Oleh: Rustam Hadi, M.Pd dan Raudya Setya Wismoko Putri, M.Pd

Literasi merupakan kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Jika didefinisikan secara singkat, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca. (Elizabeth Sulzby , 1986:11)

Literasi dianggap sebagai sebuah konsep penting yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dan menjadi komponen utama dalam mengembangkan kecakapan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Literasi juga menjadi tolak ukur negara dikatakan maju.

Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya, perlu adanya upaya keseriusan dalam meningkatkan literasi demi menyokong tercapainya kecerdasan kolektif dan pembentukan karakter masyarakat Indonesia. Literasi dipandang sebagai kebutuhan yang penting dikuasai oleh semua pemangku kepentingan, terutama guru, peserta didik, orang tua, dan ekosistem sekolah.

Guru menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih literat. Akan tetapi, masih banyak guru yang memiliki cara pandang dan pemahaman yang keliru dalam memaknai literasi sehingga terjadi berbagai macam miskonsepsi. Padahal menurut International Literacy Association (2022) menyebutkan bahwa literasi adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, menafsirkan, mencipta, mengkomputasi, dan berkomunikasi menggunakan simbol visual, auditori, dan digital mengenai topik lintas disiplin dan keilmuan.

literasi merupakan hal yang sangat penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Di Indonesia, rendahnya literasi membaca menyebabkan sumber daya manusia (SDM) tidak kompetitif sebagai akibat lemahnya kemampuan budaya membaca.

Meskipun peringkatnya naik menurut Menteri Pendidikan Nadiem Makarim Hasil PISA 2022 menunjukkan peringkat hasil belajar literasi Indonesia naik 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018, akan tetapi secara peringkat divantara negara-negara di Asia Tenggara, literasi di Indonesia masih berada pada urutan ke-6

Budaya literasi di sekolah sangatlah diperlukan, selain untuk meningkatkan mutu pembelajaran, juga dapat mengembangkan kemampuan siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna, bermutu dan menyenangkan.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 mewajibkan para siswa untuk membaca buku minimal 15 menit sebelum melakukan kegiatan belajar-mengajar di sekolah setiap hari. Permendikbud ini juga menyebutkan bahwa buku yang dibaca adalah buku nonteks pelajaran.

Esensi dari kebijakan ini adalah bahwa kegiatan membaca perlu dibiasakan sebagai rutinitas harian. Melakukan hal sederhana tetapi rutin lebih efektif membentuk kebiasaan yang berkelanjutan. Demikian halnya, 15 menit membaca setiap hari akan menumbuhkan siswa pembaca dan pembelajar sepanjang hayat

“Semakin sering siswa membaca, semakin cepat mereka menjadi pembaca yang baik dan kaya akan ilmu pengetahuan.”

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis sebagai seorang guru ingin mewujudkan dan menumbuhkembangkan Budaya positif dalam bentuk aksi nyata di sekolah.

Aksi nyata ini dilaksanakan untuk  (1) Meningkatkan minat baca siswa karena membaca merupakan kunci dari sebuah pembelajaran (2) Siswa secara mandiri dapat menggali informasi melalui membaca.

Dalam melaksanakan aksi nyata penulis membuat beberapa tahapan Sesuai dengan paradigma Inquiri Apresiatif dengan penerapan Langkah BAGJA.

A. Tahap (B)uat Pertanyaan

Dalam tahap ini persiapan melaksanakan aksi nyata ini penulis terlebih dahulu membuat pertanyaan dengan “Bagaimana cara menumbuhkan minat baca siswa?” Pertanyaan ini penulis buat sebagai panduan untuk memulai melaksananakan aksi nyata. Menurut penulis minat baca siswa dapat ditumbuhkan dengan cara memulai rutinitas belajar dengan membiasakan membaca terlebih dahulu.