*****

Baru sebentar Jingga tertidur, tiba-tiba saja Jingga dibangunkan dengan belaian lembut di kepalanya. Jingga yang kebingungan segera mendongakkan kepalanya hanya untuk menemukan sesuatu yang membuat jantungnya mau lepas.

Bayangkan saja kucing yang tadi siang kau ajak bermain kini mengusap kepalamu dengan salah satu kakinya layaknya manusia. Tak hanya itu, saat Jingga terjatuh dari kasurnya, Vanilla juga ikut turun dan berdiri dengan dua kaki layaknya manusia.

Jingga yang terkejut setengah mati hampir berteriak jika saja salah satu tanganya yang berbulu tidak menutupi mulutnya, “Ssst… jangan teriak. Nanti keluargamu bangun. Ini aku Vanilla-mu.”

Jingga dibuat terperangah dengan kucing di hadapannya yang kini dapat berbicara, “K-kau bisa bicara?!”

“Tentu saja! Aku bukan sekadar kucing biasa. Nama asliku sebenarnya Freya, tapi kalau kau lebih suka memanggilku Vanilla tidak masalah juga.”

Baca Juga  Mencintai dalam Diam

Kini Jingga menatap Vanilla dengan tatapan kagum. Kejadian ini sungguh luar biasa, dia tidak peduli jika dirinya bermimpi atau tidak. Apa yang ia tuliskan dalam diary-nya menjadi kenyataan. Jingga tidak peduli jika ini mimpi sekalipun.

“Ini luar biasa!” Jingga berubah menjadi sangat bersemangat.

Vanilla terkikik pelan, “Ya, kita masih berteman, kan?”

“Tentu saja, Vanilla! Menurutmu kita harus bermain lagi?”

“Ya! Kau tahu apa? Aku tahu di mana kita akan bermain sekarang! Kita bisa bermain ke tempat apapun yang kau mau.”

Mendengar itu, Jingga terlihat kebingungan, “Bagaimana caranya?”

“Mudah saja. Ayo, keluarkan bukumu!”

Mendengar itu, Jingga semakin kebingungan, namun dia tetap menuruti perkataan Vanilla.

Sembari tersenyum Vanilla menjelaskan, “Jingga, apa kau punya tempat impian yang kau harap ada, tapi di dunia ini tidak ada? Seperti dunia kue, dunia peri, atau apapun itu.”

Baca Juga  Ramadan dan Vespa Tua

“Hm… sepertinya ada. Memangnya kenapa?”

“Bagus! Kau tahu? Bukumu itu dapat mengabulkan segala keinginanmu. Jika kau menulis dunia impianmu, maka kita bisa masuk ke dunia itu untuk bermain.”

Mendengar itu, mata Jingga seketika terbelalak, “Benarkah? Tunggu, bagaimana itu bekerja?”

“Nanti kau akan tahu sendiri.”

Jingga berpikir sejenak, “Hmm… apa aku bisa pulang nanti? Aku takut Ibuku mencariku.”

“Kau bisa menentukannya sendiri nanti. Bagaimana?”

“Benarkah?! Aku mau kalau begitu!”

“Yah, tulis saja di buku ini ke manapun kau mau pergi. Aku akan pendampingmu.”

Kemudian, Jingga segera menulis dunia imajinasinya. Dunia di mana dia tinggal bersama hewan-hewan yang lucu dan baik hati. Dunia di mana mereka bisa hidup bebas dan mereka tidak membunuh satu sama lain. Dunia di mana dia bisa memilih hewan apapun yang bisa ia ajak bermain.

Baca Juga  Isyarat

Setelah selesai menulis, Jingga meletakkan buku itu di atas meja belajarnya. Vanilla memintanya menunggu hingga keajaiban terjadi. Tak berselang lama, buku itu mengeluarkan cahaya kekuningan. Awalnya hanya cahaya kecil, namun semakin lama cahaya itu semakin besar, membentuk sebuah portal.

Jingga kecil bahkan sampai terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Jiwa polosnya mengatakan bahwa ini adalah keajaiban dan dia tidak sabar menceritakan semua ini kepada orang tua dan kakak-kakaknya.

Vanilla memegang tangan Jingga sambil berkata, “Pegang tanganku, Jingga. Kita akan segera masuk ke sana sebelum portalnya tertutup.”

Jingga memegang erat tangan Vanilla. Lalu dalam hitungan ketiga, mereka segera melompat masuk ke dalam buku diary tersebut. Dengan itu, petualangan Jingga pun dimulai.

Bersambung….

Sheila Fiorencia Caroline, Alumnus SMKN 1 Sungailiat. Aktif menulis dan telah menerbitkan buku cerpen “Tiga Menit Hening”