HPN, Tarman Azzam dan Integritas
Bang Tarman cuma tersenyum. Dan berusaha menghindar dari penulis. Dan pertanyaan penulis yang waktu itu berstatus sebagai jurnalis SKM Bangka Express hanya dijawab dengan kalimat pendek no komen.
“Tidak ada komentar untuk pertanyaan itu,” ujarnya tersenyum.
Penulis terus menerus mengajukan pertanyaan itu. Bang Tarman menghindar hingga akhirnya masuk ke dalam mobil.
“Ayo buat sejarah Bang. Wartawan pertama yang menjadi Gubernur,” ujar penulis. Bang Tarman cuma tersenyum dari dalam mobil dan menyalami penulis.
Tahun 2004, saat penulis dikirim PT Koba Tin mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik intensif di LPDS (Lembaga Pendidikan Pers DR. Soetomo) Kebon Sirih Jakarta, penulis kembali bertemu dengan koordinator wartawan istana itu.
Maklumlah Kantor PWI Pusat berada di Gedung Dewan Pers itu satu gedung dengan LPDS. Cuma beda lantai saja.
Saat ketemu di parkiran, Ketua PWI Pusat itu langsung menyapa.
” Orang Habang,” ujarnya.
Setelah ngobrol ringan, kami berjanji untuk makan siang di warung yang berada di sekitar Gedung Dewan Pers itu.
Dan sekitar jam 12-an siang, kami bertemu di salah satu warung makan yang berada di sekitar Gedung Dewan Pers.
Ini adalah pertemuan terlama dengan Bang Tarman Azzam. Hampir satu jam sehingga saat pertemuan di LPDS, penulis masuk terlambat.
Banyak pengetahuan yang penulis dapatkan. Banyak nutrisi yang penulis peroleh tentunya. Satu narasi yang masih terngiang hingga kini dalam otak penulis. “Jaga integritas,” petuahnya.
Integritas seorang seorang Tarman Azzam membuatnya disegani para jurnalis Indonesia.
Pernah memimpin PWI Pusat dua periode bukan sesuatu yang gampang.
Rekor dua periode dulu hanya pernah dipegang oleh Harmoko, namun yang bersangkutan tidak sampai selesai karena diangkat sebagai Menteri Penerangan RI di era Orde Baru.
Andai saja AD/ART organisasi tak membatasi ketua umum hanya boleh dipilih dua kali, tidak mustahil Tarman masih akan terpilih untuk periode berikutnya.
Kepemimpinan yang mengesankan dari pria sederhana tapi energik itu selama menakhodai organisasi, cukup menjelaskan mengapa banyak anggota PWI yang amat berat melepas dia lengser sebagaimana yang diungkapkan wartawan senior Ilham Bintang.
Selamat Hari Pers Nasional. Al Fatihah untuk Bang Tarman Azzam dan para senior wartawan Bangka Belitung dan untuk Bang Don.
