“Iya, tapi Ibu akan berkata semua ini dan itu untuk kebaikanku. Sudahlah Bu, akhirnya kau lah yang akan memutuskan segala hal yang ada dalam hidupku. Sekarang terserah ibu saja aku sekolah di mana. Lagipula aku pasti bisa beradaptasi seperti di SMP.” Kataku pasrah.

Otot rahangku sudah ngilu. Aku sudah terlalu banyak bicara hari ini. Setelah sekian lama aku tak bicara.

Pembicaraan tentang sekolahku pun berakhir di situ. Setelahnya, hingga aku lulus SMP, tak ada yang menanyakan aku akan lanjut ke mana. Walau sekali dua kali ayahku juga penasaran. Tetapi akhirnya yang kutunggu-tunggu muncul. Banner beasiswa.

Apalagi ini tipe beasiswa yang dibiayai full dari sekolah, makanan, kamar, hingga sabun mandi dan perlengkapan sekolah juga disediakan tanpa dipungut biaya sepeserpun dari awal pendaftaran.

Banner itulah jawaban dari harapanku selama ini. Sungguh cocok dengan apa yang kuperlukan. Apalagi itu berbasis asrama dan tidak akan pulang ke rumah sampai liburan sekolah. Sangat perfect untuk diriku yang sudah lama ingin kabur dari istana dingin ini. Lagipula, aku tak berharga di sini. Hanya beban yang untungnya masih diberi makan.

“Ibu, aku sudah mendapatkan banner beasiswanya. Bannernya sudah kukirimkan ke Ibu. Coa ibu lihat. Aku akan mendaftar ke situ, apakah Ibu mengizinkan?.” Laporku pada Ibu. Mau bagaimanapun juga, aku tak akan bisa ke mana-mana jika tak sepengetahuannya. Lagipula pemdaftarannya juga harus diketahui orangtua.

“Bagus Sora. Ibu setuju keputusanmu. Jika ada hal yang tak bisa kau kerjakan. Coba tanya saudaramu.” Kata ibuku setuju. Sudah cukup aku lebih lega dan leluasa.

Kemudian, aku mendaftar dengan sepenuh hati dan semangat 45. Mengisi formulir dengan lancar, sampai ada bagian yang harus diisi dengan PDF. Aku kembali dilanda kesulitan internet. Namun akhirnya bisa kuatasi.

Tanpa guru pembimbing. Meraba-raba sendiri. Untungnya, segala hal persuratan dari sekolah telah diurus oleh guru konseling kami. Walau sempat dihambat oleh kepala sekolah yang entah kenapa tak suka sekali wajahnya bila melihat aku.

Syukurnya, pendaftaran berjalan lancar. Selancar kabar gembira memasuki notifikasi handphoneku. Aku lulus dalam tahap penyisihan berkas. Kemudian secara singkat, aku mengikuti babak penyisihan wawancara dan tes tertulis, kemudian lulus lagi dan mengikuti tahapan akhir.

Tahapan penentu kelulusan ini. Tes kesehatan. Untungnya aku tak begitu takut jarum—walaupun ada sedikit trauma karena suntik anestesi yang rasanya jarum yang masuk itu sebesar lidi. Lucunya, ada yang amat takut suntik hingga keceplosan mengeluarkan kata-kata kasar. Aku kaget, apalagi dia. Bahkan dokter yang menyuntiknya kelihatan syok.

Sebagaimana berdebarnya jantung kalian saat dekat dengan orang yang kalian suka, seperti itu pula debar jantungku berpacu. Menunggu tanggal dipublikasikannya berita lulus atau tidaknya peserta yang mengikuti tes kesehatan kemarin. Media internet ataupun koran kami pantau.

Akhirnya muncul. Tertera di sana, Sora Bhayangkara, lulus. Aku dengan semangat memberitahukan hal ini kepada ibuku. Dia amat senang, tanpa sepengetahuanku, ternyata dia juga ditanya-tanya saat aku menjalankan tes kesehatan lewat telepon.

Baca Juga  Belajarlah Melepaskan

Ibu bilang dia ditanyakan perihal alasan aku memilih jalur beasiswa ini dan apakah ibuku dan keluarga merasa terbantu akan hadirnya beasiswa ini.

Tentu ibuku menjawab sejujurnya, bahwa program beasiswa ini sangat menolongku yang hampir putus sekolah jika masih belum ada uang di akhir-akhir pendaftaran masuk SMA ini.

Dan terpaksa akan menunda setahun. Aku terkejut. Ternyata ucapan ibuku yang tidak akan memperdulikan biaya sekolahku waktu itu benar-benar serius. Untunglah, aku mendapat banner beasiswa ini.

Lebih terkejutnya lagi, hasil wawancara ibuku dimuat dalam berita yang entah bagaimana ada di notifikasi. Praktis tak ada satu kalimatpun tertinggal. Aku terdiam, menunjukkan berita itu kepada Ibuku yang kemudian dia tertawa. Aku bingung. Bukankah Ibu harusnya agak sedikit…malu?

Tapi apapun itu, yang terpenting aku sudah dinyatakan lolos dan positif akan memasuki asrama beberapa hari ke depan. Tentu saja aku langsung menyiapkan barang-barang yang wajib dibawa.

Bahkan aku melongo sendiri melihat betapa banyak barang yang kubawa, dari barang sebesar ember hingga barang sekecil jarum jahit. Bahkan setrika tak luput.

“Benar-benar seperti orang yang pindah rumah.” Gumamku yang ternyata terdengar oleh Ibu. Dia tertawa, lantas menyahut,” Kan kau memang akan pindah rumah, Sora. Rumah barumu adalah asramamu itu. Kau akan jarang pulang, apakah kau akan tahan?”

“Tentu saja aku tahan Bu. Jika tidak, maka aku tak akan memilih beasiswa yang ini.” Kataku.

Tak tahukah ibuku bahwa selama ini aku mencari cara terbaik untuk keluar dari istana dingin itu? Ini adalah kesempatan emas. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Akan aneh jika aku sedih untuk tinggal di asrama.

Lalu, dimulailah kehidupanku di asrama itu. Dengan semua kebutuhan hidupku ditanggung asrama. Awalnya kami tidak mendapat uang jajan. Namun akhirnya dapat juga uang saku dari asrama.

Karena kami baru masuk ke lingkungan asrama tersebut, dan nuansa pandemi masih kental. Kami sama sekali jarang menunjukkan wajah tanpa masker.

Jadi, untuk lebih mengenal antar sesama dan mempererat ikatan keluarga di asrama, OSIA—semacam OSIS tapi untuk asrama—mengadakan kegiatan PKA (Pengalan Keluarga Angkatan) yang berlangsung selama 3 hari.

Dan selama itu pula, kami harus mengumpulkan handphone, menjaga telur—yang harus dibawa kemana-mana bahkan saat ada kegiatan apapun—dan dilatih menjadi bagian “Keluarga Asrama” dibawah pengarahan OSIA. Ini sama saja seperti MOS (Masa Orientasi Siswa) atau MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).

Yang membuatku terkejut ialah sama sekali tidak ada tindakan kekerasan, atau semacam “Latihan Mental” yang selalu digaungkan saat adanya MOS. Di asrama ini yang ada ialah kebalikannya.

Para pengurus OSIA sangat berhati-hati dalam membimbing kami, bahkan mereka tak segan meminta maaf jika mereka memang salah. Aku mengernyitkan dahi. Aneh.

Aku terbiasa dengan omong kosong bahwa tidak ada senioritas di sini. Namun yang ada hanyalah sopan santun, semisal menyapa. Yang pastinya tak kuanggap serius karena semua MOS pasti akan ada senioritasnya.

Baca Juga  Setangkup Prahara Berbalut Kemelut

Eh, ternyata tidak. Benar-benar berbeda di sini. Bahkan hukuman jika melanggar peraturannya pun termasuk ringan. Hanya sekedar jalan jongkok jika telat, push up, atau lari keliling lapangan—di depan gedung serba guna kami ada lapangan bola. Benar-benar fantastis.

Nah, setelah masa 3 hari itu, barulah kami benar-benar menjadi anggota keluarga asrama ini. Handphone kami dikembalikan, namun kami tidak diperbolehkan menghubungi orangtua selama 3 bulan.

Karena dikhawatirkan kami tidak bisa “disapih” dari keluarga. Sebenarnya kami itu sudah sangat beruntung masih di beri handphone dengan bebas. Karena pembelajaran masih via online. Jadi mau tidak mau kami harus memegang handphone. Jika tidak, menilik dari aturan lama, kami hanya diizinkan memegang handphone hanya pada hari Sabtu dan Minggu.

Akupun tenang-tenang saja tidak menghubungi orangtua. Apalagi kakak. 3 bulan bahkan lebih sama sekali aku tak menghubungi mereka. Teman-temanku pun bertanya setelah memperhatikanku yang amat santai tanpa pernah menghubungi orangtua.

Tidak seperti yang lainnya yang kalau tidak mengeluh rindu ya mereka pasti menangis ingin pulang. Aku pun heran. Mereka masuk sini karena mereka tahu resikonya, kan? Mengapa begitu sulit memahaminya?

Yah, jika Ibuku tidak menghubungiku, atau bertanya sesuatu seperti, “Apakah kamu nyaman di sana” atau semacamnya. Aku cenderung diam dan tidak berinisiatif memulai percakapan. Aku takut salah bicara. Orangtua adalah orangtua, bukan teman. Kata Ibuku selalu terngiang. Jadi aku tak terlalu peduli jika mereka tak menghubungiku. Sampai akhirnya saudara yang sudah lama menghilang menghubungiku. Aku senang. Aku tersenyum setelah sekian lama aku jarang tersenyum. Namun kebahagiaanku dihempas begitu saja, tatkala saudaraku yang kukira rindu padaku ternyata menelepon hanya untuk memarahiku karena aku mebuat ibuku rindu padaku karena aku yang tak menghubungi Ibuku. Aku terdiam. Aku sangat ingin mengatakan,”Kak, bagaimana caranya? Aku hanya takut salah kata, Kak.” Namun mulutku terkunci. Aku mengiyakan.

Mulai itu aku mencoba menghubungi Ibu. Dengan sehati-hati mungkin. Dan tak lama. Saudaraku kembali meneleponku. Aku kembali tersenyum, mungkin dia akan memujiku seperti aku ketika kecil mendapat juara satu? Ah, ternyata tidak.

Dia kembali memarahiku karena melihat cuplikan layar yang dikirimkan Ibuku padanya, berisikan pesan yang kukirim. Katanya caraku berkirim pesan seperti orang yang tak tahu sopan santun.  Seperti tak pernah di ajar. Air mataku meleleh. Lelah tertahan di pelupuk mata.

Aku menyibukkan diri dan berusaha untuk mengerti semua pelajaran baru yang aku dapatkan via online di asrama. Berusaha melupakan segala sesuatu tentang keluarga. Aku fokus belajar. Walau asrama ini sama sekali tak menghukum jika nilaiku rendah. Aku tidak akan mau kalah. Di sini arena berperang.

Kelas yang berisikan yang terbaik dari yang terbaik di sekolah mereka masing-masing, yang semuanya dikumpulkan menjadi satu kelas. Kami awalanya adalah para juara. Tentu saja tak bisa semuanya mendapat juara satu, atau mempertahanan sepuluh besar yang biasa kami dapatkan.

Aku terbanting jauh saat pertama kali menerima rapot. Dari sepuluh besar menjadi 25 besar, lebih tepatnya 21. Tapi tak apa, awalnya sebelum aku mendapat perngkat 7 itu akupun sempat terbanting ke peringkat 15, sebelum akhirnya ke 5, lalu ke 7.

Baca Juga  Sastra Siber: Membuka Pintu Baru Menuju Dunia Kreativitas Digital

Sama seperti kelasku saat SMP. Persaingan di mana-mana. Justru karena satu rumah, kami bahkan tidak tahu atau terlalu baik pada musuh nilai kami. Musuh dalam selimut.

Tak sengaja tanpa sadar melalaikan tugas kami hanya untuk bercengkrama ria. Tak menyadari bahwa mereka sengaja untuk membuat kami lalai. Aku mengerti sekarang. Satu rumah dengan sainganmu tidak sebaik itu juga, kamu bahkan tidak tahu kapan mereka mulai belajar.

Atau kalian akan percaya sekali dengan apa yang kalian lihat bahwa mereka santai sekali, tak pernah belajar. Membuat kalian santai juga. Lalu ternyata peringkat mereka di atasmu. Membuatmu heran.

Hei, sini kuberitahu. Kenali musuhmu, kenali dirimu, dan kenali medan perangmu. Walau kau merasa telah mengetahui musuhmu sedekat apapun kau memperhatikan, jangan selalu percaya dengan apa yang kamu lihat.

Fokus pada peningkatan dirimu, namun sekali-kali peka pada peningkatan orang lain. Jika kalian melihat mereka santai, pikirlah jika mereka sudah mengerti atau sudah selesai mengerjakan, jangan kalian ikut santai pula sementara kalian belum selesai mengerjakn tugas. Dengan begitu mereka akan mudah sekali mengalahkan kalian.

Meski begitu, kami selalu bersaing sehat. Walau ada yang ambil start duluan, itu adalah cara mereka bukan? Kami tetap “menyayangi” layaknya keluarga.

Yang paling penting, tak ada yang menatapku dengan tatapan jijik dan keengganan menjawab pertanyaanku. Mereka semua dengan senang hati akan memberitahuku jika mereka mengetahui sesuatu tentang apa yang aku tanyakan. Aku benar-benar mendapat lingkungan yang sehat dan aman. Rasaya seperti surga bagi para pelajar.

Orangtua kami bahkan tak perlu mengirimi kami uang untuk membeli paket internet. Di asrama ini kami bahkan mempunya 4 Wi-Fi yang terdapat di dalam gedung serbaguna. Jam belajar kami diatur dan teratur.

Kami bahkan dilatih berbahasa inggris di sini. Ada 2 malam yang diwajibkna berbahasa Inggris di sini, malam Selasa dan malam Kamis. Pada malam itu kami diwajibkan berbahasa Inggris bahkan kepada teman satu kamar.

Jikapun memakai bahasa isyarat, akan ada petugas dari perwakilan OSIA yang akan bertanya tentang apapun dalam berbahasa Inggris dan kami wajib menjawab dalam bahasa Inggris. Tak bisa kabur. Cukup melatih soft skill kami.

Aku sekarang tahu, jerih payahku bertahan di masa-masa SMP ku yang kelam ternyata tak sia-sia. Aku sekarang sedang menikmati kerja kerasku yang dulu.

Tapi aku tak akan terlena, karena jika aku puas sekarang, maka apa yang aku nikmati selain kerja keras dan cobaan di masa kulaih nanti? Aku harus menjadi lebih tekun dari SMP. Agar nanti aku mencapai cita-citaku tanpa membutuhkan uang orangtua lagi. Aku, Sora Bhayangkara tidak ingin menyusahkan orangtuaku untuk yang kesekian kalinya.  Kuharap kalian yang membaca juga begitu.

Nurul Jannah Gustina, Siswi SMAN 1 Pemali, Kabupaten Bangka