Oleh: Dedy Irawan

Media massa sebagai wahana komunikasi publik merupakan sarana yang sangat strategis menjadi tempat pembinaan bahasa Indonesia.

Media massa yang terdiri atas media elektronik, cetak, dan daring memiliki pembaca yang mencapai ribuan bahkan jutaan orang.

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam bahasa media atau bahasa jurnalistik tentu akan berdampak pada sikap positif berbahasa bagi pembaca baik lisan maupun tulisan.

Tokoh pers Indonesia, Rosihan Anwar mendefinisikan bahasa jurnalistik sebagai bahasa yang digunakan wartawan, atau disebut pula bahasa pers.

Menurutnya, ada beberapa sifat khas yang dimiliki bahasa jurnalistik, yakni singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.

Tentu, penggunaan bahasa jurnalistik haruslah sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Baca Juga  Bawaslu Babel: Peran Media Sangat Penting sebagai Bentuk Pengawasan Partisipatif

Pengalaman penulis saat mengikuti kegiatan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung pekan lalu, sungguh berharga.

Penulis yang berlatar belakang seorang kuli tinta merasa, rangkaian kata jurnalistik yang dibuat selama ini masih banyak kesalahan.

Terutama pada penggunaan bahasa baku, huruf kapital, kata, serta kalimat yang benar, dan sesuai kaidah.

Tulisan di media massa mungkin saja sudah dianggap benar secara bahasa Indonesia oleh pembaca.

Padahal faktanya, tidak sedikit kita temukan penulisan yang salah.

Contohnya dalam penulisan judul, kita sering menemukan sebuah berita peristiwa yang judul kata awalnya seperti geger, heboh, dan tragis.

Biasanya, kata judul seperti ini akan diikuti tanda seru. Padahal, penggunaan tanda seru kurang tepat. Karena, yang lebih tepat adalah tanda koma.

Baca Juga  KPU Pangkalpinang Sampaikan Aturan Kampanye di Media Massa, Begini Ketentuannya

Gaya penulisan seperti ini sering penulis lakukan. Tujuannya adalah untuk membawa pembaca masuk ke dalam tulisan yang kita buat.

Namun nyatanya, kebiasaan seperti ini jika dibiarkan secara terus menerus, akan menggiring pembaca membenarkan bahasa yang salah.

“Penggunaan tanda seru pada kata heboh, tragis di awal kalimat kurang tepat, sebaiknya gunakan tanda koma,” jawab salah satu narasumber Surya Eka Prayoga.

Penulisan kata baku sehari-hari seperti kata terima kasih yang seharusnya dipisah, sepertinya menjadi kebiasaan yang salah dan terus berulang.

Kata depan di dan ke masih sering kita temukan salah penggunaan dalam sebuah berita. Wartawan sering lupa bahwa penggunaan kata di dan ke jika diikuti dengan nama tempat harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

Baca Juga  Indahnya Kebersamaan Idulfitri 1444 H, Tongin Fangin Tjit Tjong

Kecuali jika diikuti dengan kata kerja barulah kata di dan ke harus dirangkai dengan kata berikutnya.