Senandika: Sembilan Hari tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta Bagian 3
Selesai presentasi yang membuat dehidrasi pikiran, berlanjut loncat sana sini dengan prinsip sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Untunglah cuaca masih bersahabat, mengantarkanku ke berbagai tempat. Andai engkau yang menemani …. Tapi kita masih uji nyali dulu, ya.
Perjalanan pulangku diguyur hujan di sepanjang jalan. Di dalam curahan hujan, kubiarkan saja rasa itu mengalir. Sang bayu yang menyapu curahan hujan memaksaku untuk berteduh di sebuah dangau tepi ladang, sekadar menghindari perihnya terpaan keganasan air surga yang melintas ke muka. Takkuat menerjang aliran deras dari langit. Beginilah rasanya menghindari suatu masalah, ngeri-ngeri sedap.
Ibarat di dalam curahan hujan di perjalanan, begitulah suasana hati tanpamu, merambat semakin dingin, gigil bersama angin berembus menambah geletar rasa. Namun, perjalanan harus berlanjut, menerjang hujan yang terkadang jumawa memainkan perasaan. Aku harus segera sampai ke gubuk kita.
Menghangatkan diri dalam dinginnya cuaca. Mengisi energi kembali agar dapat berkhayal tentangmu. Hari itu, aku telah puas diguyur pongahnya hujan. Hingga kidung cinta bersahutan mengingatkanku tentang kebesaran Allah, tentang dirimu yang masih beberapa hari lagi baru akan kembali.
Fajar Indah, 31 Januari 2024
