Bulan Ketiga Belas
“Kamu ini bagaimana si, Pak,” jawabnya, suara perempuan setengah abad itu mendikte perkataan Sukma sebelumnya. “… kan sebelumnya saya sudah bilang. Gaji bulan ketigabelas bakalan cair kalo kontrak kerja diperpanjang dan pelajaran awal semester baru. Toh sebelumnya saya jelaskan dengan detail perihal gaji bulan ketigabelas ini. Bapak ini gimana, seenaknya mau memintanya…” penuh sewot perempuan itu membicarakan Sukma.
Sukma benar-benar tak menyangka akan menerima jawaban seperti ini. Padahal menurut aturan, gaji bulan ketigabelas akan dicairkan setelah lebaran idulfitri yang mana sudah enam bulan dari sekarang. Perihal kontrak kerja-pun, Sukma juga tak berharap banyak sebab ia mendengar desas-desus di lingkungan sekolah bahwa akan ada pemberhentian oleh guru honorer.
Sukma langsung menciut. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Telepon itu ditutup dengan nada ketus dan tidak seperti yang diharapkan olehnya. Laki-laki itu mengusap-usap rambutnya sendiri. Kebingungan merajalela hinggap begitu erat. Harapan terakhir itu pupus.
Ia beranjak menuju ruang inap sang istri, menemuinya dan memintanya udah bersabar. Sebab dana yang ada belum cukup untuk menutup biaya persalinan dan operasi nanti.
Melihat kondisi semakin kritis, Su Rahman memberinya saran. “Lebih baik kau menjual motor warisan itu, Sukma,” ungkapnya laki-laki yang sudah mulai uzur. “Kasihan bini mu, tak baik menunda kelahiran bayinya. Biak kutalang dulu.”
Pikiran Sukma menjadi lebih terang. Ada harapan yang muncul ketika hatinya sudah hampir pasrah. Sukma mengiyakan perkataan Su Rahman. Ia tak masalah harus menjual kendaraan warisan bapak untuk menyelamatkan istri sekaligus anaknya. Malam itu ditutup dengan bahagia. Dara dibawa keruang operasi dan Sukma harap-harap cemas menunggu di ruang tunggu.
*
Sukma bercerita kepada Dara, bahwa ia menjual motor yang ia miliki sebelumnya untuk melancarkan hajatnya. Dara murung. Perempuan seperti merasa beban pada suaminya sendiri. Ia bahkan meminta maaf jika persalinan itu malah menambah biaya. Mendengar itu Sukma menepis perkataan istrinya.
Sebab baginya, itu sudah kewajiban suami. Lagi pula, Dara telah memberikan anak laki-laki yang tampan sepertinya. Dara terkesima mendengarnya.
Seperti hari biasa, Sukma akan pergi berpamitan untuk mengajar. Sudah kewajiban ia sebagai guru yang datang tepat sebelum jam belajar dimulai. Bersama dengan rekan sejawat, Sukma menuju kelas dan memulai jam pelajaran. Wajah semringah itu tergambar begitu jelas. Sukma membayangkan perkembangan anaknya yang makin hari semakin mendebarkan.
Tiba-tiba sirine sekolah berbunyi dari balik ruyuk pepohonan depan kelas. Sukma melihat beberapa oknum membawa kepala sekolah menuju mobil yang berlampu menyala. Sukma meminta murid untuk tetap di kelas dan berjalan menuju suara gemuruh itu.
“Ada apa?” tanya Sukma pada guru agama.
“Itu, Bu Kepsek ditangkap. Katanya penggelapan dana sekolah,” jawabnya, mengempit kedua tangannya.
“Maksudnya gimana, Pak?”
“Katanya Bu Retno kena kasus korupsi dana gaji ketigabelas dan uang gedung. Duh, mana kita belum sempat icip uang THR lagi.”
Jantung Sukma serasa copot. Baru beberapa waktu lalu ia menanyakan uang gaji ketigabelas kepada kepala sekolah itu. Hari ini ia mendapatkan kejelasan kemana uang yang seharusnya menjadi keharusan yang diterima olehnya. Sukma hanya menggeleng kepalanya yang migrain. Satu sekolah dibuat heboh dengan kasus ini. Sampai-sampai jam sekolah di percepat karena rapat dadakan akan dilaksanakan.
Sukma memilih pulang.
***
SUDI SETIAWAN, penulis kelahiran Bangka yang gemar menulis Cerita Pendek, Puisi dan Esai. Beberapa karyanya tersiar baik cetak maupun daring dan anggota komunitas literasi Kebun Kata di Kota Pangkalpinang.
Cerita pendek berjudul Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas dan Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ape Tu, Awan! (2024).
