Di kalangan masyarakat, warung kopi menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat mulai dari latar belakang sosial budaya untuk berkumpul, berdiskusi, mengobrol, bersantai berdialog, beropini kemudian minum dan makan bersama untuk mendapatkan suatu informasi.

Warung kopi bukan hanya tempat untuk menikmati secangkir kopi, warung kopi juga dapat menjadi tempat dimana orang-orang atau masyarakat berbagi informasi. Mereka berbicara mulai mulai dari masalah pribadi, pekerjaan, kantor, dan politik.

Demokrasi ala Warung Kopi

Percakapan tidak pernah berhenti di antara mereka yang sering mengunjungi kedai kopi. Karena orang-orang dengan sudut pandang yang berlawanan adalah hal yang biasa di warung kopi dan sangat sedikit orang yang membawa ketidaksepakatan mereka ke luar.

Baca Juga  Pilkada Ulang di Bangka Belitung: Momentum Mengembalikan Kepercayaan Publik

Warung kopi juga mampu membentuk masyarakat yang demokratis. Warung kopi dianggap oleh sebagian orang sebagai tempat berkumpul dan tempat melepas lelah dari aktivitas sehari-hari.

Warung kopi masih menjadi tempat umum bagi para pengusaha dan penjual untuk melakukan bisnis. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika orang dapat duduk berjam-jam di warung kopi hanya dengan secangkir kopi.

Dalam warung kopi semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya. Sebagai ruang publik, warung kopi memungkinkan para individu melakukan interaksi dan komunikasi yang mampu menciptakan karakteristik kehidupan sosial individu.

Oleh Habermas (2012) ruang publik ini adalah suatu ruang yang menjembatani antara negara dengan masyarakat sipil. Ruang ini adalah ruang universal di mana orang-orang berkumpul untuk mendiskusikan apa saja yang perlu didiskusikan yang tidak terikat oleh negara dan pasar.

Baca Juga  "Seni Menghilang": Merebut Kembali Ketenangan di Dunia Digital

Setiap orang dengan latar belakang yang berbeda-beda memiliki hak yang sama untuk datang dan berdiskusi di warung kopi selama ia mampu membayar sesuatu yang ia konsumsi di warung kopi tersebut.

Akhirnya apa yang dilakukan oleh penikmat kopi ini merupakan salah satu cara warga masyarakat untuk bersosialisasi diri dengan lingkungannya sebagai perekat sosial di tengah masyarakat. Pahitnya kopi yang diminum juga mengajarkan pada kita bahwa hidup terkadang pahit. Mungkin saja kopi yang diciptakan oleh Sang Pencipta agar kita tidak merasa sendiri dalam kepahitan. Wallahu a’lam.

Hermianto, Pembelajar Sosial, Politik dan Pembangunan