Karya: Saskia Puspita Sari

“Baiklah! Terserah Ibu saja! Aku memang terlahir untuk selalu salah! Hanya kalian saja yang benar!!!”

Aku berlari ke kamarku dan langsung mengunci pintu. Kurebahkan tubuhku ke kasur dan menangis sejadi-jadinya. Seluruh emosi yang tertahan sedari tadi kuluapkan di sini. Marah, sedih, kecewa, kesal, semuanya bercampur aduk.

Semua ini terjadi karena ibu yang selalu menyalahkanku. Setiap aku dan adik laki-lakiku bertengkar, pasti segalanya tertuju padaku.

Mungkin tidak di setiap saat, tapi aku pasti selalu ikut disalahkan. Padahal jelas-jelas yang salah adalah adikku. Tapi kenapa? Kenapa aku harus ikut disalahkan?

Tangis kukian mereda. Aku lelah. Lelah dengan semuanya. Setiap hal yang ada di hidupku, selalu saja ada yang membuat kulelah.

Baca Juga  Luna

Hah…aku ingin istirahat. Sebentar saja. Perlahan-lahan aku menutup mataku. Aku pun tertidur.

***

Suasana yang sangat kelam. Isak tangis ku terdengar di seluruh ruangan, bahkan sampai ke rumah tetangga ku. Di depan ku, terbujur kaku tubuh seseorang. Itu adalah jasad Ibuku.

“Hiks.. Hiks.. Hua. Ibuuuu banguunnnn… Jangan tinggalkan akuuuu!”

“Cucuku… Sudah, sudah. Kau tidak boleh menangis dengan keras seperti itu. Doakan Ibu mu supaya tenang di sana ya…”

Bujukan Nenekku untuk menenangkan aku tidak berhasil. Aku tetap menangis.

“Ibuuuu… Kalau Ibu pergi, siapa yang akan jadi teman kuuu??? Huaaa.”

“Kakak, sudah cukup. Ki-kita, harus- hiks ikhlas.. Huaaaa”

Adikku kembali menangis karena melihatku tidak bisa berhenti. Kami berdua menangis bersama. Begitu berat jika harus melepaskan kepergian Ibu kami.

Baca Juga  Potongan Terkecil

Sosok yang sangat berarti, bahkan lebih dari kata itu. Sosok yang tidak akan pernah bisa digantikan dengan apa pun.

Seharusnya, Ibu hidup lebih lama dengan ku. Aku tidak akan bisa hidup tanpa Ibu. Bagaimana aku akan melanjutkan hidup ku? Aku telah kehilangan segalanya.

Rasanya, hidup ini sudah tidak ada artinya lagi. Begitu hampa. Semuanya telah hancur.

Tiba-tiba, mata ku terasa sangat berat. Tubuh ku lemas sekali. Aku tidak bisa menahannya. Bruk! Aku jatuh pingsan.

***

“Hah? Ibu! Hah… Hah… Hah… Mi-mimpi?”

Aku terbangun dengan napas yang tersengal-sengal. Mata, pipi, dan bantal ku basah karena air mata. Aku menangis sesenggukan. Ternyata hanya mimpi. Syukurlah… Aku sangat bersyukur.

Baca Juga  Perihal Pohon Mangga dan Amarilis Layu

Semuanya seperti bukan mimpi, sampai aku pun menangis di dunia nyata. Tapi, sekarang aku sangat lega. Walaupun tangis dan kesedihan ku masih terus berlanjut. Tidak akan terbayangkan bagaimana jadinya jika semua ini benar-benar terjadi.

Aku masih menangis. Walaupun tidak keras, namun kesedihan dan penyesalan yang ku rasakan begitu besar. Sedih karena bayangan dalam pikiranku, jika Ibu tiada. Menyesal, karena sudah membentak Ibuku tadi.