mendidik generasi (mahasiswa) menjadi pribadi-pribadi yang memiliki intelektual tinggi, berakhlak mulia dan memiliki mental yang tangguh. Allohuakbar,” tutup Eries. (Eries Dyah Mustikarini)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.