Niatku tulus ingin membantunya. Sudah lama aku memperhatikannya, sorot matanya selalu tampak sedih dan dia sepertinya kesepian. Tak berselang lama, kulihat tangannya dengan ragu mengambil korek api pemberianku.

Dia menatapnya sejenak sebelum menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan satu helaan napas, gadis itu mengangguk.

Tepat saat gadis itu mengiyakan, hujan pun reda dengan ajaibnya. Aku menatap langit yang hanya menurunkan beberapa tetes air.

“Sudah berhenti hujannya, kita bisa pulang sekarang. Ngomong-ngomong siapa namamu?”

Dia menatapku dengan sendu, “Bunga.”

Setelah itu, kami pun pulang bersama dengan motor biru tuaku. Sepanjang perjalanan, kami tidak saling bicara. Entah apa yang terjadi hingga gadis itu sangatlah sedih. Aku bisa mendengarnya terisak di belakangku.

*****

Tepat pukul 12 malam, kami pun akhirnya sampai tepat di depan rumah kami yang berseberangan. Mawar pun turun dengan pelan dari motorku.

Baca Juga  Pantun Kemerdekaan

Dia menghela napas berat sambil melihat rumahnya yang gelap. Dia pun mengeluarkan korek apiku dari saku jaketnya untuk kemudian dikembalikan padaku, namun aku segera menolaknya.

“Tidak, Mawar. Kau simpan saja.”

Mawar mengerutkan keningnya heran. Aku pun menjelaskan kepadanya.

“Korek api itu sudah tidak kubutuhkan lagi. Ayahku adalah seorang perokok berat dan dia meninggal karena kanker paru-paru. Merokok benar-benar membunuhnya.

Aku menyimpannya karena itu mengingatkanku akan ayahku. Tapi, setelah melihatmu, aku tahu kau sedang mengalami masa-masa sulit. Aku hanya berharap korek api ini bisa digunakan untuk hal yang lebih baik, seperti menjaga diri misalnya. Intinya kuberikan itu padamu,” ujarku dengan senyum yang tulus.

Mawar tersenyum manis padaku. Dia menatap korek api itu, lalu menggenggamnya erat-erat dalam tangannya.

Baca Juga  Tangisan Cakrawala

“Terima kasih,” gumamnya sebelum dia berjalan menuju rumahnya dengan langkah gontai.

Aku juga segera masuk ke berjalan ke rumahku. Sebelum masuk, kutolehkan kepalaku ke belakang untuk terakhir kali. Namun, pemandangan tak terduga yang justru kulihat.

Seorang pria paruh baya berkepala plontos membuka pintu rumah Mawar. Wajahnya terlihat bengis dan penuh amarah. Dia mengulurkan tangannya seolah meminta sesuatu. Namun, Mawar menggelengkan kepalanya yang justru membuat pria tersebut marah besar.

Pria itu meraba-raba tubuh Mawar dengan tidak pantas seolah memainkan permainan licik. Lalu dia menarik kasar Mawar masuk ke dalam rumah. Aku menahan napas sambil dengan cepat masuk ke dalam rumah.

Ibuku yang ternyata tertidur di ruang tengah langsung terbangun begitu mendengar bantingan pintu. Aku yang masih tidak percaya dengan apa yang kulihat masih terengah-engah di belakang pintu.

Baca Juga  Jawaban untuk Asa

“Astaga, Adam! Ada apa? Kenapa kau sampai pucat begitu?” ujar Ibuku yang ikut panik.

Aku segera menggelengkan kepalaku dengan cepat. Pemandangan tadi terus menggerogoti pikiranku. Aku segera berjalan menuju kamar mandi untuk muntah.

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihatnya, bahkan di pagi hari sekalipun. Aku belajar sedikit banyak kehidupan kelam yang dijalani orang lain. Aku hanya bisa berdoa agar Mawar bisa segera bebas dan hidup sebagai wanita biasa dengan normal. Kuharap suatu saat dia akan menemukan kebebasannya dan menjalani kehidupan yang layak sebagai seorang wanita.

Shiela Fiorencia Caroline

Alumni SMKN 1 Sungailiat tinggal di Sungailiat. Aktif menulis dan telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Tiga Menit Hening.