Ibu, Anugerah Tuhan yang Terindah
Hah… Semua ini mengingatkanku akan perjuangan Ibu. Perjuangannya dalam melahirkan kami bertiga. Pengorbanan yang begitu besar dan tidak akan pernah terlupakan.
Ibu ku melahirkan ku secara normal. Sedangkan kedua adikku, dilahirkan dengan operasi. Tidak pernah terbayang bagaimana Ibuku meregang nyawa nya demi bisa menyelamatkan kami.
Sosok Ibu yang rela menukarkan nyawanya untuk buah hati yang disayangi nya. Proses yang tentu saja tidak mudah. Namun ia ikhlas dan sabar menjalani nya.
Kalau bukan karena perjuangan Ibu, aku dan adik-adik ku tidak akan ada di sini. Ibu mengandung kami selama 9 bulan 10 hari. Pasti berat membawa kami kemana-mana dengan perutnya. Belum lagi bersama dengan aktivitas nya.
Setelah 9 bulan 10 hari itu, tibalah saat yang menegangkan. Peristiwa yang akan menjadi sejarah berarti bagi seorang Ibu. Melahirkan anaknya. Peristiwa yang mempertaruhkan nyawa, antara hidup dan mati.
Mengingat itu semua, ternyata semua yang ku alami tidak sebanding dengan rasa sakit dan pengorbanan Ibu ku. Keegoisan ku yang tidak ingin menerima kesalahan lah yang menyebabkan semua pertengkaran ini.
Andai saja aku ingin mendengarkan orang lain, andai saja aku tidak membentak Ibu ku. Pasti luka yang tergores di hatinya tidak akan ada. Aku tidak perlu melihat air matanya jatuh.
Aku tidak akan menimbulkan kecewa, sedih, dan amarah pada dirinya. Kecewa yang dirasakan nya, pasti tidak sebanding dengan yang kurasakan.
Aku langsung membuka pintu kamar, dan berlari mencari Ibu ku. Terlihat di kamarnya, Ibu ku sedang mengaji sambil duduk di atas kasur. Aku langsung menghampirinya dan mengecup tangannya. Air mataku mengalir. Sambil menangis, aku berkata.
“Ibu…. Hiks.. Maafkan aku- hiks.. ka-karena sudah- hiks.. membentak Ibu tadi…. Huaaaa”
Dengan lemah lembut Ibu ku berkata, “Iya Nak… Ibu memaafkan mu… Ibu juga minta maaf ya… Pasti perkataan
Ibu ada yang menyakiti hati mu.
“Hiks hiks.. Huaaaaa… I-Ibu tidak bersalah.. Huhuhuuu Maafkan aku Ibu…”
Aku sangat tidak menyangka. Ibu masih meminta maaf padaku? Padahal aku lah biang kerok nya. Tapi Ibu juga ikut merasa bersalah? Apa alasannya?
Hanya karena beberapa perkataannya yang mungkin menyakiti ku? Hahaha. Kalau di pikir-pikir itu agak lucu. Karena pada kenyataannya, aku lah yang menyakiti dirinya.
Sungguh mulia dan begitu lemah lembut hati seorang Ibu. Dari pengalaman ini, aku belajar. Bahwa menghargai dan mengasihi seorang Ibu merupakan hal yang terpenting dalam hidupku. Karena selama ini, alasan ku untuk tetap hidup adalah karena Ibu yang menjadi penyemangat terhebat.
Setelah pengorbanan besar yang dilakukannya saat melahirkan ku, ia berjuang membesarkan ku. Itu bukan perjuangan yang bisa dianggap sepele. Ibu yang terbangun di tengah malam karena tangisan ku, menenangkan ku hingga kembali tidur.
Aku yang sulit untuk untuk tidur, ditemani hingga terlelap. Ketika aku sakit, Ibu rela begadang sampai lewat tengah malam demi merawat ku. Sampai aku besar, kehangatan dan kasih sayang itu tidak pernah pudar. Walaupun aku sudah menggoreskan luka di hatinya, ia tetap memaafkan ku.
Tidak hanya itu, di setiap kesibukan nya dalam mengurus rumah dan keluarga kami, tidak sedikitpun perhatian nya kurang terhadapku. Ia selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan ku.
Tidak akan pernah terhitung jasa seorang Ibu. Semua jasanya tidak akan bisa digantikan dengan apa pun. Hanya satu yang hal yang bisa kita lakukan untuk membalasnya, yaitu berbakti kepadanya.
Berikan kasih sayang yang luar biasa kepadanya, layaknya ia yang menyayangi kita lebih dari apapun.
Doakan ia, agar selalu di dalam lindungan Allah SWT. Jaga hubungan dengan Ibu kita agar tidak rapuh. Layaknya sebuah tanaman yang tidak dirawat maka ia akan layu dan mati.
Seperti itulah gambaran sebuah hubungan. Namun jika kita merawatnya dengan sepenuh hati, hubungan itu akan tumbuh menjadi semakin indah, seperti sebuah bunga mawar. Ibu adalah anugerah Allah untuk kita.
Saskia Puspita Sari, Siswi SMAN 1 Payung Kabupaten Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.