Klandestin
Aku menatap gambarmu yang kubuat baru-baru ini. Awalnya aku ingin memberi itu padamu sebagai hadiah, namun setelah semua ini, keinginan itu bak musnah ditelan bumi.
*****
Tak terasa sudah berapa lama aku berbaring dengan pikiran yang kosong, aku justru mendapati diriku membuka mataku. Aku dihadapkan dengan figur buram sehingga butuh beberapa kali mengerjapkan mata sebelum aku melihat ART kami di hadapanku yang menatapku kesal sebelum berkata,
“Mas Roman! Jam segini kok masih tidur? Sudah siang ini. Bangun gih, di depan ada temennya tuh.”
Temanku? Sejak kapan ada temanku yang datang ke rumah kalau bukan karena tugas kelompok.
“Siapa, Budhe?”
“Maya. Sana temui dia. Dia nunggu dari tadi, lho.”
Mendengar namamu, aku langsung terperanjat bangun. Kusadari wajahku yang masih kusut akibat lepas bangun tidur. Banyak pertanyaan terlintas selama perjalananku dari kamar ke ruang tamu yang terasa begitu jauh.
Namun semua pertanyaan itu lenyap ketika aku melihatmu tengah duduk di atas sofa. Begitu kau melihatku, kau berdiri sehingga aku bisa melihat gaun biru yang kau kenakan. Gaun biru pemberianku. Kau nampak begitu cantik ditambah dengan senyum tipismu.
“Maya mau Budhe bikinin minum apa.”
Kudengar suara Budhe dari arah dapur yang setengah berteriak. Lalu aku beralih ke arahmu yang nampak gugup dengan bola mata yang terus berkutat ke mana-mana. Aku pun menawarkan bantuan.
“Kau mau minum apa? Biar aku yang bilang ke Budhe.”
“Air putih saja, Al. Jangan repot-repot bilang Budhe.”
Setelah menyampaikan permintaanmu, aku kembali ke ruang tamu menemuimu yang kini sudah duduk dengan anggun. Aku bisa menyaksikan dirimu yang gugup. Suasana mendadak menjadi canggung. Aku masih tidak mengerti kenapa kau ke sini ketika seharusnya kau menemui pria yang kau sukai.
Seketika rasa bersalah menbuncah dalam diriku. Mungkinkah ternyata kau sudah tahu aku menyukaimu dengan sikapku tadi pagi? Atau mungkin kau tahu aku tidak senang kau akan bersama pria lain?
Setelah situasi canggung yang tak tertahankan, kau akhirnya membuka suara, “Sebenarnya aku ke sini untuk–”
“Maaf, maaf, maafkan aku, Maya. Aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar keterlaluan. Tidak seharusnya aku cemburu!” Rasanya aku ingin sekali memukuli diriku sendiri usai mengatakannya.
Kulihat raut wajahmu yang dengan cepat berubah. Hal yang pasti terlukiskan adalah keterkejutan di wajahmu. Ekspresi selanjutnya tidak bisa terbaca, aku mulai menyesali ucapan spontanku.
“K-kau menyukaiku?” tanyamu.
Aku mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk itu, tapi tak satupun keluar dari mulutku. Aku pun hanya mampu membuang muka, tidak ingin berkontak mata denganmu. Aku mempersiapkan mentalku untuk kemungkinan terburuk akan reaksimu selanjutnya.
“Roman, lihat aku, katakan apa itu benar? Aku tidak akan marah padamu,” ujarmu lembut.
Mendengar penuturan itu, hatiku seketika luluh. Kemudian aku menatap kedua mata itu, pandangan yang penuh harap. Aku tidak pernah menduga tatapan itu hadir darimu.
“Ya,” jawabku singkat.
Kulihat dirimu tersenyum seolah berkata, “Oh, sayang. Kau seharusnya mengatakan itu sejak awal.”
Selanjutnya kudengar kau berkata, “Kau ingat ceritaku tentang laki-laki yang kusukai?”
Aku kembali menggali memoriku akan deskripsimu kala itu. Waktu itu aku tidak terlalu ingin mendengarnya karena aku begitu terbawa cemburu kala itu. Tapi karena kau memintaku mengingatnya, kenangan itu seketika berputar dengan jelas di kepalaku.
“Dia laki-laki yang sangat baik. Dia bukan tipe laki-laki yang gegabah apalagi keras kepala, justru pikirannya penuh dengan tanda tanya dan pemikiran-pemikiran rumit yang sebetulnya tidak perlu dipikirkan. Untuk itulah, dia selalu memahami perempuan seperti aku. Dia selalu ada di sampingku ketika aku membutuhkannya dan dia selalu punya cara untuk menghibur ataupun membantu dalam setiap masalah itu. Kesederhanaannya dan pribadinya yang luar biasa-lah yang membuatku jatuh cinta. Aku tahu aku terdengar naif, tapi kurasa aku ingin memastikannya sendiri.”
Sesaat setelah aku mengingat semua perkataanmu kala itu, kulihat kau duduk mendekat ke arahku. Kau menatapku begitu dalam dan penuh cinta. Secepat kilat aku dihantam fakta yang sangat mengejutkan. Barulah saat aku menatap matamu, aku menyadarinya. Betapa tidak pekanya aku selama ini, perasaan malu kini mengerubungiku.
“Dia adalah kau, Roman. Itulah yang ingin kuungkapkan padamu,” ujarmu penuh makna.
Rasanya semua pikiran dan perasaan yang hancur itu lenyap sudah. Aku bisa merasakan kebahagiaan yang perlahan naik hingga ke ubun-ubun. Pipiku terasa panas dan mungkin terlihat memerah sekarang. Aku ingat dua hari ini penuh dengan kejadian yang tak terduga. Nampaknya semesta punya caranya sendiri dalam menyampaikan takdir yang telah disusun sedemikian rupa.
Ada secercah kelegaan dari ekspresimu. Nampaknya sebelum kau sempat bertanya sekalipun, aku sudah menjawab semuanya. Kau tersenyum malu padaku dan bisa kurasakan hati kita sedang sama-sama berbunga sekarang.
Saat itu hanya dua kata yang terucap di bibirku, “Terima kasih.” Apa yang terjadi selanjutnya ataupun nanti akan menjadi cerita lain yang akan sangat indah saat diceritakan.
Tamat.
Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat, aktif menulis dan telah menerbitkan buku kumpulan cerpen Tiga Menit Hening
