Konsep 3 M

Kata Prof Djamaludin Ancok kita mesti mengamalkan kiat 3M agar bisa jadi pemimpin yang dapat diandalkan.

Jadi lebih keren di mata bawahan dan masyarakat serta bukan pemimpin yang baperan.

Katanya rumusan 3M itu dikutipnya dari seorang ilmuwan terkenal di Harvard Business School. Namanya Rosabeth Moss Kanter.

M yang pertama ialah meaning. Memberikan arti lebih pada setiap yang kita lakukan.

Seorang tukang listrik misalnya akan merasakan bekerja lebih bermakna bila kabel yang sambung dan dipasangnya diniatkannya untuk membantu orang lain mengatasi masalah.

Sebagai contoh ia menyambung kabel listrik namun diartikannya untuk membantu dokter yang akan melakukan operasi.

Atau menolong pelajar dan mahasiswa yang akan ujian. Memberikan makna yang lebih membuat orang lebih merasa berguna.

M kedua adalah membership. Pemimpin perlu “Memanusiakan manusia”.

la memperlakukan pegawainya sebagai anggota perusahaan atau organisasi yang terhormat (membership), bukan hanya sebagai seorang pegawai yang dibayar upahnya karena dia sudah menyelesaikan tugas.

Baca Juga  OTT Pejabat Negara, Momentum Menata Negara Lebih Baik

Pemimpin semestinya sangat peduli dengan pegawainya (individual consideration). Namun dalam kenyataannya, sangat sering seorang pemimpin bergaya seperti seorang bos yang berkuasa yang tidak menghormati peran pegawai yang berada di strata bawah, bicaranya ketus, suka marah-marah, dan tidak mengapresiasi hasil kerja bawahannya.

Ia tak peduli bagaimana kondisi bawahan dan tim. Yang penting target-targetnya tercapai. Yang diburunya hanya keberhasilan dan pujian, yang akan diakuinya sebagai keberhasilannya. Padahal sukses seorang pemimpin sangat ditentukan oleh sukses kerja bawahannya.

Masih menurut Prof Djamaludin Ancok, seorang pemimpin selayaknya memiliki R.E.S.P.E.C.T kepada jajaran yang dipimpinnya, yaitu Recognition (penghargaan), Empowerment (pemberdayaan), Supportive Feedback (umpan balik suportif), Partnering (sikap sebagai mitra kerja), Expectation (harapan positif), Consideration (pertimbangan positif), dan Trust (kepercayaan).

Baca Juga  Perempuan dalam Lingkaran Perdagangan Narkoba

Untuk kepentingan bersama, maka sudah seyogyanya bentuk dari kerjasama yang diberikan adalah yang tulus dan ikhlas serta tanpa adanya niat-niat terselubung.

Apapun tantangan dan rintangan yang timbul, semuanya perlu selalu bersatu padu dalam menanganinya. Tidak seorang pun akan dibiarkan menderita atau bahagia sendirian.

Semuanya akan selalu dirasakan bersama-sama; “Individuals play the game, but teams beat the odds” adalah moto SEAL Team. Begitu tulis Prof. Djamaludin Ancok di bukunya Startegic Talent Development (2019).

Sedangkan M ketiga ialah mastery. Seorang pegawai yang baik pasti ingin terus berkembang dan bertambah pengetahuannya dari waktu ke waktu serta memberikan tambahan kontibusi pada tempat dimana ia bekerja.

Untuk itu pemimpin yang baik yang sering pula disebut sebagai transformasional leadership akan secara terus menerus menciptakan kondisi yang mampu merangsang lingkungannya terus bertumbuh.

Baca Juga  Menyesuaikan Asesmen PAI dengan Karakteristik Gen Z

Memperbaiki cara kerja serta meningkatkan kemampuan. Pemimpin seperti ini jug mutlak menjadi contoh dan teladan bagi pengikutnya. Setiap pemimpin di berbagai jenjang hendaknya menjadi motor pembelajaran dimana pun mereka hadir.

Dengan memahami konsep 3 M yang diuraikan tadi bagaimanakah kiranya bila hadir seorang pemimpin publik yang baperan.

Apa pun yang terlintas dalam benaknya terutama yang menyinggung perasaannya akan ia ungkapkan kepada publik. Semuanya.

Teladan seperti apakah yang akan dicontoh oleh para bawahannya? Suasana kebatinan yang bagaimana yang kemudian akan terkondisi? Saya berharap analisis yang saya buat ini tidak benar sehingga tidak mengganggu lagi rasa ‘Kebaperan’ yang bersangkutan. Salam takzim.

Yan Megawandi, Pemerhati Budaya Bangka Belitung