Rupa Padam Ranuman
*
Petang ini, Ranuman memasak lauk hasil memancing di sungai. Tak muluk-muluk, ikan yang dimasak hanya ikan kelik yang diberi rebusan air kunyit, terasi dan sedikit garam sebagai pelengkap. Tak lupa, beberapa irisan bawang dan cabai rawit yang tumbuh subur di ladang sahang miliknya sendiri.
Aroma harum manis menguar di rumah petak yang sederhana.
Darsono jadi ingat. Kemampuan memasak Ranuman mungkin bukan darinya, melainkan dari Parinah yang sedari dulu menyukai aroma dapur yang penuh bumbu dan asap kayu yang menyala. Kadang-kadang, senyuman Ranuman mengingatkan dirinya-Parinah-yang sudah lama mati.
“Kenapa, pak?” tanya Ranuman penasaran.
“Tidak. Hanya teringat saja,” senyum kesuh yang tersirat.
“Bapak mau?”
“Kau saja. Kau kan paling suka kepala ikan,” menggelengkan kepalanya yang berat.
Mendengarkan itu, Ranuman tersipu. Pengertian semacam ini yang membuat anaknya harus menyembunyikan manisnya kala ia tersenyum? Pikir Darsono.
“Parinah juga menyukainya,” Darsono tersenyum lagi.
Mendengar namanya, Ranuman rupanya padam. Lagi dan lagi, setiap nama itu terlintas dikepalanya, Darsono akan berkaca-kaca dan menahan serak di kerongkongannya. Ranuman tahu, ada semacam rindu yang tak terucap darinya. Orang tuanya.
“Kenapa, Pak?” tanya Ranuman lagi.
Darsono merenggutkan bibirnya, matanya satu-satu menahan deru yang tertahan lama dan sesekali tangan meremas kakinya telah mati.
“Semalam bapak bermimpi, Parinah marah karena bapak tak mengunjunginya lagi.”
“Rupa Parinah merah masam, tak menoleh ke bapak sedetik pun. Bapak sedih,” Lelaki tua itu merenggutkan bibirnya ke dalam.
“Bapak ingin pulang. Menjenguk makam ibumu yang sudah dipenuhi semak.”
Permintaan sederhana Darsono itu seperti sesuatu yang rumit. Pertama, Ranuman sendiri tidak bisa berhenti bekerja, apabila ia memaksa maka dia tak akan memiliki pekerjaan yang cukup untuk makan mereka berdua.
Rumah orang tuanya di Selatan, sudah lama ditinggal. Alasannya, di sana ia tak memiliki sanak keluarga, dan masa-masa tinggal di sana adalah kenangan duka meninggalnya Parinah yang sempat membuatnya kalut.
Permintaan bapak, tak sepenuh sejalan dengan pikiran Ranuman yang gersang. Balik ataupun tidak, ia sulit melakukannya. Darsono bukan kali pertama meminta ini, tapi Ranuman enggan untuk kembali. Rengek-rengekan itu seperti tangis masa kecilnya yang saban waktu tak terdengar olehnya.
Seminggu setelah Darsono demam tinggi, lelaki muda itu dibuat kebingungan. Selain panas yang tinggi, Darsono mengigau perihal istrinya yang datang menjemputnya pulang. Sempat terpikir, apakah malam-malam yang tersisa ini adalah waktu yang telah lama bapaknya nantikan. Dijemput pulang istrinya, Parinah.
Malam yang berhawa dingin ini menjadi saksi.
Lelaki itu tak tidur semalaman. Berjaga untuk terakhir kalinya. Menemani sang bapak yang tak suka tidur sendiri, yang akan terbangun tengah malam karena Munim yang mengeong kelaparan minta makan dan meminta dirinya untuk menemani malamnya yang sepi.
Tapi kali ini, ia tidak akan pernah merasakannya lagi. Ia tahu, rasa sakit saat ini tidak akan pernah hilang. Kehilangan sekali lagi terasa begitu menyakitkan. Ranuman terdiam di atas tubuh yang telah kaku di makan malam. Yang ruhnya tak akan pernah kembali.
**
SUDI SETIAWAN, adalah penulis kelahiran Bangka, seorang yang gemar menulis fiksi, esai dan puisi. Beberapa karya tersebar baik cetak maupun daring di media lokal dan nasional. Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas, serta pemenang sayembara penulisan cerita anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2023.
