Meminang Rayu
“Arindit. Kau tak perlu khawatir. Akan kunikahkan dahulu Rayu pada laki-laki itu. Baru kau selanjutnya lah yang kunikahi…,” memandanginya.
Rupa Arindit langsung merah merona seperti Kandis yang ranum. Bibirnya yang dicap merah cabai rawit lantas tersipu malu-malu. Akhirnya sesuatu yang telah ditunggu perempuan kepala tiga itu tiba. Sesekali membelai tangan Pak Toan yang berambut. Dua-duanya kepayang dimabuk asmara.
Janji pada mendiang istrinya masih dipegang sepenuhnya olehnya, Toan Warin. Walaupun, janji untuk tidak main dengan perempuan lain adalah sesuatu yang tidak ia tepati.
Janji itu adalah menikahkan Rayu, barulah ia diperbolehkan untuk meminang perempuan mana pun. Perempuan tak lain tak bukan ialah penjual kopi simpang tiga yang saat ini bersamanya.
Dengan kesadaran penuh, ia bertekad menjodohkan anaknya dengan laki-laki yang dianggap sudah layak menjadi suami untuk Rayu. Tanpa tahu menahu, latar yang membelakangi laki-laki pilihannya sendiri.
Masih banyak hal buta yang tak terawang olehnya. Pak Toan hanya ingin melaksanakan hajat dari mendiang Harumi, istri pertamanya sebelum mati. Lantas barulah hajatnya sendiri.
Setelah asap lintingan itu menguar, Arindit dengan centilnya dengan sengaja memperlihatkan betisnya yang bersih seputih susu. Arindit melirik, memastikan hanya mereka berdua di toko kopi siang hari ini. Sesekali memastikan anak sulungnya sudah tertidur di emperan toko.
“Tokonya aku tutup dulu, Bang,” kata Arindit sembari menarik pergelangan tangan pak Toan masuk mengikuti arahan perempuan itu ke dalam.
*
Rayu menemui Asri, teman sebayanya yang sudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi anaknya yang baru berusia satu tahun setengah. Suami Asri melarikan diri setelah menikahi Asri yang ketahuan mengisi sebelum hajat perkawinan dilaksanakan.
Katanya, laki-laki yang menghamili Asri malu. Tapi apakah dia sadar, apakah Asri demikian pula malunya membawa perutnya terus saja membengkak. Sembari mendengarkan cibiran kanan-kiri setiap dia berjalan ke mana pun kakinya berpijak.
Mungkin, itu sudah takdir Asri. Tapi Rayu belum bisa memastikan langkah seperti apa yang harus dilakukan saat ini.
Rayu sendiri menganggap Asri sebagai kakak yang bisa diajak bicara. Tidak seperti Abang Jalil yang dulu kerap memerintahnya seenaknya. Asri berbesar hati menjadi telinga yang tulus dan mata yang binar ketika Rayu mulai mengutarakan isi hati. Sesama perempuan, Asri adalah pilihan tepat yang dimiliki Rayu.
Asri paham, selain kedatangan Rayu yang dirasa janggal ia juga bisa menyadari ada sesuatu yang tersembunyi di dalam paras ayu milik temannya. Setelah meminta Rayu duduk diruang tamu, Asri mulai mengulik apa yang dirasakan olehnya, Rayu.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Asri yang melas, rupa temannya sudah terlihat tak berseri seperti sebelum kabar pinangan itu tersebar.
“Asri. Aku resah. Sesuatu yang sesak membuat terlalu mendesak diriku,” Rayu tumpah ruah, tangis yang getir merembesi wajahnya.
“Ada apa. Bukankah, kau harus bahagia sekarang?” Asri tak mengerti. Kenapa kabar yang seharusnya bahagia itu terasa begitu menyedihkan.
“Tidak. Aku tidak bahagia Asri,” Rayu mengepalkan jemarinya erat.
“Jika saja aku bisa menolak permintaan bapak, mungkin, hidupku tak akan terikat seperti ini,” Rayu menatap Asri. Kehampaan itu terasa begitu dalam menyentuh batin Asri.
“Rayu, kau bisa menolak. Jika perasaan itu masih terlalu gelap dan kau sendiri dipenuhi rasa keraguan…,” Asri memegang tangan Rayu yang gemetar.
“Kemarin, aku mendatangi Nek Nyih seperti permintaan bapak. Membawa foto calonku nanti. Kau tahu Asri, Nek Nyih berkata apa?”
Asri menggeleng.
“Laki-laki itu hanya menikahiku untuk menutupi kekurangannya sendiri. Aku tak tahu maksudnya. Tapi setelah aku menemui laki-laki ini kesempatan kedua, aku jadi paham.”
“Tapi kenapa Bapak menjodohkan aku dengannya, yang jelas-jelas Bapak sendiri belum tahu siapa sebenarnya laki-laki pilihannya…”
Tangis rayu pecah.
“Selain itu, jika saja Emak masih hidup. Mungkin, perempuan penjual kopi itu tidak akan pernah menjual tubuhnya kepada bapak, Asri…”
Asri diam. Matanya ikut sembab karena Rayu yang ia kenal ceria dahulu kini tak lebih dari tangkai bunga yang rapuh dimakan waktu.
**
SUDI SETIAWAN, adalah penulis kelahiran Bangka, seorang yang gemar menulis fiksi, esai dan puisi. Beberapa karya tersebar baik cetak maupun daring di media lokal dan nasional. Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas, serta pemenang sayembara penulisan cerita anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2023.
