Oleh: Yan Megawandi

 Ada beberapa hal yang menggelitik Ketika mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) di Pangkalpinang belum lama ini. Misalnya saja bagaimana kekuatan film bisa membuat pertahanan negara sekuat Amerika Serikat bisa jebol.

Bagaimana pula negara nampaknya masih belum merasakan bahwa keterlambatan membuat payung hukum untuk melindungi jutaan anak-anak muda akan berakibat besar. Atau ternyata cukup banyak anak-anak di Bangka Belitung yang sebenarnya punya minat dan talenta di bidang perfilman.

Pengaruh Film

Terkadang kita memang tak memperhatikan kekuatan film. Bagaimana misalnya film Laskar Pelangi berhasil menyadarkan kita bahwa pariwisata ternyata bisa diangkat dan dipromosikan melalui film. Manfaatnya sangat dirasakan oleh Bangka Belitung di era 2008 itu.

Baca Juga  Pasal Sapu Jagat IKN: Pembangunan Jangan Menginjak Hukum

Film yang diangkat dari novel anak melayu Belitong, Andrea Hirata tersebut berhasil mencetak penonton film terbanyak di masanya. Film Laskar Pelangi memegang rekor penonton terbanyak yaitu sebanyak 6,8 juta penonton selama delapan tahun. Di tahun 2016 barulah film Warkop DKI Reborn berhasil menggesernya.

Hal lain misalnya saja bagaimana film tentang G30S PKI yang selalu menimbulkan pro kontra di setiap akhir September di negeri ini. Sebagai produk pemerintah orde baru, film ini sering dianggap bagian dari indoktrinasi dan anjuran bagaimana konsep bernegara dan berbangsa di masa orde itu mesti dilanggengkan.

Walaupun tak sedikit pula yang menganggap film tersebut adalah symbol yang seharusnya dihidupkan selalu yaitu: tak ada tempat bagi faham komunis hidup di negeri ini dan jalan kekerasan tak selalu menjadi solusi memperbaiki negeri. Lalu kita bisa saja berdiskusi panjang lebar mengenai hal-hal itu.

Baca Juga  Selamat Datang Wakil Rakyat, Selamat Memperjuangkan Suara Rakyat

Saya mencoba menelusuri bagaimana kekuatan film dengan membaca hasil penelitian yang ditulis oleh Muhammad Suardi Ihsan (2021). Judulnya: Pengaruh Film Sebagai Strategi Soft War Iran Terhadap Kapabilitas Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Atas Iran. Ini kesimpulanya.

Pertama, dari segi legitimasi, strategi soft war Iran menggunakan film mempu menghadirkan nilai-nilai budaya menarik sehingga kebijakan luar negeri Amerika Serikat tidak mendapatkan legitimasi.

Kedua, dari dimensi pandangan Internasional, Film Iran mampu memberikan padangan yang bersifat budaya dan religius yang dengan mudah diterima sehingga meningkatkan citranya, di lain sisi kebijakan Amerika Serikat tidak dapat memperlihatkan pandangan yang rasional kepada mitra Internasionalnya.

Ketiga, dimensi jaringan transnasional, karena ketidak mampuan Amerika Serikat mendapatkan legitimasi dalam skala internal serta tidak mampu memberikan pandangan yang diterima dalam sistem Internasional, sehingga tidak mendapatkan aliansi Internasional yang mendukung kebijakan luar negerinya terhadap Iran.

Baca Juga  Bangka Belitung: Negeri Lada yang Tergadai Timah dan Sawit

Anda kemudian bisa pula menambahkan bagaimana film-film Korea merasuki benak para penonton kita di tanah air. Drama Korea beserta artisnya seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. KPop merasuki rumah kita.