Bulan Ketiga Belas
Karya: Sudi Setiawan
Malam-malam sekali, Dara membangunkan Sukma–suaminya sebab perempuan itu sudah merasakan kontraksi yang sedemikian rupa. Mendengar sang istri yang kesakitan, Sukma segara membangunkan dirinya yang terkantuk-kantuk setelah seharian ini ia harus lembur tiada henti.
Sukma memapah Dara menuju motor warisan Bapak. Malam ini, jika sesuai perkiraan bidan desa yang dua Minggu lalu katakan. Dara akan melahirkan anak pertama mereka berdua. Segeralah Sukma membonceng Dara dan meminta untuk bersabar sembari menembus malam yang pekat.
Rumah bidan yang masih kosong penghuni lantas ia ketuk berkali-kali. Meneriaki siapa pun penghuni yang berada di dalamnya. Sudah sepuluh menit menunggu, tak ada satupun sahutan dari dalam rumah bidan yang hanya diterangi satu bohlam yang sudah remang-remang.
Dara sudah hampir kehabisan nafas, sesuatu yang bening mulai mengalir di antara kakinya. Sukma makin panik tatkala baginya sendiri itu adalah pemandangan pertama kali dirinya melihat pendarahan.
“Bidannya masih pulang kampung,” teriak salah satu tetangga dengan baik hati membuka rumahnya malam-malam. Mendengar itu makin tak kuasa Sukma kelimpungan. Sebab, jika tak ada bidan kampung ia mau tak mau harus menuju klinik persalinan di kota yang berjarak cukup jauh.
Dara mungkin tak begitu memperlihatkan rasa sakit yang ia alami. Sebab, Sukma tahu. Selama ini, perempuan itu berusaha untuk tetap kuat saat bersanding dengannya. Sukma memutar otak, buru-buru ia menelpon saudaranya yang memiliki kendaraan tertutup. Jika ia memaksa istrinya menaiki motor, itu sama saja mengantarkan sang istri pada rasa sakit yang teramat sakit rasanya.
“Su, tulong ku. Bini ku nek ngelaher. Kami nek ke pengkal…,” Ungkap Sukma penuh kekhawatiran. Setelah bercakap cukup lama, Sukma dan istrinya diminta untuk menunggu di dirumah dan mempersiapkan segala hal yang diperlukan. Orang yang ditelepon akan datang sesegera mungkin.
Setelah menunggu cukup lama, sosok pria yang sebelumnya dipanggil paman datang menjemput sepasang suami istri itu. Su Rahman, begitulah Sukma memanggil pamannya yang dimintai pertolongan malam ini. Su Rahman sama paniknya dengan dirinya, Sukma membopong istrinya yang sudah sempoyongan kehabisan tenaga.
*
Selama perjalanan, Dara merintih kesakitan. Raut wajahnya sangat padam dan pucat pasi penuh peluh sembari menahan sakit. Sukma menggenggam jemari Dara yang lemas, meminta sang istri untuk bertahan.
“Sukma. Kite nek ke rumah sakit mane?” tanya Su Rahman. Sebenarnya Sukma sendiri tak tahu akan pergi kemana malam itu. Sebab, dia sendiri tahu betul dengan kondisi ekonomi mereka saat ini. Persiapan persalinan mereka memang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tetapi persalinan di rumah sakit ditengah kota adalah sesuatu yang timpang dengan keadaan saat ini.
Sukma tak ingin banyak pikir, meminta Su-nya menuju rumah sakit terbaik yang ada di kota. Sembari memikirkan bagaimana nanti mereka akan membayar sisa-sisa yang perlu dilengkapi.
Ketika Dara masuk ke dalam poli bidan. Bidan yang menangani istrinya itu mendatangi Sukma yang sedari tadi menunggu di depan klinik. Ketika bidan keluar dari ruang, dengan sigap Sukma mendatanginya. “Pak, sepertinya calon bayi dalam keadaan sungsang.
Saya sudah mengecek kondisi istri Bapak dalam keadaan lemas. Kemungkinan melahirkan normal sangat sulit melihat kondisi calon bayi dan ibu dalam keadaan kritis. Sebaiknya, kita melakukan sesar, Pak,” Ungkap bidan yang dengan bahasa yang mudah dimengerti olehnya, Sukma.
Sukma mengangguk dengan berat. Selain ia tak ingin Dara lebih menahan rasa sakit. Ia akan mengusahakan yang seharusnya diusahakan. Sukma menuju administrasi. Menanyakan apa yang perlu disiapkan dan biaya penanganan operasi yang akan dilakukan kepada istrinya.
Dengan sigap para petugas menjelaskan bagaimana dan biaya keseluruhan hingga perawatan pasca melahirkan. Sukma serasa dipukul oleh hantaman yang keras mendarat di pipinya. Bahkan biaya yang dipersiapkan tak ada setengahnya dari biaya yang harus dibayarkan saat ini.
Sukma memutar otak. Jika ia menunggu tanggal gajian yang masih turun dua pekan nanti. Istrinya akan mati jika menunggunya. Ia kembali mengingat-ingat dari mana ia bisa menambah biaya.
“Bulan ketigabelas!” seketika pikiran Sukma sedikit terang. Ia ingat beberapa minggu lalu mereka merapatkan gaji di bulan ketigabelas bersama. Tapi sayangnya, belum ada kejelasan sampai detik ini mengenai gaji yang diberikan sebagai tunjangan hari raya. Sukma menelpon seseorang yang mungkin bisa membantunya.
“Selamat malam, Bu,” sapa Sukma grogi. Di balik teleponnya yang sudah berulang kali ia coba, barulah panggilan terakhir ini baru diterima. Sukma benar-benar berharap banyak dengannya. “Ada apa? Malam-malam sekali kau menelpon…,” suara serak itu menandakan ketergangguan yang sedang dialami. Lantas tanpa basa-basi yang panjang, Sukma menyampaikan keinginan untuk mengambil gaji bulan ketigabelas, sebab karena adanya biaya mendadak. Penjelasan cukup panjang dari Sukma hanya dibalas dengan sedikit omelan dari teleponnya. Sukma mengigit bibirnya sendiri.
