Oleh: Yan Megawandi

Belum lama ini saya dituduh menulis hoaks di media massa cetak dan online oleh seseorang.

Padahal saya hanya mencoba bertutur tentang inflasi dan likalikunya di Bangka Belitung.

Termasuk macam-macam upaya yang coba dilakukan.

Pertama saya dituduhnya menyebarkan berita hoaks. Tapi kemudian tuduhan kedua dialamatkan kepada saya sebagai tukang buli.

Semua yang saya paparkan ditulisan itu dianggap merupakan konspirasi jahat buat menyingkirkan dan menjatuhkan marwahnya sekaligus membulinya sebagai pejabat.

Ketika siang hari saya baru sempat membalas chat nya di aplikasi whats apps.

Dengan hati-hati saya mencoba menulis penjelasan tentang tulisan yang saya buat sebelumnya. Naskah tulisan yang ada di Wa terkirim tapi hanya centang satu. Gagal.

Baca Juga  Ironi Kaltim: Syahwat Fasilitas di Tengah Defisit Empati Kepemimpinan

Ternyata nomor saya telah terblokir di nomornya. Apa boleh buat.

Saya tak bisa lagi menjelaskan padanya argumen tentang tulisan terdahulu itu. Terbersit di benak saya. Apa mungkin ia termasuk orang yang ‘Baperan’ makanya ia agak mirip mercon. Sumbu pendek mudah meledak.

Tapi rasanya agak tak mungkin orang baperan bisa memiliki karir begitu cemerlang. Seperti sepatu yang baru disemir. Mengkilat dan ‘Bedelew’.

Mari kita cermati istilah baper yang berhasil saya temukan di google: Baper adalah kependekan dari “Bawa Perasaan”.

Istilah baper ini tidak selalu soal perasaan cinta atau asmara. Tetapi juga bisa digunakan pada seseorang yang memiliki sifat sensitif dan sering menggunakan emosinya untuk menanggapi peristiwa apapun dan juga objek lain.

Baca Juga  Pembentukan Kebijakan Publik yang Inklusif

Masalahnya adalah bila sifat baperan itu melekat pada seorang pejabat publik. Maka akan muncul kesulitan.

Karena sebagai seorang pejabat publik yang mengurusi beraneka rupa urusan yang berkembang dalam masyarakat yang juga memiliki sifat yang beragam sikap baperan akan membuatnya jadi aneh.

Antara lain si pejabat akan mencoba menanggapi semua komentar yang didengar atau dibacanya.

Itu artinya ia akan kehilangan enerjinya buat menangani masalah-masalah yang justru lebih prioritas.

Bila anda berkesempatan membuka gramedia.com maka dinyatakan bahwa penyebab orang baperan itu ada banyak hal.

Pertama, lebih banyak menggunakan perasaan ketika menganggapi sesuatu.  Kedua, mudah percaya pada kata-kata orang lain.

Ketiga, tidak mempunyai tujuan hidup. Keempat, terlalu mengikuti tren. Dan terakhir yang kelima, terlalu mencintai sesuatu.

Baca Juga  Menag Imbau Masyarakat tak Pilih Pemimpin yang Memecah Belah Umat  

Saya tak paham mana dari kelima penyebab ini yang sedang melandi si pejabat tadi. Atau malah semuanya?

Saya kemudian ingat pesan seorang dosen saya di waktu kuliah. Ia seorang guru besar psikologi yang telah malang melintang di dunia akademis sekaligus konsultan perusahaan-perusahaan besar.

Pada masanya ia juga diminta mengajar di beberapa universitas di luar negeri. Prof Djamaludin Ancok namanya.

Ia orang desa Menduk Kecamatan Mendo Barat, Bangka tapi menyelesaikan program doktor psikologinya di Indiana University setelah menamatkan program sarjana di UGM dan mendapatkan beasiswa.