“Putraku kian tak berbakti. Setelah tahu tanganku terluka, pergilah dia mencari sebuah buku untuk merawat luka. Aku sudah senang terlalu awal. Hanya untuk mengetahui bahwa buku itu bukan untuknya belajar merawatku, namun itu untukku. Kemudian ia pergi jauh dan lama sekali. Aku tak tahu lagi apa yang harus diharapkan darinya. Tak ada kepedulian dalam hatinya. Aku merawat luka itu sendiri berdasarkan buku itu. Sampai lukanya setengah sembuh, barulah putra tak berbakti itu kembali dengan obat luka yang bahannya amat susah dicari. Tapi itu sudah terlambat bagiku. Masa-masa penting luka itu telah lewat, namun aku tak ingin membuang obat yang bagus itu. Apa salahnya jika dipakai? Bukankah begitu?” Wanita itu membeberkan keluhannya yang lama.

Anak muda itu kembali mengerutkan dahinya. Pikirnya, ada yang salah dengan cerita wanita tua ini. Ada yang hilang. Namun, tak mengurangi kesopanannya, ia berterimakasih dan berpamitan dengan wanita tua itu. Tatkala hujan sudah selesai bertamu di bumi.

Itu adalah hari terakhir masa belajar anak muda itu. Sepanjang jalan ia memikirkan semua kejadian yang ada di hadapannya. Masalah sepele yang jarang dipikirkan juga harus dipikirkannya. Rakyatnya juga tanggung jawabnya. Tak luput dari pikirannya tentang wanita tua dan wanita renta yang ditemuinya.

Baca Juga  Pulau Bangkai

Sebagaimana takdir, sebuah luka di tangan membuka dan menutup perjalanannya. Is tak dapat lagi menunggu esok untuk membahas kisah ini dengan penasihat dan para punggawanya. Mensejajarkan pikiran dan mengetahui yang baru.

Maka sampailah anak muda itu kembali ke singgasananya. Duduklah ia dengan segala pikirannya. Lantas setelah semuanya dikumpulkan. Mulailah ia bercerita dan bertanya pada punggawanya. Ketika sampai pada permasalah luka tangan itu, punggawanya kian terdiam sambil berpikir.

Kisah kali ini terlalu mudah dimengerti, lantas sampai ditanyakan oleh anak muda mereka. Pastilah ada maksudnya. Kalau-kalau kepala mereka lepas oleh menyinggung pemikiran anak muda itu, maka mereka terdiam dengan pikiran yang bekerja lembur merangkai kalimat bijak. Namun belum sudah mereka berpikir, orang berilmu yang menemani anak mudanya berkelana itu mulai unjuk diri. Dengan lihai ia mengkaji masalah nya.

Baca Juga  Senja Terakhir Belle

Betapa salih putra wanita renta itu hingga ibunya tak menyentuh lukanya sama sekali. Dan betapa tak masuk akalnya putra wanita tua itu untuk meninggalkan wanita tua untuk mengurus lukanya sendiri.

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Lantas sekian lama terdiam, ia angkat bicara.

“Kau salah.” Lalu dia terdiam lagi. Matanya menerawang melewati waktu itu. Kembali menatap pada punggawanya yang masih menundukkan pandangan. Berpikir dengan syahdu maksud pemimpinnya. Kemudian menatap orang berilmu yang bingung di tempatnya. Yang kemudian berhasil mengumpulkan nyawa untuk mempertanyakan penilaian anak mudanya.

Anak muda itu menatap orang berilmu itu.

“Kamu salah. Wanita tua dengan bekas luka itulah yang mendapatkan putra yang berbakti. Dan wanita dengan luka kian memburuk itulah yang mendapatkan putra yang buta oleh bakti. Mereka yang buta oleh bakti tidak menyiapkan dan mengamankan masa depan orang yang dicintainya ketika dia tiada. Dan hanya memikirkan dirinya yang berbakti saat ini. Sementara putra wanita tua dengan bekas luka itu berbakti dengan hatinya sendiri. Mereka yang berbakti dengan hatinya tahu untuk membekali orang yang disayanginya agar tetap aman dan nyaman saat dia tiada.”

Baca Juga  Gelap Terang

“Dia tetap mencari obat terbaik untuk luka itu setelah meninggalkan ilmu untuk ibunya merawat luka. Putra wanita tua itu tahu untuk memikirkan keadaan ibunya. Is tak ingin ibunya terbiasa bergantung pada selain dirinya. Bagaimanapun juga, bergantung pada orang, orang akan lari, dan bersender pada gunung, gunung akan runtuh. Hanya pada diri sendiri kamu dapat bertahan dengan baik. Putra itu bahkan tidak peduli dengan reputasinya yang kotor oleh usaha baiknya yang tidak diperhitungkan. Namun ia rela hanya demi kehidupan ibunya yang lebih baik. Walau ibunya sendiri menganggapnya tak berbakti.”

Lantas ruang tahta itu beku dalam ruang dan waktu hening. Mempertahankan setiap insan yang baru tercerahkan oleh titik buta yang baru. Dan posisi anak muda kian tinggi dalam hati punggawa itu.

Penulis merupakan mahasiswi Universitas Bangka Belitung.